Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Aku - Kamu

  • Senin, 16 April 2012
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Kutuang ini hatiku ke dalam
    Mangkuk kalbumu
    Kulihat wajahku pada cermin
    Matamu

        Aku bukan kau
        Walau dasar telaga kita satu

    Taf.Ar.Shade.1984

    Bercak Pelangi

  • Senin, 09 April 2012
  • rani nuralam
  • Label: ,

  • Banyak orang buta waktu tumbuhan itu dipanggil kersen sebab pohon itu lazimnya dikenal dengan nama pohon ceri. Nama ilmiahnya adalah Muntingia calabura L. Gampang tumbuhnya. Tak perlu perawatan khusus dan banyak berdiri di pinggiran jalan sebagai penaung pedagang – pedagang kaki lima atau jadi pangkalan ojeg.

    Aku tak tahu sejak kapan pohon ceri itu tumbuh di depan rumah. Tahu – tahu pohon itu telah bertambah tinggi dan kokoh. Tak ada anak – anak yang mengerumuninya meskipun buah – buahnya yang mungil itu telah meranum, seolah ceri itu tak lagi lezat atau nampak menarik. Namun, pohon ceri di depan rumah kami yang dulu itu terkesan meneduhi.

    Di hari – hari minggu pagi aku senantiasa memanjat dan bertengger di dahannya yang kuat. Aku sudah kelas lima SD. Aku sudah besar jadi tak ada keraguan saat naik ke atas pohon dan beraktivitas di sana. Ada saja yang bisa dilakukan. Aku memang tak pernah berlama – lama bila sudah sampai di atas karena kadangkala aku hanya ingin menghabiskan sekantung kecil kacang kulit sisa suguhan pada turnamen bridge mingguan para bapak kompleks kami semalam atau cuma berniat mengulum sebuah permen sambil menyanyikan lagu anak dan/atau daerah yang lagi hits di TVRI, tapi tentu saja, kerap kali naik ke atas pohon itu dengan niat memetiki ceri – ceri masak dan menikmatinya.

    Selagi nangkring di situ terkadang anganku turut melayang. Membayangkan suatu saat akan punya rumah pohon, terpengaruh karya Enid Blyton kelihatannya. Begitulah kalau kebanyakan baca petualangan anak – anak karya penulis itu. Cerita tentang anak – anak nekad menantang bahaya seperti dalam Lima Sekawan. Kubayangkan pula rawa kecil di seberang rumah adalah telaga jernih dan suci.  Benar, airnya relatif jernih, tanpa kontaminasi limbah rumah tangga, meskipun pada kenyataannya pada waktu – waktu tertentu rawa itu sering terlihat misterius dan seram. Isinya ikan bethok, ikan sepat, lintah, kodok, dan konon ada ularnya pula. Pemandangan dari ketinggian dapat melambungkan khayalan ke mana – mana, dan ditarik ke segala arah, struktur dan geografis rumah kami seolah sedang kudekatkan ke dalam latar cerita rekaan.

    Hingga tibalah suatu ketika di hari minggu, selagi menerawang ke mana gerangan ceri – ceri ranum bersembunyi di antara dedaunan itu, terdengar suara bapak, “Rani! Rani! Turun!”

    Bapak terlihat berdiri di beranda bersama temannya. Om itu tetangga kami, dan teman main catur bapak. Aku dengar bagaimana si om menghasut bapak terus – menerus. “Pamali atuh, anak gadis manjat – manjat pohon. ”

    Aku sama sekali tidak mengerti mengapa larangan itu perlu diberlakukan. Seharusnya mereka tidak muncul. Suasana rumah pada saat seperti itu biasa senyap tanpa sebatang hidung siapa pun. Kuhayati setiap cahaya hangat keemasan yang menelisik berkilauan dari balik pepohonan. Gangguan itu membuyarkan kesenanganku, tapi aku tak berani membantah, dan perintah itu pun tak perlu dikeluarkan dua kali. Kubiarkan tubuhku merosot ke tanah tanpa berani bertanya mengapa.

    Pada hari yang sama tujuh hari kemudian,  pohon ceriku sudah berbaring tak berdaya melintang di jalan. Bapak menyuruh orang menebang pohon itu.

    Aku tak hendak mengambil ceri – ceri merah yang begitu mudah dipetik.

    *

    Setelah kejadian itu, tak ada lagi pohon yang cocok jadi tempat bersenang – senang. Tapi, sebuah tangga yang menjulur ke atap tersangga di samping rumah. Bila petang menjelang, dengan sigap atap berhasil kudaki melalui tangga kayu itu. Di atas genting aku duduk – duduk saja. Lihat pemandangan di langit. Waktu musim layangan, angkasa dipenuhi layang - layang. Nonton adu layangan memang tak seasyik bila memainkannya sendiri. Burung gereja sekali waktu melintas dan kubertanya – tanya dalam hati hendak kemanakah ia? Pesawat terbang terlihat tinggi dan menjauh. Aku senang berada di tempat itu. Langit terlihat indah. Pemandangannya tak pernah membosankan. Terasa damai, seolah tak ada oksigen. Tapi kesenangan itu juga sebentar saja. Di suatu sore ibu berseru, “Rani! Rani! Turun! Nanti genting bocor!”

    Dan pada hari berikutnya tak ada tangga yang menyangga di samping rumah.

    *

    Harus cukup umur untuk mengerti kata ‘bengal’ sehingga dapat dimengerti mengapa bapak dan ibu melarangku berada di tempat yang berbahaya. Merunut jauh sebelum kejadian – kejadian itu timbul (saat aku kelas satu SD) adalah pelajaran buat mereka untuk mengawasiku lebih ketat.

    Bermain hujan tak pernah membuatku jatuh sakit. Bila ijin bermain hujan dikabulkan maka jadi sebuah privilege tak terperi. Berhujan – hujanan membuatku lupa sekeliling. Sampai tak terasa kakiku tergores seng dan terluka. Aku tak pernah punya luka sebesar itu. Darahnya mengucur merah dan deras. Tapi aku tak menangis. Aku tak merasa sakit. Aku hanya takut bapak dan ibu akan memarahiku karena kakiku terluka.  Aku tak ingin mereka tahu lukaku meskipun pada akhirnya luka itu terlihat mereka.

    Setelah dimarahi lantaran tak mau mengaku penyebab luka itu barulah kusadari perihnya. Mereka bilang akan membawaku ke praktek dokter malam itu, sementara itu aku harus berbaring di kamar. Toh, biar ditegur keras, aku diselimuti. Dimanja. Tempat tidur berkelambu itu terasa nyaman sekali. Kasur pun sejuk.

    Teman – teman yang datang begitu hujan reda sore itu mengintip dari jendela. Mereka hendak mengajakku bermain. Lalu menanyakan, bagaimana keadaanku. Kami bicara tersekat jendela. Aku bilang belum dapat bermain sore itu. Bila sudah sembuh aku  akan pergi cari pelangi jatuh bersama mereka. Pelangi jatuh adalah bercak oli di jalan beraspal yang membentuk warna – warna pelangi begitu terkena air. Kami suka itu, bercak pelangi.
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint