Jumat, 10 Juli 2026

SETAHUN SETELAH IBU PERGI




BAGIAN  1

Pagi itu Kamis,10 Juli 2025 ibu merengek minta diantar ke instalasi gawat darurat (IGD), padahal besannya masih di rumah. Besannya adalah orang tua dari menantunya yang paling muda.  Mereka sebenarnya sudah siap berangkat pulang ke Bandung. Aku berusaha menahan niat ibuku karena atas nama kesopanan kupikir baiknya kami mengantar keberangkat mereka terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ke rumah sakit. Tetapi, situasinya tidak sesederhana itu. 

Aku lihat ibu mengemasi sendiri baju salinnya dan ia bersikukuh segera berangkat ke rumah sakit. Kulihat wajahnya sudah pucat. Sangat pucat. Ibuku selama ini tak pernah mengeluh. Ibu takkan pernah bersuara bila tubuhnya tak sesakit itu. Akhirnya aku turut mendesak adikku mengantar ibu. Si bungsu mengantar ibu ke rumah sakit, sementara besannya dengan legowo naik grabcar ke terminal. Mereka berangkat terpisah.

Usai shalat zuhur giliranku menjaga ibu. Begitu melihat ibu terbaring lunglai di ranjang IGD, kakiku lemas. Aku tak pernah lihat ibu tak berdaya seperti itu. Kurasakan pandanganku kabut akibat genangan air di mataku. IMau rasanya kunafikan penglihatanku itu! Mau rasanya kabur saja seolah - olah ibuku dalam keadaan aman terkendali. Tapi aku menguatkan diri dan berkata dalam hati bahwa ibu sakit. Ia perlu dukunganku.

Kusapa ibu nyaris berbisik. Kuucapkan salam. Kutanyakan keadaannya. Tapi ia tak bicara apapun. Ibu hanya diam, tapi aku tahu ibu tidak tidur.

Kusadari suhu terlalu dingin di ruangan itu. Ibu pasti kedinginan, batinku. Tapi tak ada selimut. Kakinya pun terasa dingin.  Aku hanya bisa menggosok-gosok lengan ibuku lembuat, dan kuhangatkan tubuhnya dengan jaket. Kukenakan kaos kaki yang tadi kubawa dari rumah.

Sesungguhnya ruang rawat inap buat ibu sudah siap. Tapi perawat IGD menunggu obat ibu dari farmasi dan hal itu menyita waktu cukup lama. Belum lagi pergantian jadwal tenaga kesehatan di situ pada pukul dua siang jadilah proses kepindahan ke ruang rawat inap bertambah lama. 

Selama menunggu ada saja drama pasien-dokter-perawat di luar bilik. Suara mereka terdengar jelas. Aku tak ambil pusing dan hanya fokus pada ibu. Sejak kedatangannya, ibu sudah melakukan beberapa tes seperti rontgent, urine, tes darah, dan EKG.  Wajah ibu terlihat tenang tanpa ekspresi kesakitan. Matanya masih terpejam. Sepertinya ia tidak terganggu dengan "huru-hara" barusan.

Aku bantu ibu mendirikan Shalat Dzuhur dan Shalat Asar dalam dua waktu terpisah. Meskipun dengan mata terpejam, ibu menurut. Kubimbing ibu bertayamum. Kubantu tubuhnya ke posisi terlentang pelan-pelan. Allah Maha Mengetahui semoga berkenan menerima shalatnya yang dalam situasi terbatas itu.  

Aku memperhatikan gerakan ibu memulai shalatnya. Dalam posisi berbaring tangannya mengayun ke samping telinga. Lanjut menyedekapkan tangannya. Lalu, mengayunkan lagi tangannya ke arah telinga dengan lemah. Setelah itu, meletakkan tangannya di samping tubuh. Aku mengawasinya dalam diam. Membiarkannya beribadah sedapatnya. Setelah beberapa saat, akhirnya ibu mengucapkan salam dengan lirih sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Tanda shalat telah rampung. 

Kemudian, muncullah Dokter IGD, seorang perempuan muda entah siapa namanya. Ia menanyakan data ibu, tapi ibu tidak menjawab. Eh! Dokter itu membentak ibuku! Astaghfirullah. Hatiku tersayat. Ada dorongan untuk melayangkan tinju ke muka dokter itu, tapi kubelenggu gemuruh emosiku dalam-dalam. Lantas, kujawab pertanyaan untuk ibu dengan suara tertahan dan mengatakan ibu tidak bisa menjawab. Ada keheningan sesaat setelah kukatakan itu. Selanjutnya dalam keremangan bilik IGD ibu itu, kudengar ia membaca hasil EKG. Ia menyeletuk dengan ketus, "Hasilnya jelek!" Dan sekali lagi dokter muda itu bertanya dengan nada keras, apakah ibuku merasa sesak napas atau nyeri di dada. Dengan lirih ibuku akhirnya bersuara. Ibu bilang tidak. Ibu tidak merasakan gejala itu. Respon dokter itu seperti bukan seorang dokter yang welas asih atau berperasaan seperti orang kebanyakan sekalipun. Ia bilang, "Ya sudah! ... ." Dadaku terajam. Drama yang sangat menyakitkan. Sebuah pertemuan singkat. Kurang dari 10 menit yang sangat melukai hati kami.

Mereka tidak melakukan apa-apa lagi pada ibuku. Kami hanya menunggu kode dari siapapun bahwa ibu siap masuk kamar rawat inap. Di antara penantian itu, kukabarkan kondisi ibu pada suamiku yang berada nun jauh di sana. Kami hanya bicara sebentar karena pada saat berteleponan aku terpaksa meninggalkan ibu sendiri dan bicara di luar IGD. Suamiku minta agar sering - sering diberi perkembangan ibu. Katanya ia akan mendoakan ibu dari sana. 

Aku telat melaksanakan shalat Ashar.  Sekitar pukul setengah lima suster jaga mengabarkan ibu akan diantar ke kamarnya. Obat dari Dokter spesialis penyakit dalam yang takkan visit karena sudah selesai praktik hari itu sudah di tangannya. Dengan nada berenergi tanpa kesan menghina, suster bertanya apakah ibu ingin menggunakan tempat tidur atau kursi roda ke kamar. Ibu bilang, "Kursi roda."

Begitu kursi rodanya tiba, ibu langsung melompat dari tempat tidur hendak menduduki kursinya. Aku terkejut. Ibu terlalu cekatan untuk orang yang sedang sakit. Ibu malah seolah-olah seperti orang sehat. "Pelan-pelan, Mbah!" ujarku telat. Ibu sudah duduk di kursinya! Buru-buru kupasangkan sandalnya. Setelah itu, ia pun segera didorong ke kamarnya. Kami keluar IGD, masuk lift menuju lantai tiga, dan masuk di ruang rawat inap kelas satu. 

Di ruang itu sudah ada pasien lain. Kami mengobrol sebentar-sebentar, lalu aku kembali mengurusi ibu. Aku mengatur bantalnya, melebarkan selimutnya, menanyakan apapun keinginannya yang akan menyamankannya. Ibu tidak berkomentar apapun. Yah, begitulah ibuku yang pendiam dan tak pernah mengeluh.  

*
Perawat, dokter ruangan dan sebaki penuh makanan datang silih berganti untuk ibu baik karena sudah SOP maupun ketika kupanggil via tombol pemanggil. Ibu sudah salin daster. Ibu berkenan makan yang disediakan katering rumah sakit. Tidak banyak. Paling tiga sendok makan orang normal. Selesai makan, ibu mengajak, "Yuk, turun!"  

Aku tergelitik. Ujarku, "Mbah uti di sini dulu ya, sampai sehat." Ibu langsung membalikkan tubuhnya membelakangiku seperti anak kecil setelah aku berkata demikian.

Aku tertawa kecil. Ibu lucu sekali seperti anak kecil merajuk. Aku menyelubungi tubuhnya dengan selimut. Ibu sepertinya hendak melanjutkan istirahatnya. Di rumah ibu kami panggil Mbah Uti.

Tapi, tiba - tiba ia pindah posisi. Ia bergerak menuju bagian kaki kasur, jadi posisi ia melenakan kepalanya. Demikian dilakukannya setidaknya tiga kali bolak-balik. Aku tak melarang, hanya mengingatkan selang infus akan copot bila tak sengaja tertarik ibu. Ibu kelihatan resah. Aku pikir ibu sedang menahan sakit jadi aku membiarkan hatinya menggerakan tubuhnya. Akhirnya ibu menempati posisi kasur yang benar.  Ibu memunggungiku. Aku kira ibu sudah tenang dan siap tidur. Aku setel murotal Al Matsurat Petang dari YouTube.

Akan tetapi sedetik kemudian ibu bilang hendak ke kamar mandi. Baiklah kuturuti dengan sabar. Kumatikan YouTube. Ibu buang air kecil dan minta diambilkan sikat gigi. Darah mulai bercampur di selang infus karena ia menggunakan tangan kanan di mana tertancap infus. Aku kesal ibu sembrono, tapi sekaligus khawatir. Aku pilih mendiamkan saja. Kurang dari tiga menit semua sudah tuntas. Aku tak mau ibu marah kalau aku mencerewetinya terus. Begitu kami keluar kamar mandi aku lihat suami pasien sebelah menengok ke kanan dan kiri tasyahud akhir pada shalat Maghrib.

Ibu pun kelihatan lebih baik setelah ambil air wudhu. Ia kembali ke kasurnya dan kembali memejamkan mata. Alih-alih mengingatkan ibu agar menunaikan shalat Maghrib, aku biarkan ia beristirahat Kembali. Kupikir usai kutunaikan kewajibanku, baru kusiapkan ibu shalat. Aku akan berwudhu dan menyegerakan shalat. Baru saja selangkah kutinggalkan ibu dengan alunan murotal Al Matsurat petang, tiba - tiba kudengar ibu mengorok keras. Kulihat tubuh ibuku menegang, dan tiba - tiba ibu terhenyak ke kasurnya lagi. 

"Ibu! Ibu! Astaghfirullah! La illaha illawlah!" teriakku.

Aku segera pencet tombol emergensi. Perawat yang bertugas datang. Ibu bertanya ada apa, dan bergegas lihat kondisi ibu, tapi tak jadi lakukan apapun. Ia meninggalkan kami. Semenit kemudian dokter jaga datang bersamanya. Dokter bertanya yang sama dan bertindak cepat. Ia melompat ke kasur.  Ia periksa tenggorokan ibu. Dikiranya ibu tersedak makanan. Ia panggil ibu berulang - ulang mencari responnya. Aku memegangi kaki ibu yang dingin. 

"Mbah... Mbah Uti ... Bangun Mbah ... " Tapi aku tak kuasa berlama - lama memanggil ibu. Tenggorokanku tercekat. Aku tahu ibu sudah tak bernyawa. 

Tapi suara, "Code Blue! Code Blue!" meraung keras di lorong. Entah siapa saja yang merangsek ke ruang ibu. Dokter dan perawat dari mana - mana berlarian masuk, dan seorang sekuriti menyuruhku menunggu di koridor sambil tetap asyik berteleponan dengan seseorang. 

Aku berjongkok. Gerd-ku kambuh. Aku tahu tiada guna usaha mereka menolong ibuku lagi. 

Aku merasa sendirian. Sambil terus menunggu, aku sudah mengabarkan kondisi ibu pada keluarga. Semuanya sangsi. Telepon berderingan. Di tengah kematian ibu, aku juga yang harus menjadi juru bicara. 

Dokter yang bertugas akhirnya menyampaikan pernyataan maaf dan melaporkan ibu sudah tidak dapat ditolong. Para tenaga kesehatan satu persatu meninggalkan kami.

Suamiku mengabarkan sudah membacakan surah Yassin buat ibu.

Setelah ibu diseka dan kami mengganti baju ibu dengan mukena, aku bacakan pula Surah Yassin buat ibu.

Tepat di akhir Surah Yassin, datanglah petugas siap membawa ibu pulang dengan ambulan.

Lalu, aku berkata, "Mbah Uti, kita turun yuk! Kita pulang sekarang."

Senin, 27 April 2026

Anamnesis

Perjalanan Delapan Belas Bulan Menuju Meja Operasi



     Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, di sinilah aku di dalam ruang operasi yang dingin. Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan dan kurasakan, kecuali berdoa, berzikir,dan memasrahkan hidupku pada Ilahi. Aku hanya diam sambil memperhatikan sekeliling. Tak ada yang mengajakku bercakap-cakap, hanya pertanyaan satu arah dari tenaga medis yang datang silih berganti.

     Prosedur jelang operasi sudah kujalani sejak pukul 6 pagi: puasa, mandi dengan antiseptik, salin baju operasi, dan  menunggu. Entah dari mana sumbernya, namun tak ada rasa gentar selain ketenangan dalam hatiku. Segalanya di ruang  rawat inapku terasa hening, adem, dan damai. Bahkan pepohonan yang bergoyang-goyang dalam bingkai jendela itu terlihat menyenangkan. Tanpa terasa aku pun terlelap.  

     Begitu bangun waktu hampir menunjukkan pukul 12.00 siang. Aku masih berpikir jadwal operasi akan meleset dari yang sudah dirancang. Entah apapun alasan, rasanya di mana-mana tidak ada yang benar-benar tepat waktu. Setidaknya pukul 13.00 aku baru akan dibawa ke ruang operasi, batinku menghibur diri sendiri. Tapi, aku tak lantas bersantai. Segera kuberwudhu dan siap mendirikan shalat zuhur. Tapi tahu-tahu dua orang bidan datang menjemputku. Mereka bilang dokterku sudah meminta mereka membawaku sekarang.

*

     Singkat cerita, di sinilah aku di dalam ruang operasi yang dingin. Para asisten berseliweran mempersiapkan operasiku. Tak satu pun wajah mereka yang kukenal. Lalu, aku didiamkan sendiri di ruang tunggu. Jeda waktu yang entah berapa lama tersedia kugunakan untuk mendirikan Shalat Zuhur darurat. Tanpa mukena. Tanpa sajadah. Tanpa arah kiblat yang jelas, dan melaksanakannya dalam keadaan duduk. Anehnya, juga tanpa gangguan sedikit pun! Seolah - olah slot waktu itu hanya disediakan untukku.

     Lalu, muncul seorang pria bermasker dan berpakaian hijau. Ia memperkenalkan siapa dirinya dan apa yang akan dia lakukan padaku. Katanya, ia adalah dokter anastesiku. Ia akan memberikan suntikan ke belakang punggung yang efeknya membuat separoh tubuhku mati rasa.

     Aku mengiyakan tanda paham.

    Aku tak tahu apa lagi yang sedang mereka kerjakan. Yang jelas, tubuhku diletakkan di meja operasi. Kedua belah tanganku direntangkan ke samping. Lalu, sebuah gawang berdiri di atas dadaku. Setelah itu, disampirkan kain hijau sebagai sekat. Tingginya kira-kira 30 cm sehingga sekarang sudut pandanganku jadi terbatas. Namun, aku masih sempat lihat jam dinding menunjukkan beberapa menit menuju pukul satu. 

     Saat itulah seraut wajah melongok dari sebelah kanan. Dengan senyum kecilnya yang hangat, ia bertanya, "Dingin ya?"

     "Iya." sahutku pendek sembari membalas senyumnya dan menarik selimut lebih rapat ke leher.

     Dokter Kemas tak berkata apa-apa lagi. Kepalanya menyembul dari balik sekat. Sekarang posisinya berada di sebelah kiri. Ia melongok dan berkata, "Kita mulai ya!"

     Beliau sudah memberi aba-aba. Aku mengangguk.

     "Bismillahhirahmanirrahim." lirihku.

     Aku mencium aroma daging terbakar mulai menguar di dalam ruangan. 

*

​Oktober 2024

          Umurku sudah setengah abad, tanda pre-menopause sudah di depan mata. Lumrah bila siklus haidku tak beraturan. Lumrah pula bila masa haidku tak jelas-meskipun biasanya bila terjadi pun cuma berlangsung antara lima sampai tujuh hari. 

     Tapi bulan ini kekhawatiranku membuncah. Sudah lebih dari seminggu darah haidku masih deras. Aku masih pakai jenis pembalut yang tebal, bersayap, dan terpanjang. Biasanya aku pakai jenis pembalut begini khusus untuk tiga hari pertama ketika normalnya datang bulan. Informasi apapun tidak bisa diabaikan, bahkan waktu ada orang bilang bila menstruasi berlangsung lebih dari dua minggu pertanda darah penyakit.  Aku sadar hal ini tak bisa didiamkan berlarut-larut. Aku tak boleh berdiam diri dan mengumpulkan rasa cemas semata. Mau tak mau kunjungan ke klinik faskes tingkat satu sudah masuk agendaku. Namun, syukurlah tepat di hari keempat belas aku sudah kembali suci dan tak jadi berobat.

*

Januari 2025

          Aku bertolak ke Kuala Lumpur. Agendanya adalah liburan, tapi obat penghenti darah haid telah jadi bagian perbekalanku. Dua hari menjelang keberangkatan dokter meresepkan obat ini. Aku berharap kelak, setidaknya maksimal di hari keempat belas pendarahanku berhenti.    

     Perkiraanku meleset. Aku tak sepenuhnya bisa menikmati keunikan Kota Nilai, Banting, dan Kuala Lumpur selama hampir tiga minggu ini. Perjalananku diwarnai haid yang tak kunjung selesai, kelelahan yang tak bisa kuutarakan pada suami, dan frekuensi kebutuhan buang air kecil yang meningkat. Entah berapa cc darahku terkuras, tapi tak kurasakan pusing atau anemia atau apapun itu. Oleh sebab itu, sebagian dariku masih mengatakan aku baik-baik saja. Semua yang sedang terjadi padaku adalah bagian dari gejala premenopouse. Masih dalam tataran wajar. Tak perlu mencemaskan apapun, begitu batinku.

     Tapi ada orang lain yang mengkhawatirkanku. 

     Di KL Sentral akhirnya aku menuruti  permintaan suamiku berobat. Pertama ke sebuah klinik di Mal NU Sentral. Tak ada obat yang diberikan.Tak ada jawaban yang memuaskan. Tentu saja aku tetap merasa penasaran dengan keadaanku. Tentu saja aku tahu klinik tidak memadai untuk melakukan pemeriksaan dibandingkan rumah sakit. Tetapi aku enggan sekali ke rumah sakit manapun di Kuala Lumpur. Aku tak bermaksud memandang sebelah mata peran klinik.

     Lalu kedua, kami ke klinik dekat Hotel Citi Sentral. Kami berjumpa dengan dokter senior yang sangat informatif.  Ternyata beliau bergelar Dr. titik titik titik MBBS.DCH.LM.D.OBST.,R.C.P. Entah apa artinya karena titel tersebut berbeda dengan gelar dokter di Indonesia. Ia menanyakan gejala yang kurasakan, berapa lama sudah kualami pendarahan ini, berapa banyak pembalut yang kupakai dalam sehari dan bahkan menawarkan pemeriksaan lanjutan yang lebih saksama agar kami tahu sebenarnya. 

     Tak ada maksud menampik tawarannya, tetapi aku pilih pemeriksaan lengkap di rumah. Dalam dua hari mendatang kami sudah  akan meninggalkan Negri Jiran itu, dan karena sesungguhnya .... Aku takut.

*

     27 Januari 2025 aku mendaftar di poli obstetri dan ginekologi. Lima hari berlalu sesudah bertemu dokter KL Sentral. Kondisiku sebenarnya sudah stabil. Obat yang diresep dokter KL Sentral sangat mujarab. Dosis tinggi. Pendarahanku sudah terhenti. Tapi demi kepatuhanku pada suami kujalani pemeriksaan USG, melakukan wawancara, dan mengajukan permintaan medical check up di rumah sakit itu. 

     Alhasil ketahuan pendarahanku itu disebabkan miom berukuran 7,33 x 4,16 cm. Ada dua opsi mengatasi miom yang mengganggu, yaitu operasi atau membiarkan miom itu mengecil dengan sendirinya secara alami ketika menopause. Tak ada obat yang diberikan. Dokter hanya  menyuruhku menghabis obat yang tersisa dari dokter KL Sentral.

      Sesederhana itu penjelasannya dengan pembawaannya yang tenang dan suara pelan. Aku menghargai dan menerima pendapatnya. Ia memiliki kualitas interaksi yang menyamankan dan sangat cocok buat ibu - ibu hamil.  Aku terkesan, tapi aku memilihnya karena beliau dokter senior di rumah sakit itu; berpendidikan baik; menjalankan praktik di sejumlah rumah sakit yang salah satu lokasi praktiknya berada di Jakarta-di salah satu kelurahan tempat masa kecilku. Belakangan kuketahui, beliau adalah seorang bangsawan Palembang berdasarkan gelar yang tersemat berdampingan dengan namanya. Info yang relatif singkat, tapi berkelindanan dengan hidupku. Semua  itu membuatku merasa bahwa kepentinganku akan tercukupi oleh Dokter Kemas.

      Di dalam hati aku bertekad melakukan apapun untuk menghindari operasi. Aku pilih menyongsong kedatangan menopause.  Aku akan perbaiki asupan makananku, diet, dan sederet niat unggulan agar miomku terkendali, tak ada pendarahan susulan, dan yang pasti kembali sehat wal afiat, dan sepanjang sisa tahun 2025 setidaknya aku masih kontrol dengan surat rujukan yang diperpanjang sebanyak dua kali lagi.

      Di saat yang bersamaan masalah kelelahan jadi hal yang tak kunjung hilang. Di waktu - waktu tertentu energi tubuhku seakan diperas. Body massage tidak mempan. Infus cernivit hanya manjur pada dua bulan pertama. Tiga bulan berikutnya tiap kali sehabis infus (bahkan) sesampainya di rumah tubuhku kembali kepayahan. Hingga pada akhirnya kutemukan resep mengatasi lelah, yaitu jalan pagi jarak pendek minimal lima belas menit.

     Progres kondisi kesehatanku tidak juga memuaskan suamiku. Kemunculan infeksi saluran kencing membuatnya berpikir yang tidak - tidak. Beliau mendesakku untuk menjalani CT Scan whole abdomen non contras ke SHBT. Hasilnya semua baik, kecuali penyakit yang sedang kuidap. Akhirnya suamiku bilang, mudik mendatang ia akan mendampingiku. "Yuk operasi!" katanya.

*

     Di sinilah aku masih di dalam ruang operasi yang dinginnya membuatku menggigil. Hari ini Senin, 30 Maret 2026 kujalani operasi perdana yaitu operasi pemotongan miom yang bercokol di perutku. Hatiku tenang, tanpa gundah atau pun panik. Tak ada perih atau nyeri sedikit pun ketika operasi berlangsung.  Tapi aku kembali membaui samar-samar aroma daging terbakar sekelebatan. Selama proses itu sudah dua kali asisten yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula mendekati mejaku. Yang satu ini berdiri membelakangiku. Ia cuma bergeming memperhatikan dokter dan asistennya melakukan tindakan. Suara Dokter Kemas terdengar sayup-sayup. Lantunan sebuah lagu Indonesia yang mewarnai ruang operasi mencairkan sarafku. Tapi aku masih tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku.

     Akhirnya Dokter Kemas mendekatiku. Ia menyorongkan baki berisi dua puluh miom besar kecil tanda berakhirnya operasi. Tak jelas semuanya seperti apa, tapi tak mengapa. Kuucapkan terima kasih padanya dengan suara parau. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 menitan.

     Dengan baki itu, ia keluar menemui keluargaku. Ia meninggalkanku bersama para asisten yang tersisa. 

     Mereka merapikan dan menempatkanku di ruang observasi. Aku tengah tidur ayam sambil berusaha mengendalikan badanku yang kedinginan. Tak tahu berapa lama aku terlelap. Saat kubuka mata, aku lihat punggung Dokter Kemas keluar dari ruang observasiku. Ia tak tahu aku sudah bangun. 

     Selang beberapa menit kemudian, giliran para bidan menjemput dan mengembalikanku ke kamar rawat inap. Aku senang lihat wajah suamiku menyambutku di luar.

*

     Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang menganugerahkan lini masa dan sistem pendukung yang luar biasa ini. Pengaturan waktunya di-set penuh kedamaian. Aku menemukan orang - orang istimewa di sekelilingku. Orang-orang dengan ketulusan, perhatian, dan kerendahan hati menolong sesama. Sesuatu yang kubutuhkan, tidak berlebihan, dan sederhana saja. 

     Hari ini tepat tiga puluh hari lalu, kondisiku berangsur - angsur pulih. Doa dari banyak kerabat, teman, dan keluarga jadi penguatku. Kepulangan dan pendampingan suamiku jadi pelipur laraku nomor satu. Setiap langkah kulalui dengan tenang. Urusanku dipermudah. Ketakutanku diangkat. Walaupun terdengar aneh, tetapi rangkaian ini jadi salah satu momen terbahagia buatku. 

     "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, hanya Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit."  Aamiin yaa Rabb 

     Itulah ceritaku. 


Senin, 27 April 2026.




Minggu, 08 Desember 2019

Telur Bebek dan Leher

Karya
Mardi Luhung



Ada amsal tentang kenangan awal. Kenangan pada jajaran rumah yang berubin tebal dan bertembok tinggi. Serta patung kilin yang bersiaga di tempat ibadah. Patung kilin yang menyimpan wujud mustika di delapan-belas bagian tubuhnya. Juga tentang telur-telur bebek yang tergeletak di sepanjang got kering sebelah trotoar. Telur-telur bebek yang dipunguti oleh tangan si kanak. Tangan yang kini telah dewasa. Yang diam-diam juga ingin memetik matahari sebelum lingsir. Atau mewarnai kulit delima agar tetap merona. Semerona ibu yang telah jadi bidadari. Bidadari yang setiap bersedih, berziarah ke makam Tuan Maulana. Dengan air mata berlinang. Juga dengan kerudung yang berjuntai menawan.

Dan ada amsal tentang kenangan berikutnya. Kenangan pada aroma yang memberat. seberat napas yang membau sengak. Yang mengingatkan bau asap yang mengepul dari sekian cerobong. Sekian cerobong, yang jika gerhana tiba, bergerak dan berjalan tegap. Seperti seregu sedadu yang berbaris-baris. Berderap. Berderap. Berderap. Dan sesekali memeragakan kerancakan jalan di tempat. Kerancakan yang membuat permukaan pantai jadi bergoyang. Sampai tiga ikan buntal yang berenang, pun seketika membuntalkan perutnya. Sebab menganggap, ada musuh yang akan menyergap. Musuh yang mungkin terang. Mungkin gelap. Atau malah mungkin samar. Tapi amat dekat. Sedekat urat leher.  (Gresik, 2016)