Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2015

Beyond The Inspiration



Pada zaman dahulu kala di suatu negeri bukan antah berantah memerintahlah seorang amir atau panglima perang. Belum lagi usianya menginjak 17 tahun, tujuh bahasa dikuasainya. Pada umur 19 tahun memimpin kota di Kesultanan Utsmani di Adrianopel. Pada saat itu pikirannya dipenuhi bisyarah Rasulullah saw yang berbunyi, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat – hebat amir (panglima perang) adalah amirnya dan sekuat – kuatnya adalah pasukannya.” (HR. Ahmad)

Karena bisyarah itu maka ia pun membentuk pasukan elit yang diberi nama Janissaries. Sejumlah 40.000 orang yang loyal pada Allah dan Rasul – Nya berkumpul untuk penugasan itu. Taktik yang dijalankan adalah memutuskan urat nadi utama Konstatinopel, yaitu Selat Bosphorus. Supaya ia bisa memegang jalur utama perdagangan, transportasi, dan suplai logistik ke Konstatinopel maka dibangunlah Benteng Rumeli Hisari. Tinggi benteng ini 82 meter dengan 7 menara citadel. Dibangun oleh 5.000 pekerja dan selesai kurang dari 4 bulan.

Tetapi, pertahananan Konstatinopel sangat kuat. Tembok Konstatinopel tebal dan tingginya 30 m. Temboknya terdiri dari 3, yaitu Tembok Dalam (Inner Wall), Tembok Luar (Outer Wall), serta parit. Tinggi tembok bervariasi. Tinggi tembok dalam 18 – 20 m, tinggi tembok luar 12 – 15 m dan dalamnya parit 10 dengan lebar 20 m. Ketebalan tembok adalah 5m dan tembok luarnya 2m.

Sang Amir menyadari bahwa dengan cara konvensional mustahil menaklukkan Konstatinopel. Maka dipakailah teknologi persenjataan tercanggih, yakni meriam Orban. Selain itu, sebanyak 250.000 pasukan dipersiapkan untuk ke medan laga.

Tetapi, dengan segala taktik itu kemenangan belum bisa diraih. Misalnya, ketika pasukan muslim hendak melewati Teluk Tanduk Emas, tentara Konstatinopel telah memasang rantai raksasa untuk menghalangi rantai raksasa di laut untuk menghalangi kapal – kapal perang kaum muslim. Lalu, di bagian Selatan, 400 kapal perang yang telah disiapkan sang Amir tidak bisa berbuat apa – apa. Karena dihadang kapal – kapal Konstatinopel yang besar dengan pasukan yang lebih berpengalaman. Banyak kapal kaum muslim karam dan hancur dalam serangan laut. Sementara itu di sebelah Barat, dengan gencar pasukan kaum muslim memborbardir tembok Konstatinopel tanpa henti, dentuman – dentuman yang memekakkan telinga dan menggetarkan bumi terus dilancarkan.

Demikian pula dengan keampuhan meriam Orban diberdayakan seoptimal mungkin. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan 3 jam sekali. Hal itu jelas membuat pihak lawan punya waktu memperbaiki tembok.
Dengan segala upaya yang telah dilakukan nyatanya tak mampu menaklukkan Konstatinopel. Alhasil korban dari pihak kaum muslimin berjatuhan. Nada – nada sumbang untuk melemahkan perjuangan merebak.

Tetapi, sang Amir tetap mengobarkan semangat prajuritnya dengan bisyarah Rasulullah saw. Bisyarah itu adalah keyakinan kaum muslimin yang tidak diambil dari fakta yang ada di sekelilingnya, tetapi hanya dari ucapan Allah dan Rasulullah saw. They believe in something that can’t be seen by eyes.

Setelah itu, sang Amir menitahkan pasukannya memindahkan kapal melewati Bukit Galata. Sebanyak 72 kapal pindah dari Selat Bosphorus menuju Teluk Tanduk Emas dalam waktu semalam. Pada pagi harinya, 22 April 1453 disertai takbir dan tahlil pasukan Konstatinopel diserbu dan dipukul kaum muslimin.

Seorang sejarawan bernama Yilmaz Oztuna menggambarkan kejadian itu sebagai kejadian yang tidak pernah dilihat dan tidak pernah didengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal – kapalnya di puncak – puncak gunung sebagai pengganti gelombang – gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great. Benar! Sosok sang Amir adalah Muhammad II bin Murad II yang diberi gelar Al Fatih (sang penakluk), menurut para sejarawana tidak pernah menjadi masbuq dalam shalatnya; tidak pernah meninggalkan shalat rawatib yang secara tak langsung berarti tak pernah menunaikan shalat fardhunya. Teguh menegakkan shalat tahajud karena ia ingin mengikuti tabiat nabi.


Ada sembilan bab dalam buku Beyond the Inspiration. Tetapi, bab “Beyond The Inspiration” adalah bab favorit saya. Ya itu yang sudah paparkan di atas. Menggetarkan hati. Mengagumkan. Sejarah mencatat dan saya membacanya sekarang. Kejayaan Islam dikibarkan oleh seorang pemuda istimewa. Pemuda yang menguasai Konstatinopel pada usia 21 tahun. Berperang dengan pasukan kafir dalam perang Salib pada usia 12 tahun. Delapan abad setelah kehadiran rasulullah sebagai utusan yang memperbaiki akhlak.

Tulisan tentang Al Fatih termuat dalam beberapa buku lainnya, misalnya dalam Atlas Perang Salib dan Perang Salib. Konten kedua buku itu sangat berat. Kehadiran buku Beyond the Inspiration kehadiran menjadi istimewa karena buku ini mempermudah pemahaman saya tentang satu bagian kecil sejarah peradaban Islam, sejarah perang salib itu. Selain itu, juga karena saat saya tengah berada di kelas ketika tiba – tiba seorang pemuda menyodorkan buku Beyond the Inspiration. Dia meminjamkan buku ini padahal tak saya minta. Saya hampir tak pernah meenemukan anak – anak usia remaja menyelami buku macam ini. Apalagi dari seorang pemuda istimewa, seorang siswa SMP, bernama Fadel Arozaqi. Sangat tak terduga. Tapi di akhir bacaan saya senang dan puas membaca buku ini. Bab “Beyond the Inspiration” sangat mengesankan. (Q)

Sumber : Siauw, Felix Y. 2011. Beyond the Inspiration. Jakarta : Khilafah Press.

Senin, 04 Agustus 2014

Angels & Demons



… .

Langdon tersenyum. Dia berjalan hilir mudik di depan papan tulis sambil menguyah apel.

“Mr. Hitzrot!” dia berseru. Seorang pemuda yang mengantuk di deretan belakang segera menegakkan duduknya karena terkejut,

“Apa! Aku?”

Langdon menunjuk poster Renaisans yang menempel di dinding.

“Siapa lelaki yang berlutut di depan Tuhan?”

“Mmm… seorang santo?”

“Hebat. Dan bagaimana kau tahu dia itu santo?”

“Dia mempunyai halo?”

“Bagus sekali. Dan apakah halo keemasan itu mengingatkanmu pada sesuatu?”

Hitzrot tersenyum. “Ya! Benda Mesir yang kita pelajari semester lalu. Itu … mm … cakram matahari!”

“Terima kasih, Hitzrot. Tidurlah kembali.” Langdon kemudian memerhatikan mahasiswa lainnya.

“Halo, seperti juga simbol Kristen lainnya, dipinjam dari agama Mesir Kuno yang menyembah matahari. Agama Kristen dipenuhi contoh – contoh pemujaan matahari.”

“Maaf?” gadis yang duduk di deretan depan itu berkata lagi. “Aku selalu ke gereja, tapi aku tidak pernah memuja matahari.”

“Betulkah? Apa yang kau rayakan pada 25 Desember?”

“Natal. Hari lahir Yesus Kristus.”

“Tapi, menurut Alkitab, Kristus lahir pada bulan Maret. Kenapa kita merayakan pada akhir Desember?”

Diam.

Langdon tersenyum. “Tanggal 25 Desember adalah hari libur kaum pagan kuno, sol invictus – Matahari yang Tak Terkalahkan – bertepatan dengan titik balik matahari pada musim salju. Itu saat yang luar biasa dalam setahun ketika matahari kembali bersinar, dan hari mulai bertambah panjang.”

Langdon menggigit apelnya lagi.

“Penyebaran agama Kristen,” dia melanjutkan, “sering mengadopsi hari – hari suci yang sudah ada upaya masuk – Kristen tidak terasa terlalu mengejutkan. Itu disebut transmutasi. Itu membantu orang untuk menyesuaikan diri dengan agama baru mereka. Para pemeluk baru itu terus mempertahankan tanggal – tanggal suci mereka, berdoa di tempat – tempat suci yang sama, menggunakan simbologi yang sama … dan mereka hanya semata – mata mengubah tuhannya dengan yang baru.”

Sekarang gadis di depan itu tampak marah. “Anda menyindir kalau agama Kristen hanyalah … pemujaan matahari dengan kemasan ulang?”

“Sama sekali tidak. Agama Kristen tidak hanya meminjam dari para pemuja matahari. Ritual kanonisasi seorang Kristen Kristen diambil dari ritual ‘pengangkatan dewa’ milik Euhemerus. Ritual “Tuhan makan’, atau Pemujaan Kudus, diadopsi dari Aztec. Bahkan konsep Kristus mati untuk menebus dosa dipandang sebagai bukan milik Kristen semata; pengorbanan diri seorang pemuda untuk menebus dosa – dosa rakyatnya ada dalam tradisi Quetzalcoat yang paling awal.”

Gadis itu melotot. “Jadi apa yang asil dari agama Kristen?”

“Dalam setiap agama yang terorganisasi, hanya sedikit ritual yang asli. Agama – agama tidak terlahir begitu saja. Suatu agama berkembang dari agama lainnya. Agama modern merupakan sebuah susunan … sebuah percampuran catatan sejarah mengenai pencarian manusia untuk mengerti Tuhan.”

“Mmm … tunggu dulu,” Hitzrot mencoba – coba, tampaknya sudah terbangun sekarang, “Saya tahu sesuatu yang asli dari Kristen. Bagaimana dengan gambaran kita akan Tuhan? Kristen tidak pernah menggambarkan Tuhan sebagai dewa matahari, elang, atau seperti orang Aztec, atau apa saja yang aneh. Gambaran Kristen selalu berupa seorang lelaki tua dengan janggut putih. Jadi gambaran kita tentang Tuhan adalah hal yang asli, bukan?”

Langdon tersenyum, “Ketika orang – orang Kristen pertama beralih meninggalkan tuhan mereka yang terdahulu – dewa – dewa pagan, dewa - dewa Romawi, Yunani, matahari, Mithraic, apa pun itu – mereka bertanya kepada gereja bagaimana rupa Tuhan Kristen mereka yang baru. Dengan bijaksana gereja memilih wajah yang paling kuat, paling ditakuti … dan paling terkenal dari seluruh catatan sejarah yang ada.”

Hitzrot tampak ragu, “Seorang lelaki tua dengan janggut putih yang panjang?”

Langdon menunjuk poster yang berisi hierarki dewa – dewa kuno yang tergantung di dinding. Di puncaknya duduk seorang lelaki tua dengan janggut putih yang panjang.

“Apakah Zeus terlihat seperti tokoh yang cukup kalian kenal?”

Kuliah itu berakhir tepat di situ.

*

Dan Brown, Angels & Demons, hlm.293 – 295, Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.

Senin, 23 Juni 2014

In "Into The Wild", Jon Krauker



Bentang alam negeri ini telah menjadi sebagian dari diriku. Jalan – jalan setapak yang kubuat mengarah ke perbukitan dan rawa – rawa, tetapi jalan – jalan setapak itu juga mengarah ke dalam batinku.  Dari penelitian tentang hal – hal yang ada di bawah kakiku, dan dari membaca dan berpikir, muncul semacam penelaahan, tentang diriku dan tanah ini.  Pada saat yang sama keduanya menyatu  di dalam pikiranku. Dengan semakin kuatnya kesadaran akan hal – hal esensial yang mengemuka dari titik terendah, aku menemukan kerinduan yang sangat dalam dan permanen di dalam diriku – untuk mengabaikan pikiran untuk selamanya, dan semua kesulitan yang dibawanya, semua, kecuali keinginan yang paling dekat, langsung, dan mencari – cari. Untuk menelusuri jalan setapak itu tanpa menengok ke belakang. Baik dengan berjalan kaki, dengan sepatu ski, atau dengan kereta salju menuju perbukitan musim panas dan bayangan – bayangan mereka yang lambat membeku – sebuah lautan api yang tinggi, sebuah jejak pelari di atas salju akan menunjukkan ke mana aku pergi. Biarkan seluruh umat manusia mencariku jika mereka bisa.

John Haines, The Stars, The Snow, The Fire : Twenty Five Years in The Northern Wilderness

Senin, 19 Mei 2014

Into Thin Air



Maret 1996, majalah Outside mengirimku ke Nepal untuk berpartisipasi dalam, dan menulis tentang pendakian di Gunung Everest yang dipandu.  Aku berangkat sebagai salah seorang dari delapan peserta dalam sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh seorang pemandu terkemuka dari Selandia Baru bernama Rob Hall. Pada 10 Mei, aku tiba di puncak gunung, tetapi keberhasilan mencapai puncak Everest itu harus dibayar dengan sangat mahal. Ekspedisi itu membuatku terguncang sehingga aku kesulitan menyusun tulisan untuk Outside.

Beberapa penulis dan editor yang kuhormati menyarankan agar aku tidak terlalu terburu – buru menulis buku ini; mereka memintaku untuk menunggu dua atau tiga tahun; untuk memberi ruang antara diriku dan ekspedisi Mei 1996 tersebut, agar aku bisa memperoleh sudut pandang yang lebih jelas.  Meskipun saran yang mereka berikan sangat bijak, tetapi pada akhirnya aku harus mengabaikannya – terutama karena peristiwa di gunung itu terus menggerogoti jiwaku.  Kupikir, menuliskannya ke dalam sebuah buku bisa membuatku melupakan Everest.

Ternyata tidak. Terlebih lagi, aku juga setuju bahwa kepuasan pembaca kurang terlayani jika karya seorang penulis merupakan bagian dari upaya untuk menyembuhkan jiwa, seperti  yang kulakukan dalam buku ini. Namun, aku berharap sesuatu bisa diperoleh jika aku mengungkapkan perasaanku tentang akibat langsung dari bencana tersebut, ketika perasaan sedih dan kenangan tentang itu masih segar dalam ingatanku. Aku ingin ceritaku memiliki kejujuran yang benar – benar mentah dan tanpa belas kasihan, kejujuran yang bisa hilang seiring berjalannya waktu dan memudarnya derita yang kurasakan.

Beberapa orang yang mengingatkanku agar tidak terburu – buru menuliskan cerita ini adalah orang – orang yang pernah mengingatkanku agar tidak berangkat ke Everest.  Ada banyak alasan bagus, mengapa aku tidak boleh pergi, tetapi upaya untuk menaklukkan Everest merupakan tindakan tidak masuk akal yang sudah menjadi bagian dari diriku.  Setiap orang yang dengan sungguh – sungguh berpikir untuk melakukannya, hampir dipastikan, sudah terganggu akal sehatnya.

Kebenaran yang paling sederhana  adalah aku tahu bahwa aku tidak seharusnya pergi ke Everest, tetapi aku pergi juga. Dan karena itu, aku ikut menjadi penyebab tewasnya orang – orang yang baik, sesuatu yang mungkin mengusik batinku untuk waktu yang sangat lama.



Seattle, November 1996
Jon Krakauer

Senin, 01 April 2013

Buku Bacaan Bulan Ini




1. Khadijah, Ketika Rahasia Mim Tersingkap


Novel sejarah itu, memukau. Pembaca tidak saja mendapat katarsis kehidupan, tetapi menerima sajian data.  Sebagaimana  perkataan Tasaro GK, saya jadi belajar mencintai Bunda Khadijah secara revolusioner pula. Pemahaman revolusioner kami mungkin berbeda. Karena memasuki dunia Khadijah, Ketika Rahasia Mim Tersingkap saya sedikit ngeri atas persepsi sang penulis, Sibel Eraslan atas bunda kita, Khadijah, seorang istri tokoh dunia sepanjang masa, Rasulullah SAW. Tidak ada detail merusak, justru  kehidupan dan kecantikan hati wanita agung itu direkonstruksi dengan indah dan penuh hormat.  Untuk mencapai tingkat ini atau saat menggambarkan tokoh sepenting itu perlu riset mendalam dan seorang berhati bersih. 

Waktu akhirnya saya berhenti “berpikir” dan berharap memperoleh data lebih banyak dan menikmati alur cerita dalam buku itu, saya dapatkan pelajaran yang berharga dan temukan bahwa kandungan dalam buku ini sangat romantis. Novel ini mampu melayangkan angan untuk memiliki kasih sayang dan cinta pendamping hidup yang akan menghapus semua kelelahan dan kekhawatiran dalam hidup; memiliki seseorang  yang membuat dirinya bangkit dan bersemangat kembali;  mempunyai suami yang wajahnya menyiratkan surga; menghubungkan hidupnya dengan kehidupan suaminya; memperbanyak cinta dan hanya diberikan kepada suaminya.  Segalanya itu hanya bisa tercapai manakala sang pria merasa kasih sayang istrinya adalah kerajaan buatnya dan berlaku timbal balik .  Mereka saling melengkapi.

Lalu, saya sadari kemudian, ekspektasi saya atas cerita cinta ini sangat besar.  Biarpun happy ending, tetapi sampai tahap ini rasanya seperti baru mencicipi  hidangan pembuka. Saya berharap buku ini dua kali lipat – bahkan tiga kali lipat – tebalnya, dan seandainya buku itu menjadi bengkak  pasti saya akan baca berulang kali juga. 


Eraslan, Sibel. Khadijah, Ketika Rahasia Mim Tersingkap. 2013. Depok : Kaysa Media.



2. Born to Be Genius


Saya sudah pernah baca buku ini beberapa tahun yang lalu, namun entah mengapa saya bisa sama sekali lupa. Rasanya seolah - olah baru pertama kali membaca buku ini. Yang menjadikannya istimewa karena saat ini saya sedang sangat perlu membaca buku semacam ini dan empunya kitab  tahu – tahu menyodorkan kembali buku karangan Adi W Gunawan ini.  

Dalam Born to Be Genius, tuturannya santai, tapi bernas. Isinya tentang  penerapan pendidikan yang tepat sesuai kepribadian anak.  Buku ini sangat menginspirasi. Banyak hal baru dalam buku ini yang sangat berguna untuk diterapkan buat anak – anak. Beberapa hal yang kerap saya pertanyakan sebelumnya terjawab di buku ini. 

Ada buku yang semakin tebal, semakin baik, tetapi buku  253 halaman ini bagi saya sudah terasa cukup.  Saya seperti menikmati hidangan lezat aneka rasa. Menyantap tanpa perlu sampai kekenyangan, dan cuma dengan  1/3 volume yang memenuhi perut saya, saya sudah merasa puas dan mendapat gizi lebih. 


Gunawan, Adi W. Born to Be Genius. 2004. Jakarta : P.T. Gramedia Pustaka Utama. (Q)


Senin, 18 Juni 2012

Kane and Abel


Buku

Kane & Abel adalah sebuah novel yang ditulis Jeffry Archer dan terbit pertama kali tahun 1979 di  Inggris. Sekitar tahun 1986 khayalak Indonesia disajikan cerita itu dalam bentuk cerita bersambung di Kompas. Penerjemahnya bernama Joko Raswono. Biar telah diterjemahkan, novel itu tidak diterbitkan di sini, tapi saya masih menyimpan klipingnya. Warna kertasnya sudah tua dan coklat, sekilas mirip naskah tua yang rapuh. Biar begitu, tiap kali membacanya tiba – tiba diri saya sudah tenggelam, tak terpengaruh kualitas kertas.

Saya baru kelas satu SMP ketika itu. Kane dan Abel adalah cerita pertama yang saya baca dengan perspektif yang berbeda. Oleh karena,  bacaan yang biasanya dilahap : Lima Sekawan, Sapta Siaga, Tintin, Lucky Luke, Binky, Tanguy & Laverdure, Arad dan Maya, Nina, Asterix, Majalah Bobo, Cergam Mimin dan Bhatarayuda. Semua cerita itu bergambar dan mengambil sudut pandang anak – anak dan remaja tanggung.

Sebagai anak ingusan saya sudah terpikat dengan jalinan cerita yang rumit, namun memukau itu. Sang penulis terlihat piawai dalam menulis. Di dalam benak saya alur cerita dalam novel itu bagai kepang gadis kecil yang saling silang tapi akhirnya bertaut di ujung kunciran, dengan pita. Sungguh menarik membaca kehidupan tentang dua orang yang bersisian di dua lokasi yang berbeda. Terkadang mereka berhenti di sebuah titik entah sebagai lawan atau kawan.

Paralel

Cerita Kane and Abel bermula sejak dua tokoh utama lahir. Abel lahir di Benua Eropa, sedangkan Kane lahir di Benua Amerika. Pada usia belia, keduanya sudah ditinggal mati orang – orang yang mereka cintai. Ketika dewasa mereka sama – sama menamakan anak – anak pertama mereka  dengan nama para mendiang.

Perjuangan hidup mengantar Abel menginjakkan kakinya di Amerika. Dalam perjalanannya kemudian, masalah keuangan perusahaannya menyeretnya terlibat dengan bank dimana Kane bekerja.  Pihak bank tidak mau memberi modal tambahan kepada pihak hotel di masa resesi ekonomi akhir tahun 20an itu. Abel menyalahkan Kane atas kematian direktur utama hotelnya. Pada saat bersamaan, Boston , 4 Februari 1930 Kane memberi bantuan finansial untuk menyokong usaha perhotelan Abel secara rahasia. Tapi sudah kepalang tanggung, Abel “yang buta” mulai menaruh kebencian pada Kane.

Dalam kurun dua puluh lima tahun permusuhan itu, ada suatu masa mereka malah saling membantu. Tanpa pamrih.  Tanpa pernah mengenal satu sama lain, misalnya: Jerman 1945 dalam Perang Dunia Kedua Kolonel Abel Rosnovski menyelamatkan Kapten William Kane yang tubuhnya penuh balutan perban.

Namun, mereka tidak tahu. Mereka tetap “berperang”. Hingga pada akhirnya Abel berhasil menggulingkan Kane dari jabatan presiden diretur di Bank Lester. Kemenangan gemilang yang justru tidak dinikmati Abel.  Sementara bagi Kane kejadian itu tidak dipungkiri sangat memukul.  “Saya telah dibuang keluar bankku sendiri,” tangisnya. “Dewanku sendiri tidak lagi mempercayaiku. …”

Penyesalan

Membaca itu di usia tiga belas tahunan sungguh membuat saya resah atas nasib Kane dan geregetan dengan ulah Abel. Seharusnya nasib tragis para tokoh itu tidak usah terjadi supaya hidup tokoh – tokoh itu tetap harmonis. Inginnya nama investor anonim yang membantu keuangan Abel dikuak oleh si pembawa rahasia. Namun tahu apa saya? Jeffry Archer, sang penulis membiarkan si pembawa rahasia dibebani kode etik perusahaannya untuk tutup mulut dan jadi penonton atas permusuhan Kane dan Abel yang semakin lama semakin penuh kebencian dan menghancurkan.

Tapi dipikir – pikir bila jalinan cerita tidak diatur begitu sebagai anak bau kencur saya mungkin tidak terkesiap dengan bab percintaan Richard Kane dan Florentyna Rosnovski. Anak dua musuh bebuyutan yang malah saling jatuh cinta, melarikan diri dari keluarga masing – masing, dan menikah di ujung dunia lain. Keduanya bertahan di rimba raya tanpa dukungan finansial orang tua masing – masing. Mereka jadi pengusaha sukses dan siap membuka butik baru di Fifth Avenue, New York, kampung halaman mereka. Dalam keyakinan mereka para ayah yang keras kepala tidak akan bergabung merayakan acara pembukaan itu, meski undangan telah disampaikan.

Akan tetapi, yang tidak mereka ketahui, William Kane melangkahkan kaki menuju dan memandang anak dan menantunya dari kejauhan. Setelah dirasa cukup menikmati, Kane pulang. Saat berjalan pulang ia berpapasan dengan orang tua bergelang perak.  Mereka saling mengangkat topi dan melanjutkan jalan mereka yang terpisah tanpa sepatah kata pun.

Gelang perak! Masa lalu berkelebatan. Dalam benak Kane, sekejab semuanya cocok. Pertemuan mereka di Plaza, Boston, lalu Jerman dan kini di Fifth Avenue.  Bermula di Hotel Plaza (usai wisuda SMA) Kane melihat seorang pelayan restoran hotel bergelang perak. Lalu, Boston, 4 Januari 1930 samar – samar Kane mengenali gelang perak yang dikenakan kliennya meskipun tak pasti dimana pernah melihat. Terakhir, di Jerman, Februari 1940 Kapten Kane melihat gelang yang sama melalui balutan perban di wajahnya. Perlu puluhan tahun untuk sadar bahwa ia telah diselamatkan kolonel gendut dan pincang yang sebenarnya bertugas mengurusi ransum para prajurit dari garis depan pertempuran. Gelang itu menjawab kesia – sian “pertempuran mereka” Semua tertuju pada satu orang yang sama yaitu Abel Rosnovski.

Di lain pihak, pada hari yang sama Kane menghembuskan napasnya yang terakhir dalam keadaan puas, tenang dan damai,  sepucuk surat wasiat dilayangkan kepada Abel. Wasiat itu membongkar kedermawanan Kane pada Abel bertahun – tahun silam.

Abel hanya bisa berdiri tersembunyi di belakang para pelayat untuk menyampaikan rasa hormat terakhir pada jenazah Kane. Yang dilakukan selanjutnya adalah mengundang anak dan menantunya ke rumahnya. Menyatakan bela sungkawa atas meninggalnya Kane. Menyingkap pertemuannya dengan Kane di jalan pada perayaan toko baru Florentyna. Mengakui  secara rinci kesalahannya selama bertahun – tahun. Menumpahkan rasa dalam benaknya bahwa tak selintas pukas terbesit bahwa Kane adalah penolongnya di masa lampau; dan betapa di dalam hati kecilnya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi.

Penyelesaian

Kane and Abel sudah membekas selama dua puluh tahunan. Itu cuma fiksi. Terlalu banyak kebetulan dan persimpangan, tapi itu salah satu cerita yang indah dan saya sangat suka.

Hidup kita bersisian, Teman! Biar sejenak. Bersinggungan. Mungkin saling melukai. Tanpa disengaja tentunya. Saya tidak mau kita jadi seperti Kane & Abel yang saling mengganggu dan melukai. Saya tak ingin pandangan hidup kita tersesat dan perlu bertahun – tahun menyadari kesia – siaan ini. Namun apa daya saya akan masa depan? Saya tidak tahu apa – apa tentang masa depan kecuali berbuat hal baik di masa kini dan berusaha memperbaiki hal – hal buruk sedikit demi sedikit. Biarlah si pembawa rahasia yang menjawab takdir kita. Mari kita jalani hidup ini dengan keikhlasan.