Tampilkan postingan dengan label Jalan - jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan - jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2016

Gunung Papandayan


Kami berada di Gunung Papandayan akhir November 2015. Hujan tidak turun setitik pun. Sementara suhu relatif normal. Alias tidak berada di posisi 100C seperti yang diperkirakan. Membawa baju penghangat dan sarung tangan dobel pun jadinya mubazir.



Kemping, treking, dan hiking jadi bagian dari kegiatan kami di sana. Pada saat treking banyak kekayaan hayati yang bisa dinikmati. Kalau waktunya lebih longgar kami tentu dapat mengenal flora lebih dalam di kawasan gunung itu.  Mana yang bernama Pohon Suagi (Vaccinium valium), Edelweis (Anaphalis javanica), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanea argentea), Pasang (Quercus platycorpa), Kihujan (Engelhardia spicata), Jamuju (Podocarpus imbricatus), dan Manglid (Magnolia sp ). Adapun fauna di kawasan itu, meskipun disinyalir terdapat Babi Hutan (Sus vitatus), Trenggiling (Manis javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Lutung (Trachypitecus auratus), beberapa jenis burung antara lain Walik (Treron griccipilla ), dan Kutilang ( Pycononotus aurigaste), tetapi sepanjang menapaki jalan menuju gunung tak kami temukan seekor pun.



Sebagai orang awam, pencinta alam dadakan yang bermodal stamina “seadanya” kawasan gunung Papandayan dapat ditaklukan siapa pun. (Stamina seadanya tentu maksudnya bukan yang tak pernah olahraga atau sakit – sakitan.) Tergantung pilihan : mau dipandang sebelah mata oleh para pecinta alam yang  bertaburan di sana atau sebaliknya. Menapaki sejengkal demi sejengkal atau naik ojeg ke tujuan. Di sana ojeg beroperasi dengan menggunakan motor trail.



Letak Geografis
Situs Wikipedia menyebutkan Gunung Papandayan adalah gunung api strato yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Kompleks gunung berapi itu masih aktif dan mempunyai luas 10 Ha. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.

Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 ยบ C.

Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.




Letusan
Sejarah mencatat  gunung api Papandayan telah beberapa kali meletus pada:
  1. 12 Augustus 1772. Letusan besar pada tahun ini menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2957 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.
  2. 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan. (a) 25 Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500 derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai Cisurupan; (b) 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak; (c) 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas.
  3. 15 Agustus 1942
  4. 11 November 2002. Gunung bertipe Stratovolcano ini saat sebelum meletus pada tahun 2002 mempunyai empat buah kompleks kawah besar. Setelah meletus kawah ini menjadi sebuah areal kawah yang cukup besar. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari kejauhan.



Cisurupan
Sampai di Cisurupan para pendaki menyewa angkot atau mobil pick up menuju area pertama sebelum pendakian. Jalanan beraspal dan sudah mulai menanjak dengan kemiringan bervariasi.




Camp David
Dari tempat kami berkemah perjalanan menuju start point membutuhkan waktu sekitar 45 menit jalan kaki. Meskipun untuk mencapainya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.  Camp David adalah titik awal pendakian.atau biasa dikenal sebagai Pos Satu. Rute perjalanan tergolong sangat mudah karena masih melalui jalan beraspal. Para pendaki biasanya berkumpul di sini dengan kelompoknya masing-masing sebelum mulai mendaki. Di sini banyak berdiri warung – warung yang menjajakan makanan dan minuman.




Pada awalnya rute tergolong jinak. Sisa letusan gunung Papandayan terakhir sudah menutup jalan beraspal yang dulu pernah ada. Bebatuan di sekeliling kami. Bebauan belereng yang meruap ke udara. Kepulan asap kawah. Lalu, terlihat pemandangan iringan manusia di bagian bawah gunung yang menyemut adalah pemandangan yang tak terlupakan.

Meneruskan perjalanan ke Pondok Saladah barulah terasa gregetnya. Kemiringan permukaan tanah terasa ekstrim. Tiap 15 menit perhentian itu jadi keharusan karena harus mencari napas tambahan. Anak kecil akan senantiasa bilang, “Masih jauhkah kami dari titik berikutnya?” Saking beratnya rute.  Tetapi,  seorang bocah kelas 4 yang termasuk dalam rombongan tidak mengeluh seperti itu.



Pondok Saladah
Blok Pondok Saladah merupakan areal padang rumput seluas 8 Ha, dengan ketinggian 2.288 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini mengalir sungai Cisaladah yang airnya mengalir sepanjang tahun. Lokasi ini sangat cocok untuk tempat berkemah. Di satu titik yang disebut Alun-alun sebelum letusan tahun 2002 banyak terdapat bunga abadi, edelweiss. Tapi setelah letusan bunga tersebut hingga saat ini belum tumbuh lagi. Di Pondok Saladah ini ada sungai kecil berair jernih hanya mengandung belerang.
Pondok Saladah menjadi klimaks perjalanan. Kendati Tegal Alun merupakan titik prestise para pendaki gunung Papandayan, tetapi setelah itu kami pulang ke perkemahan.




Perjalanan kembali ke tenda tidak kalah menantang. Jalan menurun tidak lantas dilalui dalam tempo singkat. Keluar dari Pondok Saladah kami memasuki belantara teduh di tepi tebing. Setelah itu menuruni jalan tanah berdebu. Debu dengan ketebalan 5 – 10 cm. Bilamana saat itu musim hujan saya membayangkan lumpur di mana – mana dan kami bagaimana pun harus melewati. Walaupun kering, jalanan itu licin sehingga kami harus berhati – hati.

Berada di ketinggian itu sangat mengagumkan karena lihat pemandangan yang luar biasa.(Q)


Daftar Pustaka:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Papandayan
http://www.catatanhariankeong.com/2013/03/jalur-pendakian-gunung-papandayan.html

Kamis, 16 April 2015

Makam Raja - raja



Napaktilas XV

Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya menggelar acaranya yang ke – 15.  Saya skip ketika perhelatan mereka yang ke – 14 menuju Batu Jaya. Jadi keikutsertaan kali ini adalah acara mahapenting untuk melengkapi koleksi situs yang dikunjungi bersama mereka. Pada Minggu, 5 April 2015 pukul  07.00 peserta berkumpul di depan Bogor Trade World, Kota Bogor. Hari cerah, udara sejuk mengantar sedikitnya 28 orang ke tujuan.  Rencananya, rute yang akan dikunjungi Situs Garisul, Jasinga - Batu Tapak Harkatjaya Cigudeg - Setu Cigudeg - Mausoleum van Motman - Bendung Gunung Bubut PLTA Cikaracak - Museum Pasir Angin. Pada acara kali ini tiap peserta dikenakan biaya Rp.140.000,00 /orang. Biaya yang relatif ringan untuk sebuah wisata sejarah.

Lokasi yang kami kunjungi berada di Bogor Barat.  Yang pertama disambangi adalah Situs Garisul. Jarak dari parkir bus ke lokasi adalah 500 ratus meter. Kami melalui jalan setapak. Di  tengah perjalanan sebuah jembatan gantung jadi obyek menarik pertama  ke makam dan tak urung para fotografer mulai beraksi. Demikian memang patut dimaklumi karena perpaduan jembatan gantung dan sungai berbatu merupakan pemandangan yang indah. Mubazir jika diabaikan. :P

Nah, sembari mengunjungi langsung obyeknya, pengetahuan tentang tempat – tempat itu tersebar di  internet. Berikut ini adalah copas dari tulisan itu dan penyusunannya berdasarkan urutan kunjungan rombongan.



Makam Raja – raja Islam, Garisul

Situs Garisul terletak di Kampung Garisul, Desa Kalong Sawah, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Situs itu merupakan kompleks makam Islam era abad ke - 19. Dari  https://ensiklopediwisataindonesia.wordpress.com/…/situs-g…/   Diperoleh informasi sebagai berikut. Luas area Situs Pemakaman Garisul kurang lebih 3.000 m2. Posisinya menghadap ke barat. Peninggalan bersejarah ini berasal dari abad ke-15 sampai 16 M. Dalam dekade tertentu merupakan peninggalan zaman perkembangan dan kebudayaan Islam. Namun, pada salah satu peninggalannya terdapat angka 1021-1031 Hijriah.

Di antara kumpulan makam kuno tersebut ada 9 makam utama yang merupakan simbol dari kepemimpinan. Bentuk bangunan diketahui mempunyai ciri-ciri tersendiri yang merupakan pengaruh kebesarannya. Analisis ini diambil berdasarkan makam serta ketinggian batu nisan. Hasil pengamatan dapat diketahui bahwa di antara ke-9 makam kuno tersebut terdapat nama Syekh Ishak, Panglima Sultan Hasanudin Banten dan para istrinya. Salah satu di antaranya adalah putri raja dari Kerajaan Kediri.

Yang menarik adalah setiap batu nisan mempunyai keseragaman pada jenis batu dan motifnya, dengan ketinggian rata-rata di atas permukaan tanah sekitar 20-30 cm. Selain itu, di setiap makam bercirikan satu tunggul atau satu batu nisan saja yang mempunyai relief/kaligrafi bertuliskan huruf Arab gundul, yakni berbentuk kubah atau segi tiga yang melambangkan makam prajurit. Di lokasi ini juga terdapat 9 buah batu nisan dengan ciri tersendiri, letaknya di tengah nisan lainnya. Dari 9 buah batu nisan, 7 di antaranya mempunyai bentuk lekukan yang berbeda dengan nisan lainnya yang menunjukkan bahwa 7 makam laki-laki dan yang 2 adalah makam wanita. Tinggi makam pembesar itu rata-rata 60-70 cm dengan relief dan huruf kaligrafi lebih banyak. Jarak antara satu dengan yang lainnya 170-200 cm. Nama-nama yang disebutkan terbatas pada pengetahuan yang ada, di antaranya disebutkan: Syekh Ariffuddin, Beberapa panglima perang pasukan Sultan Hasanudin, 2 orang putri raja Demak dan Cirebon, Pemimpin pasukan: Ishak. Ditinjau dari angka tahun penangalan perlu penelusuran lebih lanjut, sebab bermunculan keragaman dalam mengintreprestasikan angka tahun yang masih samar, yakni tahun 1015, 1501, dan 1021 karena tidak ada tanda-tanda petunjuk jenis tahun, apakah tahun Hijriyah, tahun Saka Jawa, atau tahun Saka Hindu.

Sebagai informasi tambahan disebutkan bahwa di makam utama dari depan saung terdapat 10 nisan bernama: (1) Syekh Syarifudin; (2) Syekh Mada; (3) Ratu Nyimas Sri Kerti Mukti; (4) Ratu Dewi Manggala; (5) belum diketahui; (6) Syekh Daud bin Syekh Mansur Cikaduweun; (7) Syekh Ishak (Ahli Tafsir); (8) Syekh Iman (Ahli Tajwid); (9) Syekh Purwa Kawasa (Ahli Perang); (10) belum diketahui. 

Di luar makam kesepuluh nisan itu ada Pangeran Mangku Bumi, Pangeran Jaga Raksa, Syekh Muji, Pangeran Kerta Kencana, Ageng Manggala (istri Kerta Kencana), Pengeran Sukma Jagat, Pangeran Soca Manggala, Syekh Abdullah bin Yasin bin Yusuf, dan Syekh Yaman di tengah-tengah. Di luar dari makan raja-raja Islam ini terdapat makam Syekh Sandong (artinya selendang yang digendong dan dia seorang yang pendiam maka dikenal sebagai Mbah Sadiem).

Adapun keterangan Ketua Komunitas Napak  Peninggalan Budaya, Hendra M. Astari yang mengutip Uka Tjandrasasmita (2009) bahwa situs ini telah disinggung pertama kali oleh Dr. Hoesein Djajadiningrat sebagai salah satu situs bercorak Islam yang ada di wilayah Bogor bagian Barat.

Penelitian yang intensif baru dilakukan oleh Muhammad Thoha Idris tahun 1990-an. Idris (1995) menyebutkan bahwa tipologi nisan Garisul sangat terkait dengan nisan yang ada di Banten Lama.

Beberapa nisan yg msh terbaca antara lain: makam Haji Syarif tahun 1200 H/1822 M, makam Embah Adong tahun 1215 H/1837 M, dan ada juga nisan kubur dari tahun 1238 H/1860 M. Angka-angka tahun dari abad ke-19 itu jelas ada kaitannya dengan masa pergerakan rakyat melawan penjajah yang mungkin semula mereka berada di Banten. 

Musoleum van Motman

Musoleum van Motman

Lalu, kami melanjutkan perjalanan menuju Musoleum van Motman. Lokasinya berada di wilayah Kampung Pilar, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Berjarak kira-kira 25 Km dari Kota Bogor dan perlu 300m untuk menjangkaunya dari jalan raya. Astana Van Motman  ada di  http://napaktilasbogor.blogspot.com/2010/06/astana-van-motman-terbengkalai.html.

Keluarga van Motman adalah tuan tanah yang mempunyai perkebunan yang sangat luas di wilayah Bogor pada akhir abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-20. Wilayah perkebunannya meliputi daerah Dramaga, Jambu, sampai Jasinga. Moyang van Motman pertama yang menjejakkan kakinya di tanah Jawa adalah Gerrit Willem Casimir van Motman. Dia dilahirkan di Genneperhuis, Negeri Belanda pada 11 Januari 1773. Gerrit Willem sampai di Buitenzorg (sebutan Bogor waktu itu) pada usia yang terhitung masih muda. 

Dengan kerja kerasnya, van Motman muda ini sudah berhasil menjadi tuan tanah pada masa pemerintahan Guberbur Jenderal Daendles (1808-1811). Tanah yang dikuasainya meliputi daerah yang cukup luas di sebelah barat Bogor. Gerrit Willem mula-mula mengusahakan tanaman tebu dan kopi di tanah perkebunannya. Tebu dan kopi adalah dua komoditas perkebunan yang menjanjikan keuntungan berlipat waktu itu.  

Sebagai tuan tanah yang memiliki lahan perkebunan yang terhitung luas, setidaknya Menir Motman membangun pesanggrahan (landhuis) di tiga tempat yang berbeda, yaitu di Dramaga, Jambu dan Jasinga. Bangunan landhuis di Dramaga masih berdiri sampai sekarang, sedangkan landhuis Jasinga keberadaannya dibuktikan dari sebuah foto koleksi Tropenmuseum Belanda yang memperlihatkan sebuah rumah tak jauh dari aliran sungai Cidurian. Adapun rumah yang di Jambu tidak jelas di mana keberadaannya.  

Sempat adanya landhuis van Motman di afdeling Jambu bisa disimpulkan dari keterangan di situs www.uwstamboomonline.nl yang menyebutkan adanya empat anak Gerrit Willem yang dilahirkan di tempat ini antara tahun 1811-1814. 

Tentang Gerrit Willem Casimir sendiri tidak jelas di mana dimakamkannya. Dia meninggal tanggal 25 Mei 1821 di Dramaga, dan disebutkan dikuburkan di Jasinga. Begitu pula tidak ada keterangan tentang jasad siapa saja yang diawetkan di cungkup moseleum Jambu ini. Hanya saja masyarakat setempat menyebutkan, sampai tahun 1965 masih terlihat empat jasad keluarga van Motman di dalam bangunan moseleum yang di tempatkan di dalam peti kayu yang sisi atasnya ditutupi kaca.

Keadaan mausoleum pada saat dikunjungi ini tak berbeda jauh dari penggambaran yang ditulis Hendra M. Astari pada tahun 2010 itu. Sampai sekarang bangunan moseleum di kompleks astana ini masih berdiri kokoh. Walaupun keadaannya terlihat kumuh dan tak terawat. Bangunan seluas kira-kira 40 m² ini dominan berwarna putih, dengan bagian yang mulai menghitam di sana-sini. Bangunan moseleum ini berbentuk letter plus (palang), dan menurut Anthony Holle, salah seorang kerabat keluarga van Motman, arsitekturnya merupakan replika dari gereja Santo Petrus yang berada di Kota Roma, Italia. 

Cungkup ini orientasinya menghadap ke arah utara-selatan. Pintu masuknya berada di sebelah selatan. Dahulunya terdapat daun pintu di lawang masuk ini, tetapi sekarang keadaannya kosong melompong tanpa penghalang. Ukuran lawang pintu ini kira-kira 2 X 1,5 m. Tepat di atas pintu masuk terdapat tulisan “FAM: P.R. v MOTMAN”. 

Ornamen ram kaca di setiap dinding bagian atas yang berbentuk setengah lingkaran telah bolong tanpa kaca penutupnya, yang tertinggal tinggal rangka kayuna. Pada bagian atas bangunan, tepat di tengahnya ada kubah segi delapan bergaris tengah 1,5 meter. 

Di bagian dalam bangunan, sisi sebelah barat dan timurnya ada ruangan seperti kamar yang dibagi menjadi dua tingkat. Di tempat inilah disemayamkan empat jasad mumi keluarga van Motman. Di bagian dalam bangungan ini masih terlihat rangka besi behel berserakan, sepertinya telah dicabut dengan paksa. Juga terlihat coretan hasil aksi vandalisme di sekeliling dinding bangunan. 

Di dinding selatan dan utara bagian dalam, masih terlihat warna cat hijau melapisi dindingnya. Malahan ragam hiasnya juga masih terlihat jelas. Di dinding ini juga tak lepas dari aksi vandalisme, banyak terdapat coretan yang tidak tentu artinya. 

Di halaman luar moseleum, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Tanaman semak dan rumput liar tumbuh di mana-mana, begitu pula dengan talas liar banyak tumbuh di sana. Sepertinya halaman ini telah dijadikan kebun, karena telah ditanami oleh beberapa tumbuhan seperti pisang dan tanaman albasia. 

Di halaman cungkup ini masih terlihat adanya 12 pilar bekas nisan kuburan Belanda. Pilar-pilar tersebut keadaannya merana sekali karena telah ditumbuhi oleh tanaman merambat. Luas keseluruhan lahan kompleks Astana van Motman ini sekarang tinggal 600 m². 


Museum Pasir Angin

Komunitas Napaktilas Peninggalan Budaya di Museum Pasir Angin

Situs Pasir Angin terletak di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Bukit Pasir Angin berada tidak jauh dari aliran sungai Cianten. Situs ini ditandai dengan adanya sebuah batu monolit. Yang istimewa dari monolit ini adalah memiliki bidang datar di beberapa sisinya. Orientasi dari monolit setinggi 1,2 meter ini menghadap ke arah timur.

Bagi orang awam sepertinya tidak ada yang aneh dari seonggok batu di puncak bukit ini, tetapi bagi para ahli, batu yang memiliki bidang datar dan berada di ketinggian, serta tidak jauh dari aliran sungai akan sangat menarik perhatian.

Esensi dari kehidupan bercorak megalitik adalah adanya pemujaan terhadap arwah para leluhur. Dan para pendukung kebudayaan ini percaya bahwa tempat-tempat tinggi seperti gunung dan bukit merupakan tempat bersemayamnya arwah-arwah tersebut. Sehingga tidak mengherankan jika di ketinggian banyak ditemui peninggalan tempat pemujaan (punden), seperti halnya situs Pasir Angin. 

Di situs ini pada tahun 1970 dilakukan ekskavasi atau upaya penggalian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) yang dipimpin oleh R.P. Soejono. Ekskavasi ini berlangsung sampai tahun 1975.

Dari penggalian ini dihasilkan banyak artefak-artefak yang menunjukkan bahwa situs ini dahulunya merupakan tempat nenek moyang kita melakukan kegiatan ritual. Barang-barang yang ditemukan di sini, antara lain: kapak perunggu, tongkat perunggu, manik-manik batu daun kaca, mata tombak, kapak besi, gerabah, dan lain-lain.

Dari penggalian ini terlihat bahwa barang-barang yang ditemukan ternyata berada di sekitar batu monolit dan berkumpul membujur dari barat ke timur. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan yang melibatkan benda-benda temuan tersebut dipusatkan pada batu monolit ini.

Mengenai orientasi kegiatan di sekitar monolit dengan arah hadap timur-barat, menurut Haris Sukendar, hal ini disejajarkan dengan perjalanan matahari. Tempat matahari terbit, yaitu di timur merupakan perlambang dari kelahiran atau kehidupan, sementara tempat tenggelam matahari di barat merupakan simbol dari kematian.

Diperkirakan situs Pasir Angin ini digunakan menjadi tempat ritual pada masa logam awal sekitar tahun 600 – 200 SM. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis radio aktif atom karbon C14 dari sampel arang di situs tersebut yang menunjukan pertanggalan absolut dari tahun 1000 SM sampai 1000 tahun Masehi. Kira-kira selama 2000 tahun upacara atau tradisi megalitik terus berlangsung di tempat ini. 

Penelitian dan penggalian yang dilakukan selama kurang lebih enam tahun di situs Pasir Angin ini telah menghasilkan begitu banyak barang temuan. Untuk menyimpan benda-benda tersebut akhirnya dibangunlah site museum di tempat ini pada tahun 1976.

Memang tidak semua benda hasil penggalian ditempatkan di museum ini, ada juga yang dibawa ke Jakarta dan disimpan di museum pusat dan di kantor Puslitarkenas.

Museum Purbakala Pasir Angin yang dibangun tak jauh dari batu monolit ini, selanjutnya tidak hanya menyimpan benda purbakala dari situs ini, tetapi juga dari situs-situs lain di sekitar Bogor. Seperti sejumlah arca dari situs Gunung Cibodas Ciampea yang keadaannya banyak yang tidak utuh lagi. Disimpan juga di museum ini manik-manik dan guci keramik yang ditemukan secara tidak sengaja di situs Pasir Gintung.

Sampai sekarang museum Pasir Angin merupakan satu-satunya museum yang berada di wilayah kabupaten Bogor. Sebagai tempat penyimpan benda-benda bersejarah tentunya museum ini bisa dioptimalkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, dalam hal ini ilmu sejarah dan arkeologi. Keberadaannya juga bisa untuk lebih mengenalkan para generasi muda terhadap sejarah masa lalu bangsanya, sehingga para penerus bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya.

Keberadaan situs Pasir Angin dan museumnya merupakan cermin perjalanan budaya megalitik di Indonesia. Ritus pemujaan di tempat ini ternyata dilakukan dari masa prasejarah sampai terus tembus ke masa sejarah (kira-kira abad ke-10).

PLTA Karacak



Keberadaan Waduk Gunung Bubut berkaitan erat dengan berdirinya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kracak. Waduk ini dimaksudkan untuk tempat menghimpun air agar turbin PLTA senantiasa berputar sepanjang waktu. Sehingga PLTA ini dapat terus beroperasi dan secara berkesinambungan dapat menyuplai listrik ke konsumennya.

Melihat cukup luasnya areal Waduk Gunung Bubut ini, bisa diperkirakan pembangunannya memakan waktu yang cukup lama. Bila PLTA Kracak mulai beroperasi tahun 1926, tentunya berbagai persiapan termasuk pembangunan Waduk Gunung Bubut dilakukan sebelumnya. Diperkirakan selesainya pembangunan waduk ini pada tahun 1925 atau paling telat awal tahun 1926.

Secara resmi pihak PLTA Kracak menamakan waduk ini dengan istilah Kolam Tando Air (KTA). Sementara masyarakat setempat menyebut tempat ini dengan nama Gunung Bubut. Mungkin sudah menjadi ingatan kolektif masyarakat, bahwa pembangunan waduk dilakukan dengan cara membubut (menggali/melubangi) gunung (bukit), sehingga sebutan Gunung Bubut atau gunung yang dibubut lebih membekas dibanding sebutan kolam tando air versi PLTA.

Waduk Gunung Bubut atau Kolam Tando Air (KTA) berlokasi di Kampung Karacak, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang. Hanya 300 meter dari pinggir jalan kabupaten Leuwiliang – Puraseda, dan sekitar 5 kilometer dari kantor kecamatan Leuwiliang.

Waduk ini dibuat dengan konstruksi beton. Luas areal permukaan waduknya sendiri mencapai 42.000 m², sedangkan luas dasarnya 35.000 m². Waduk ini dapat menampung air sebanyak 187.000 m³ dan ketinggian air maksimal yang bisa ditampung adalah sampai 7,25 m.

Berada di ketinggian 388 m dpl, waduk inipun dilengkapi dengan jalur limpasan air atau spillway. Hal ini untuk safetyjika terjadi keadaan over capacity, air yang berlebih bisa dialirkan melalui jalur ini, langsung menuju sungai Cianten.

Waduk Gunung Bubut berfungsi untuk menampung air yang dialirkan dari Bendung Cianten di Desa Karyasari dan Bendung Cikuluwung di Cibitung Kulon yang berada di daerah hulu. Dengan bantuan gravitasi bumi, dari waduk ini air dialirkan melalui dua pipa pesat (penstock) dengan diameter sekitar 2 meter menuju turbin PLTA yang dipasang di Rumah Pembangkit (Power House).

Untuk mencapai Waduk Gunung Bubut ini, dari Jalan Karacak kita bisa berjalan kaki menyusuri jalan kecil di sisi jalur pipa pesat. Kontur jalannya cenderung menanjak dan puncaknya kita akan melewati tanjakan terjal dengan sekitar 200 anak tanggga menuju waduk ini.

Pertemuan Dua Sungai : Cianten dan Cikuluwung


Sumber:









Senin, 23 Maret 2015

Taman Prasasti



Jakarta yang pernah disebut Batavia menyimpan sejarah kolonial Belanda. Peninggalan dari masa lalu itu tersebar di berbagai pelosok. Beberapa di antaranya sudah menjadi bagian dari cagar budaya. Sebut saja Museum Fatahilah, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Stasiun Beos, dan Taman Prasasti. 

Beberapa museum itu sudah pernah diulas di sini. Kini giliran Museum Taman Prasasti. Pada tahun 1977 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan sebuah makam bernama Kebon Jahe Kober menjadi Museum Taman Prasasti.  Lokasinya di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Luasnya 1,2 ha. Tidak sebagaimana umumnya museum, maka museum ini merupakan museum terbuka yang menampilkan karya seni dari masa lampau. Di sana kita akan lihat nisan – nisan kuno dan artistik, termasuk kereta jenazah kuno.

Makam Kebon Jahe Kober sendiri telah ada sejak masa kolonial Belanda, tepatnya tahun 1795. Ketika itu terjadi suatu wabah yang membuat banyak warga belanda di Batavia meninggal. Hal ini membuat kebutuhan lahan penguburan meningkat signifikan. Kebetulan saat itu kuburan warga Belanda di samping Gereja Baru (Nieuwe Hollandse Kerk, sekarang Museum Wayang) dianggap sudah terlalu padat.

Hal ini membuat pemerintah Batavia mengadakan lahan pemakaman baru di wilayah Selatan Batavia, yang posisinya agak jauh keluar kota dan jauh dari kepadatan penduduk kala itu. Karena itulah, makam yang sekarang beralamat di Jalan Tanah Abang no. 1 ini akhirnya diresmikan.

Dari segi tata kota, posisi Makam Kebon Jahe Kober amat strategis karena berada di tepi kali Krukut. Hal ini membuat lalu lintas pengangkutan jenazah beserta keluarga umumnya melalui kali Krukut.

Uniknya bentuk artistik bangunan nisan kuno tersebut menginspirasi para seniman masa kini berkarya. Misalnya, pembuat video klip. Beberapa tahun yang lalu Marcell mengambil latar Taman Prasasti untuk pembuatan salah satu video klipnya. Lalu, demikian pula syuting video klip Ungu yang berjudul "Demi Waktu" dilakukan di sini. Selain itu, para fotografer, mengesyut model – model cantik yang pasang aksi di atas nisan (?). 

Di museum ini dihimpun berbagai prasasti dari zaman Belanda dan sebelumnya serta makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti: 
  • A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  • Dr. H.F. Roll(Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)
  • J.H.R. Kohler(tokoh militer Belanda pada Perang Aceh)
  • Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura)
  • Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.
  • Miss Riboet tokoh opera pada tahun 1930-an
  • Soe Hok Gie aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an. Nisannya berbentuk kotak kecil dengan patung malaikat di atasnya. Tidak mencolok dibandingkan dengan nisan-nisan lainnya.(Q)







Senin, 29 September 2014

Napak Tilas XIII

Situs Gunung Padang


Saya pergi ke tempat yang baru – baru ini menghebohkan. Tentang sebuah situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Pasalnya situs Gunung Padang bukan sekedar tentang sebuah permukaan tanah seluas 900 meter persegi bersama bebatuan di atasnya, melainkan meliputi keseluruhan bangunan yang diduga kuat ada dan tertimbun di bawahnya alias terdapat sebuah bangunan berbentuk piramida. Adapun usia "piramida" Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi. Lebih tua, ketimbang piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM. Bila benar? ... Kereeeen... .  Nenek moyangku bukan cuma pelaut tetapi juga arsitek hebat yang melahirkan peradaban yang hebat.

Lalu, tahu – tahu Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya mengumumkan kegiatan acara  napak tilasnya yang ke-13  ke Gunung Padang. Pengaturan waktu yang seolah saling melengkapi itu jadi momen yang tentu saja tak saya lewatkan.

Keberangkatan
Acaranya diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 14 September 2014. Berkumpul di Terminal Damri Kota Bogor pada pukul 05.45. Rutenya Bogor - Gunung Padang - Stasiun Lampegan, lalu kembali ke Bogor. Peserta dikenakan biaya Rp. 120.000,00/orang untuk tiket masuk dan transportasi dari Bogor ke lokasi situs (PP).

Kami berangkat pukul 06.30. Jumlah peserta 28 orang, termasuk panitia. Komposisi peserta terdiri dari pria dan wanita dengan beragam latar belakang (sejarawan, ilmuwan, guru, ibu rumah tangga, bahkan pelajar). Angkatan sweet seventeen sampai golden age turut meramaikan rombongan.

Situs prasejarah peninggalan kebudayaan megalitikum ini tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota, kecamatan Warung Kondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Terletak di ketinggian 885 m dpl.

Dalam perjalanan pemandangan pagi semakin menghangatkan suasana. Mobil berbaris di pintu tol sudah jadi tontonan lumrah, tapi perbukitan teh, aneka sayur mayur, deretan warung di tebing Puncak, persawahan,  perbukitan dengan jalan – jalan yang berkelok – kelok sangat enak dinikmati, apalagi tanpa kendala berarti. Soalnya, antimo, si Obat Mabuk sudah diganti dengan tusukan akupuntur antimabuk, Bundo Iswanti sehingga pada bagian ini, pesan moralnya adalah jangan lupa bawa obat – obatan pribadi kalau bepergian jauh!

Memasuki Cianjur kami melipir sebentar ke Warung Sate Marangi. Sarapan. Tahukah Anda dengan dua buah ketan bakar, 10 tusuk sate daging, 10 tusuk sate lemak yang dilumuri bumbu oncom, dan teh hangat cuma-cuma, tujuh belas ribu perak! Sepiring berdua. Sambil duduk di bangku kayu, bisa pula kalau mau menonton si mamang sedang memanggang ketan dan menyiapkan satenya karena posisinya tepat berada  di depan warung.  Kenyang menyenangkan.




Sampai
Pukul sebelas kami melalui gapura bertuliskan Situs Gunung Padang. Desain gapura itu  macam gapura Jurassic Park - ada di film berjudul sama. Luas areal situs ini sekitar 3 ha sehingga menjadi kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Kedatangan kami berbarengan dengan rombongan ITB yang sebelumnya berada dalam iring – iringan di belakang kami. Jumlah mereka lebih banyak. Dari kendaraan yang terlihat setidaknya ada 1 bus, 1 minibus, dan 5 mobil. Selanjutnya dari tempat parkiran, kami harus berjalan menanjak sekitar sepuluh menit ke pintu masuk.

Saat menuju pintu masuk, ternyata banyak orang yang sudah berjalan turun ke areal parkir. Saya heran melihat orang – orang itu karena terbetik dalam benak saya, seperti apa tempat yang akan kami sambangi. Karena suasana situs yang pernah saya kunjungi bersama komunitas ini, sejauh ini kerap khidmat dan sunyi.

Stairway to Heaven
Stairway to heaven, apa itu? Pasti bukan karya Chopin. Saya kembali penasaran tentang rutenya begitu pak ketua mengungkit hal itu. Lalu, melintas pintu masuk barulah terlihat jalan yang bercabang dua. Di sana terdapat dua tangga yang berbeda. Yang berada di sebelah kanan adalah rute jinak. Anak tangganya berbahan dasar semen, rapi, kokoh dan sudah diberi pagar besi di pinggirnya.  Ada pun di sisi lain, kendati terdapat pegangan besi persis seperti yang rute jinak, namun medannya lebih sulit. Kemiringan berkisar 45 derajat. Tiap langkah yang kami lalui berpijak pada tatanan batu yang tidak utuh di beberapa bagian. Perjalanan memang lebih singkat, namun rasanya wow! Menguras dan melegakan napas. Jadi penyebutan ‘stairway to heaven’ saya artikan begitulah rasa surga setelah bersusah payah menaiki tangga yang sulit.:P



Sesampainya di atas bukit sepajang mata memandang sebaran bebatuan andesit besar berbentuk persegi dan manusia saling berbagi tempat. Ramai. Pengunjung hari itu bukan dari Komunitas Napak Tilas dan Tim ITB saja, tetapi dari berbagai kalangan.

Lokasi situs dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu. Situs itu sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.

Penemuan
Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.

Fungsi
Fungsi situs Gunung Padang diperkirakan sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M. Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada. Selain Gunung Padang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.



Penelitian
Soal penelitian situs ini sudah cukup banyak dilakukan para ilmuwan. Berbagai temuan tim terpadu penelitian mandiri Gunung Padang ini akhirnya melakukan uji radiometrik karbon (carbon dating, C14). Menariknya hasil uji karbon pada laboratorium Beta Miami, di Florida AS, menera bahwa karbon yang didapat dari pengeboran pada kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter berusia 14.500-25.000 tahun.

Sementera Tim Riset Situs Megalit Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang melakukan penelitian tanggal 30 Mei 2014 mengungkapkan bahwa situs dibangun oleh empat kebudayaan berbeda, yang tertua diperkirakan mencapai umur 10.000 tahun.

Ada beberapa orang yang percaya kalau situs Gunung Padang memiliki keterkaitan dengan situs piramida yang ada di mesir. Seorang arkeolog asal Bosnia Herzegovina, Semir Sam Osmanagich meyakini hal itu. Dikarenakan bentuknya yang mirip dengan ruang di dalamnya dan karena umurnya yang jauh lebih tua dibandingkan piramida yang ada di mesir. Usia "piramida" Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi, sementara piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM. Meskipun demikian, saat ini situs padang masih berada dalam masa pengkajian lebih lanjut.

Selain riset dan survei, kajian pustaka terus dilakukan. Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat situs ini. Menurut legenda, Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.

Waktu kami ke sana sebuah penelitian juga sedang dilaksanakan.  Terpal biru yang dipasang dengan spanduk bertuliskan “Posko Timnas Pelestarian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang” menjadi salah satu penandanya. Demikian pula beberapa alat berat dipasang dalam areal terpal biru. Tidak ada penjagaan ekstrim, tetapi tentara RI juga ambil bagian dalam pengamanan.


 

Terowongan Lampegan
Kami melanjutkan ke terowongan peninggalan jaman Belanda yang memiliki panjang 686 meter. Terowongan Lampegan dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) dan dibangun pada pada periode 1879 - 1882. Terowongan ini merupakan terowongan pertama di Jawa Barat yang letaknya di lintas kereta api yang menghubungkan Batavia-Bandung via Bogor/Sukabumi. Di Wikipedia dinyatakan bahwa salah satu terowongan pertama di Jawa Barat yang dibuat di desa Cibokor yang lokasinya di Pasir Gunung Keneng, Cianjur Jawa Barat.

Asal muasal penamaan Lampegan diambil dari cerita yang beredar. Bahwa nama Lampegan asalnya dari kata yang sering disebutkan oleh Beckman ketika memeriksa hasil pekerjaan pegawainya. Setiap melihat pegawai yang sedang bekerja di dalam terowongan, dia sering berteriak mengingatkan kepada pegawainya untuk tetap membawa lampu agar lebih aman dari bahaya kurangnya zat asam. “Lamp pegang...., lamp pegang”, dia mengingatkan dalam campuran bahasa Belanda dan Indonesia. Maksudnya adalah agar pegawai membawa lampu. Di terowongan itu udaranya masih lembap dikarenakan lubang terowongan yang hanya ada satu. Akhirnya, terowongan ini disebut 'Terowongan Lampegan'

Rembesan air mengakibatkan bagian atas terowongan hancur. Sehingga hubungan kereta api Sukabumi-Cianjur terputus. Setelah mengalami renovasi pada September 2000, Sukabumi dan Cianjur kembali terhubung. Namun dari tanggal 12 Maret 2001, terowongan itu ambruk lagi, dan hubungan stasiun Cianjur dan Sukabumi kembali terputus. Pada tahun 2010, Terowongan Lampegan kembali direstorasi dan telah memasuki tahap uji coba. Sekarang stasiun Lampegan melayani KA Siliwingi untuk rute Bogor – Sukabumi – Cianjur.

Pulang
Ini bukan pertama kali Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya mengunjungi Situs Gunung Padang, tapi pengalaman pertama buat saya. Seperti biasa, secara keseluruhan acara berlangsung lancar dan bernas. :)




Sumber:
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2014/02/27/puluhan-ilmuwan-asing-kagumi-penelitian-gunung-padang/
http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Gunung_Padang
http://id.wikipedia.org/wiki/Terowongan_Lampegan




















Senin, 21 April 2014

Napak Tilas XII


Lima bulan berlalu sejak napak tilas terakhir di Kecamatan Tenjolaya. Seminggu yang lalu Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya menggelar acara yang ke – 12: “Sisi Lain Jejak Megalitik di Gunung Salak.

Masih di Gunung Salak! Maka karena tak ada aral yang melintang, tentu saja acara ini tidak dilewatkan. Gambaran keindahan pemandangan di lereng Gunung Salak yang bernuansa hijau, coklat, biru, putih, dan kelabu kerap membayang. Apalagi petualangan kecil pada acara sebelumnya bikin penasaran seperti apa medan kali ini. 
Memotret Peninggalan. Dr. Hasan Djafar.
Matahari sepertinya tengah tersenyum pada kami. Kecerahan teraut di wajah para peserta. Sekitar 27 partisipan berkumpul di Bogor Trade Mall. Lokasi yang strategis menjadikan BTM sebagai titik tolak keberangkatan. Variasi peserta kali ini sangat menarik. Dari anak – anak usia SD dan SMP hingga para pini sepuh antusias mengikuti acara. Ibu – ibu bersepatu teplek sampai bersepatu boot juga ada. Jangan tanya, tentang kaum prianya. Mereka yang mungkin berpakaian perlente di hari kerja, saat itu tampil bersahaja, santai, tetapi keyyeeeeen. 

Nah, begitu sang narasumber, Dr. Hasan Djafar muncul bersama pak ketua, Hendra M Astari maka jadilah kami beramai – ramai menuju lokasi. 

Ada tiga kendaraan roda empat yang mengantar kami ke situs yang dituju. Tujuan pertama berada di Kampung Pondok Bitung, Desa Sukaharja, Kec. Cijeruk, Kab. Bogor. Ada dua peninggalan megalitik yang berada di areal tersebut, yaitu Batu Korsi dan Batu Aseupan. Sebelum berangkat seperti biasa kami telah dibekali brosur tentang peninggalan yang akan disambangi dan dalam brosur “Napak Tilas Ke-12” termuat informasi begini:  
 
Perawatan Lingkungan Batu Korsi

Batu Korsi 
Rupa batu yang satu ini benar – benar menyerupai kursi: bagian datar sebagai dudukan dan bagian sandaran. Tinggi batu adesit ini adalah 125 cm dan lebarnya 110 cm. Posisinya memanjang dari selatan ke utara, dengan bagian datar terdapat di ujung sebelah utara. Bila diukur panjang x lebarnya, bidang datar Batu Korsi ini adalah 90 cm x 85 cm. Diduga permukaan rata pada batu itu merupakan sentuhan budaya manusia pada masa lalu. Kontur tanah menuju batu bersejarah itu menanjak. Permukaan tanah berbentuk terasering alias berundak – undak dengan penahan dari bebatuan. 

Batu Aseupan
Batu Aseupan  
Bentuk monolit ini meruncing ke atas dengan sisi – sisinya membentuk empat bidang miring. Tiga dari empat bidangnya memiliki permukaan yang cukup rata. Salah satu bidang datarnya menghadap ke selatan (puncak Gunung Salak). Tingginya mencapai empat meter. Bagian baratnya seolah – olah terpancang sehingga bagian bawahnya membentuk sebuah ceruk. Melewati ceruk ini mengalir selokan kecil dari arah selatan (atas) menuju ke utara. 

Masyarakat lokal menyebutnya sebagai Batu Aseupan atau batu kukusan. Bila dilihat sepintas lalu bentuknya kerucut yang mengingatkan kita pada bentuk kukusan (alat masak tradisional).

Untuk mencapai kedua peninggalan itu kami berjalan kaki lebih kurang sepuluh menit dari tempat parkir. Kami melewati pemukiman penduduk dan jalan setapak sambil mengagumi pemandangan buah menteng yang meranum di atas pohon. Yup! Begitulah! Kami cuma lihat – lihat saja buah itu bertengger di dahannya. Tak ada yang berani mengambil. Menikmati buah yang rasanya manis asam ya saat ada yang beli dan berbaik hati bagi – bagi buat kami. Lalu, penemuan sebuah kebun pokpohan di kaki Batu Aseupan. Saya baru pertama kali lihat daun pokpohan yang biasa jadi pelengkap lalapan, ada sebanyak itu.  Wow! Mantabs dicocol pakai sambal. Slrup! Dan, kok ada yang mendapat kecombrang? Dimana pula gerangan kecombrang itu berada? Asiknaaa masak - masak … . :P 

Usai meninjau Batu Korsi dan Batu Aseupan, perjalanan dilanjutkan ke Guha Lengkop dan Punden Jagakarsa. Brosur dan makalah “Tradisi Megalitik” yang disiapkan panitia sangat membantu peserta mendapat gambaran umum tentang situs. 

Guha Lengkob
Guha Lengkob 
Guha Lengkob berada gua yang berada di lembah atau kaki bukit. Namun keawaman pihak berwenang sehingga penyebutan tempat itu akhirnya dan secara berangsur – angsur disebut Gua Langkop. Deskripsi gua ini sebagai berikut : sebuah gua atau yang mungkin lebih tepat disebut ceruk. Atap dan dinding dari batu sedang alasnyadari batu – batu datar yang disusun rapi. Orang yang hendak masuk harus membungkuknya tubuhnya. Sekeliling gua terdapat formasi batu yang tak beraturan. Beberapa menhir tampak berada di sekeliling gua dengan tinggi yang berbeda – beda. Pun sebuah batu dadar teronggok di dekatnya. Undakan sudah tidak jelas. 



Punden Jagakarsa
Punden Jagakarsa 
Tidak jauh dari Guha Lengkob terdapat Situs Punden Jagakarsa. Ada dua formasi batu dengan jarak satu meter. Punden pertama, susunan batunya agak acak. Tidak jelas ada satu atau dua teras batu di punden ini. Beberapa menhir menunjukkan tinggi yang tidak seragam. Pada punden kedua, susunannya lebih rapi dan tertata. Terdiri dari satu teras batu. Punden agak tersembunyi di antara rerimbunan semak. Penduduk menyebutnya sebagai Jagakarsa atau Embah Jagakarsa. Siapa gerangan sosok yang satu itu, mesti digali lebih dalam. Demikian sebagaimana yang dikatakan HMA (Hendra M. Astari (?))
 * 

Untuk mencapai peninggalan yang berada di Pondok Bitung dan Kampung Tapos tidak bisa dijangkau dengan berjalan kaki sebagaimana acara Napak Tilas ke – 11.

Untunglah panitia sudah menyiapkan tumpangan yang mengantar kami ke sana. Memang minim tantangan. Tak menguras energi, tetapi sebuah pengetahuan dan petualangan baru datang tergelar. Pagi – pagi saya dan beberapa orang mendapat privillige naik Land Rover Keluaran 1979nya Kang Asep. “Whew! Ini nih, mobil jejak petualangan!” Seru saya yang baru pertama kali naik land rover begitu memasuki mobil. Pada saat berangkat kendaraan masih melaju kalem. Begitu menuju Pondok Bitung ketika siang merayap, kami melewati satu titik dengan kemiringan jalan mencapai 45 derajatan. Buat empat pria yang sudah duduk di atap mobil bolehlah itu jadi alasan mengocok adrenalin. Tapi di dalam land rover saya tengah duduk manis dan menikmati celotehan para ibu. Hihihi. 


 *

Peninggalan yang kami saksikan hari itu ternyata belum dikaji secara ilmiah lebih lanjut. Sayang sekali bila benda purbakala dibiarkan terbengkalai dan tak dilestarikan. Rekreasi dan edukasi bisa jadi kombinasi yahud untuk kelanjutan pelestarian budaya. Sebagaimana slogan komunitas yang juga dikutip dari perkataan Bung Karno ini : "Jas merah!" Maka janganlah melupakan sejarah! (Q)


Hatur nuhun: 
Kang Hendra M Astari 
Kang Asep 
Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya