Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Lebaran 1438 H

  • Senin, 12 Juni 2017
  • rani nuralam
  • Label: ,



  • Nelson Mandela

    Nelson Mandela  dipenjara selama 27 tahun oleh lawan politiknya. Di dalam penjara oleh salah seorang sipir dia sering disiksa, bahkan pernah digantung dengan kepala terbalik dan dikencingi. Namun dia hanya berkata, "Tunggu saatnya."

    Ketika Mandela keluar dari penjara dan kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan, hal pertama yang dia lakukan adalah meminta pengawal pribadinya untuk mencari sipir tersebut. Pengawalnya langsung menangkap dan membawa sipir itu ke hadapannya.

    Sipir tersebut sangat ketakutan; ia mengira Mandela akan membalas dendam dengan menyiksa dan memenjarakannya. Namun ternyata Nelson malah merangkul dan berkata, "Hal pertama yang ingin saya lakukan ketika menjadi Presiden adalah mengampunimu." 

    Dia tidak dikuasai oleh kebencian atau niat untuk balas dendam terhadap lawan - lawan politiknya dulu, dengan memenjarakan sipir yang dulu menghina dan menyiksa dirinya. Mandela mengajarkan bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih.  

    Apa yg akan kita lakukan ketika kita sudah begitu dilukai oleh seseorang dan kini kita memiliki kesempatan utk membalas dendam? Maukah kita memaafkan kesalahan orang tersebut ? Seberapa luas dan lapang ukuran hati kita?

    Dalam sebuah buku tentang  pengampunan dikatakan : memaafkan memang tidak bisa mengubah apa yg sdh terjadi di masa lalu, namun akan melapangkan jalan kita ke masa depan.

    Salah satu indikator seorang yang bertakwa adalah : dapat memaafkan kesalahan orang lain (Q.S. Ali Imran : 133 - 135).

    Kebencian dan sikap tidak mau mengampuni sebenarnya sedang menutup jalan untuk masa depan kita sendiri, dan menutup pintu keberkahan kita.

    Sesungguhnya, memaafkan kesalahan orang lain adalah hadiah terbaik yg bisa kita berikan pada diri kita sendiri.

    Negative mind will never give you  positive life. 
    Love and forgive your enemy, and your life will be free.

    "Selamat menjalankan ibadah puasa ."
    Semoga kita dapat mengawalinya dengan memaafkan sesama untuk menyucikan jiwa kita ... 💖


    Teman Saya

    Siapa yang tak suka tulisan bagus? Tulisan yang itu saking bermaknanya sampai bikin saya merinding. Tak tahu siapa penulisnya. Pertama kali saya baca dari postingan di sebuah grup wa. Padahal mau saya acungi jempol buatnya.

    Bukan apa - apa, itu karena saya jadi teringat seorang teman.  Waktu ia meninggalkan tempat kerjanya yang lama, ia keluar dalam keadaan muak dan geram. Lebih dari seminggu ia berusaha menenangkan diri menerima keadaan bahwa dirinya difitnah.

    Dari ceritanya, pelakunya iri karena ia mendapat kemudahan dalam pekerjaan dengan benefit yang sama. Ia memang tak dikencingi  atau digantung dalam keadaan kepala terbalik seperti Nelson Mandela. Tak ada kekerasan fisik, tetapi sebaliknya. Pelaku berupaya mengecilkan teman saya secara verbal. Satu dua kali berhasil dipatahkan, karena teman saya mengutarakan argumentasi berdasarkan fakta, tak dibuat – buat. Tapi tingkah si pelaku makin kekanak - kanakan. Bahasa tubuhnya bikin orang ingin mencekiknya. Ia pasang aksi mendiamkan teman saya. Bila dihadapan teman saya, ia akan langsung membeku.

    Tetapi, kalau baru begitu, tentu saja tak lantas melunturkan semangat teman saya bekerja. Teman saya tetap menjaga wibawa sebagai orang yang digugu dan ditiru dan profesionalme dalam bekerja.

    Saya bisa membayangkan pelakunya pasti tersiksa menyimpan dendam.  Pelaku tak terima kekalahan,  kekejaman si pelaku dialihkan kepada anak – anak yang dicintainya.  Si pelaku mengondisikan rekan kerja mereka agar membenci dan mengucilkan anak – anaknya. Menilik latar belakang pendidikan si pelaku yang memiliki bekal psikologi, tentu saja mudah baginya mengintimidasi orang lain : ia tandai kelemahan teman saya (rapuh karena mencintai anak – anak) dan membisikkan hasutan kepada rekan sejawat agar beramai – ramai menafikan teman saya seolah ia tak ada di dunia ini.  

    Lantas, bagaimana membuktikan sebuah agitasi? Ke mana harus mengadu? Sebuah dinding tebal tiba - tiba mencuat dari permukaan bumi! Nihil! Semua kepedihan yang sudah terakumulasi membuat wajahnya berubah mendung. Satu – satunya jalan melindungi anak – anaknya adalah mengikuti permainan pelaku. Angkat kaki! Pergi! Mengalihkan passion-nya terhadap bidang tersebut di tempat lain dengan berat hati.

    *

    Ia sudah berpikir cara melanjutkan hidup adalah mengikhlaskan semua yang terjadi. Tak mendapat gaji terakhir, tak mengapa! Kehilangan kasih sayang anak – anak, tak mengapa! Tak menginjakkan kaki lagi di sana, sangat tak mengapa!

    Sangat disayangkan ia tak melakukan pembelaan terhadap diri sendiri atau pun perlawanan. Yah, saya tahu bagaimana wataknya (sambil menghela napas). Ia bukan orang seperti itu. Kalau pun ia hendak membalas, tentu dengan caranya. Barangkali meniru Nelson Mandela dan ia akan berkata, “Tunggu saatnya!”

    Sekarang saya perhatikan, ceritanya tak lagi berapi – api. Menurutnya bagian dari upayanya memaafkan si psikopat dan kroni – kroninya adalah tak menjumpai mereka. Hidupnya damai dan pekerjaan barunya menggeliatkan kembali semangatnya.

    Tetapi bagian anehnya, tiba – tiba setelah sekian lama berlalu, anak – anaknya muncul kembali dalam kehidupan teman saya itu. Perasaannya jungkat – jungkit. Di dalam hatinya, pernah timbul ketakutan kehilangan anak – anaknya. Takut bilamana mereka ikut terhasut dan membencinya.  Takdir berkata lain. La haula wala quwata illa billah. Mereka datang dengan dengan keceriaan dan kebahagiaan yang menular. Mereka juga datang dengan permintaan khusus, yakni mengundang teman  saya menjenguk mereka ke sana! Ke tempat itu!

    Ia bungkam seribu bahasa di hadapan mereka. Mereka memang tak tahu apa – apa. Mereka tak tahu ekses undangan itu adalah bahwa ia harus menginjakkan kaki di sana! Bertemu si psikopat! Memberinya seuntai senyuman!

    Entah apa yang dipikirkankan. Pasti demi menyenangkan hati mereka, ia (malah) mengiyakan. Saya hanya bisa menepuk dahi mendengar itu. Gregetan. Kini ia terlibat hutang yang harus dibayar!

    Teman saya tercenung. Kami merenung.

    Ia bilang tak apa – apa. 

    Saya juga diam.

    Yang saya tahu tentangnya, ia orang yang menepati janji. Jika tiba waktu yang tepat, Insya Allah, teman saya akan bertandang. Semoga Allah melindunginya. Andai ini yang terbaik, semoga langkah kakinya diringankan. Semoga afeksinya terhadap anak – anaknya dan respek anak – anak padanya jadi jalan keluarnya buat hidupnya lebih berkah. Membentangkan jalan hidupnya agar berjalan lebih jauh.

    Selamat lebaran. Idul Fitri 1438 H. (R)

    AKU BERKISAR ANTARA MEREKA

  • Sabtu, 10 Juni 2017
  • rani nuralam
  • Label: ,



  • Karya Chairil Anwar



    Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
    Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata

    pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
    kenyataan-kenyataan yang didapatnya.
    (bioskop Capitol putar film Amerika,
    lagu-lagu baru irama mereka berdansa)
    Kami pulang tidak kena apa-apa
    Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga
    Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota
    Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.
    Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji
    juga
    Sendarkan tulang belulang pada lampu jalan saja,
    Sedang tahun gempita terus berkata.
    Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.
    Ah hati mati dalam malam ada doa
    Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta
    mereka
    Semoga segala sypilis dan segala kusta
    (Sedikit lagi bertambah cerita bom atom pula)
    Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama
    Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa
    Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku
    pula.

    1949
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint