Senin, 27 April 2026

Anamnesis

Perjalanan Delapan Belas Bulan Menuju Meja Operasi



     Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, di sinilah aku di dalam ruang operasi yang dingin. Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan dan kurasakan, kecuali berdoa, berzikir,dan memasrahkan hidupku pada Ilahi. Aku hanya diam sambil memperhatikan sekeliling. Tak ada yang mengajakku bercakap-cakap, hanya pertanyaan satu arah dari tenaga medis yang datang silih berganti.

     Prosedur jelang operasi sudah kujalani sejak pukul 6 pagi: puasa, mandi dengan antiseptik, salin baju operasi, dan  menunggu. Entah dari mana sumbernya, namun tak ada rasa gentar selain ketenangan dalam hatiku. Segalanya di ruang  rawat inapku terasa hening, adem, dan damai. Bahkan pepohonan yang bergoyang-goyang dalam bingkai jendela itu terlihat menyenangkan. Tanpa terasa aku pun terlelap.  

     Begitu bangun waktu hampir menunjukkan pukul 12.00 siang. Aku masih berpikir jadwal operasi akan meleset dari yang sudah dirancang. Entah apapun alasan, rasanya di mana-mana tidak ada yang benar-benar tepat waktu. Setidaknya pukul 13.00 aku baru akan dibawa ke ruang operasi, batinku menghibur diri sendiri. Tapi, aku tak lantas bersantai. Segera kuberwudhu dan siap mendirikan shalat zuhur. Tapi tahu-tahu dua orang bidan datang menjemputku. Mereka bilang dokterku sudah meminta mereka membawaku sekarang.

*

     Singkat cerita, di sinilah aku di dalam ruang operasi yang dingin. Para asisten berseliweran mempersiapkan operasiku. Tak satu pun wajah mereka yang kukenal. Lalu, aku didiamkan sendiri di ruang tunggu. Jeda waktu yang entah berapa lama tersedia kugunakan untuk mendirikan Shalat Zuhur darurat. Tanpa mukena. Tanpa sajadah. Tanpa arah kiblat yang jelas, dan melaksanakannya dalam keadaan duduk. Anehnya, juga tanpa gangguan sedikit pun! Seolah - olah slot waktu itu hanya disediakan untukku.

     Lalu, muncul seorang pria bermasker dan berpakaian hijau. Ia memperkenalkan siapa dirinya dan apa yang akan dia lakukan padaku. Katanya, ia adalah dokter anastesiku. Ia akan memberikan suntikan ke belakang punggung yang efeknya membuat separoh tubuhku mati rasa.

     Aku mengiyakan tanda paham.

    Aku tak tahu apa lagi yang sedang mereka kerjakan. Yang jelas, tubuhku diletakkan di meja operasi. Kedua belah tanganku direntangkan ke samping. Lalu, sebuah gawang berdiri di atas dadaku. Setelah itu, disampirkan kain hijau sebagai sekat. Tingginya kira-kira 30 cm sehingga sekarang sudut pandanganku jadi terbatas. Namun, aku masih sempat lihat jam dinding menunjukkan beberapa menit menuju pukul satu. 

     Saat itulah seraut wajah melongok dari sebelah kanan. Dengan senyum kecilnya yang hangat, ia bertanya, "Dingin ya?"

     "Iya." sahutku pendek sembari membalas senyumnya dan menarik selimut lebih rapat ke leher.

     Dokter Kemas tak berkata apa-apa lagi. Kepalanya menyembul dari balik sekat. Sekarang posisinya berada di sebelah kiri. Ia melongok dan berkata, "Kita mulai ya!"

     Beliau sudah memberi aba-aba. Aku mengangguk.

     "Bismillahhirahmanirrahim." lirihku.

     Aku mencium aroma daging terbakar mulai menguar di dalam ruangan. 

*

​Oktober 2024

          Umurku sudah setengah abad, tanda pre-menopause sudah di depan mata. Lumrah bila siklus haidku tak beraturan. Lumrah pula bila masa haidku tak jelas-meskipun biasanya bila terjadi pun cuma berlangsung antara lima sampai tujuh hari. 

     Tapi bulan ini kekhawatiranku membuncah. Sudah lebih dari seminggu darah haidku masih deras. Aku masih pakai jenis pembalut yang tebal, bersayap, dan terpanjang. Biasanya aku pakai jenis pembalut begini khusus untuk tiga hari pertama ketika normalnya datang bulan. Informasi apapun tidak bisa diabaikan, bahkan waktu ada orang bilang bila menstruasi berlangsung lebih dari dua minggu pertanda darah penyakit.  Aku sadar hal ini tak bisa didiamkan berlarut-larut. Aku tak boleh berdiam diri dan mengumpulkan rasa cemas semata. Mau tak mau kunjungan ke klinik faskes tingkat satu sudah masuk agendaku. Namun, syukurlah tepat di hari keempat belas aku sudah kembali suci dan tak jadi berobat.

*

Januari 2025

          Aku bertolak ke Kuala Lumpur. Agendanya adalah liburan, tapi obat penghenti darah haid telah jadi bagian perbekalanku. Dua hari menjelang keberangkatan dokter meresepkan obat ini. Aku berharap kelak, setidaknya maksimal di hari keempat belas pendarahanku berhenti.    

     Perkiraanku meleset. Aku tak sepenuhnya bisa menikmati keunikan Kota Nilai, Banting, dan Kuala Lumpur selama hampir tiga minggu ini. Perjalananku diwarnai haid yang tak kunjung selesai, kelelahan yang tak bisa kuutarakan pada suami, dan frekuensi kebutuhan buang air kecil yang meningkat. Entah berapa cc darahku terkuras, tapi tak kurasakan pusing atau anemia atau apapun itu. Oleh sebab itu, sebagian dariku masih mengatakan aku baik-baik saja. Semua yang sedang terjadi padaku adalah bagian dari gejala premenopouse. Masih dalam tataran wajar. Tak perlu mencemaskan apapun, begitu batinku.

     Tapi ada orang lain yang mengkhawatirkanku. 

     Di KL Sentral akhirnya aku menuruti  permintaan suamiku berobat. Pertama ke sebuah klinik di Mal NU Sentral. Tak ada obat yang diberikan.Tak ada jawaban yang memuaskan. Tentu saja aku tetap merasa penasaran dengan keadaanku. Tentu saja aku tahu klinik tidak memadai untuk melakukan pemeriksaan dibandingkan rumah sakit. Tetapi aku enggan sekali ke rumah sakit manapun di Kuala Lumpur. Aku tak bermaksud memandang sebelah mata peran klinik.

     Lalu kedua, kami ke klinik dekat Hotel Citi Sentral. Kami berjumpa dengan dokter senior yang sangat informatif.  Ternyata beliau bergelar Dr. titik titik titik MBBS.DCH.LM.D.OBST.,R.C.P. Entah apa artinya karena titel tersebut berbeda dengan gelar dokter di Indonesia. Ia menanyakan gejala yang kurasakan, berapa lama sudah kualami pendarahan ini, berapa banyak pembalut yang kupakai dalam sehari dan bahkan menawarkan pemeriksaan lanjutan yang lebih saksama agar kami tahu sebenarnya. 

     Tak ada maksud menampik tawarannya, tetapi aku pilih pemeriksaan lengkap di rumah. Dalam dua hari mendatang kami sudah  akan meninggalkan Negri Jiran itu, dan karena sesungguhnya .... Aku takut.

*

     27 Januari 2025 aku mendaftar di poli obstetri dan ginekologi. Lima hari berlalu sesudah bertemu dokter KL Sentral. Kondisiku sebenarnya sudah stabil. Obat yang diresep dokter KL Sentral sangat mujarab. Dosis tinggi. Pendarahanku sudah terhenti. Tapi demi kepatuhanku pada suami kujalani pemeriksaan USG, melakukan wawancara, dan mengajukan permintaan medical check up di rumah sakit itu. 

     Alhasil ketahuan pendarahanku itu disebabkan miom berukuran 7,33 x 4,16 cm. Ada dua opsi mengatasi miom yang mengganggu, yaitu operasi atau membiarkan miom itu mengecil dengan sendirinya secara alami ketika menopause. Tak ada obat yang diberikan. Dokter hanya  menyuruhku menghabis obat yang tersisa dari dokter KL Sentral.

      Sesederhana itu penjelasannya dengan pembawaannya yang tenang dan suara pelan. Aku menghargai dan menerima pendapatnya. Ia memiliki kualitas interaksi yang menyamankan dan sangat cocok buat ibu - ibu hamil.  Aku terkesan, tapi aku memilihnya karena beliau dokter senior di rumah sakit itu; berpendidikan baik; menjalankan praktik di sejumlah rumah sakit yang salah satu lokasi praktiknya berada di Jakarta-di salah satu kelurahan tempat masa kecilku. Belakangan kuketahui, beliau adalah seorang bangsawan Palembang berdasarkan gelar yang tersemat berdampingan dengan namanya. Info yang relatif singkat, tapi berkelindanan dengan hidupku. Semua  itu membuatku merasa bahwa kepentinganku akan tercukupi oleh Dokter Kemas.

      Di dalam hati aku bertekad melakukan apapun untuk menghindari operasi. Aku pilih menyongsong kedatangan menopause.  Aku akan perbaiki asupan makananku, diet, dan sederet niat unggulan agar miomku terkendali, tak ada pendarahan susulan, dan yang pasti kembali sehat wal afiat, dan sepanjang sisa tahun 2025 setidaknya aku masih kontrol dengan surat rujukan yang diperpanjang sebanyak dua kali lagi.

      Di saat yang bersamaan masalah kelelahan jadi hal yang tak kunjung hilang. Di waktu - waktu tertentu energi tubuhku seakan diperas. Body massage tidak mempan. Infus cernivit hanya manjur pada dua bulan pertama. Tiga bulan berikutnya tiap kali sehabis infus (bahkan) sesampainya di rumah tubuhku kembali kepayahan. Hingga pada akhirnya kutemukan resep mengatasi lelah, yaitu jalan pagi jarak pendek minimal lima belas menit.

     Progres kondisi kesehatanku tidak juga memuaskan suamiku. Kemunculan infeksi saluran kencing membuatnya berpikir yang tidak - tidak. Beliau mendesakku untuk menjalani CT Scan whole abdomen non contras ke SHBT. Hasilnya semua baik, kecuali penyakit yang sedang kuidap. Akhirnya suamiku bilang, mudik mendatang ia akan mendampingiku. "Yuk operasi!" katanya.

*

     Di sinilah aku masih di dalam ruang operasi yang dinginnya membuatku menggigil. Hari ini Senin, 30 Maret 2026 kujalani operasi perdana yaitu operasi pemotongan miom yang bercokol di perutku. Hatiku tenang, tanpa gundah atau pun panik. Tak ada perih atau nyeri sedikit pun ketika operasi berlangsung.  Tapi aku kembali membaui samar-samar aroma daging terbakar sekelebatan. Selama proses itu sudah dua kali asisten yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula mendekati mejaku. Yang satu ini berdiri membelakangiku. Ia cuma bergeming memperhatikan dokter dan asistennya melakukan tindakan. Suara Dokter Kemas terdengar sayup-sayup. Lantunan sebuah lagu Indonesia yang mewarnai ruang operasi mencairkan sarafku. Tapi aku masih tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku.

     Akhirnya Dokter Kemas mendekatiku. Ia menyorongkan baki berisi dua puluh miom besar kecil tanda berakhirnya operasi. Tak jelas semuanya seperti apa, tapi tak mengapa. Kuucapkan terima kasih padanya dengan suara parau. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 menitan.

     Dengan baki itu, ia keluar menemui keluargaku. Ia meninggalkanku bersama para asisten yang tersisa. 

     Mereka merapikan dan menempatkanku di ruang observasi. Aku tengah tidur ayam sambil berusaha mengendalikan badanku yang kedinginan. Tak tahu berapa lama aku terlelap. Saat kubuka mata, aku lihat punggung Dokter Kemas keluar dari ruang observasiku. Ia tak tahu aku sudah bangun. 

     Selang beberapa menit kemudian, giliran para bidan menjemput dan mengembalikanku ke kamar rawat inap. Aku senang lihat wajah suamiku menyambutku di luar.

*

     Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang menganugerahkan lini masa dan sistem pendukung yang luar biasa ini. Pengaturan waktunya di-set penuh kedamaian. Aku menemukan orang - orang istimewa di sekelilingku. Orang-orang dengan ketulusan, perhatian, dan kerendahan hati menolong sesama. Sesuatu yang kubutuhkan, tidak berlebihan, dan sederhana saja. 

     Hari ini tepat tiga puluh hari lalu, kondisiku berangsur - angsur pulih. Doa dari banyak kerabat, teman, dan keluarga jadi penguatku. Kepulangan dan pendampingan suamiku jadi pelipur laraku nomor satu. Setiap langkah kulalui dengan tenang. Urusanku dipermudah. Ketakutanku diangkat. Walaupun terdengar aneh, tetapi rangkaian ini jadi salah satu momen terbahagia buatku. 

     "Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, hanya Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit."  Aamiin yaa Rabb 

     Itulah ceritaku. 


Senin, 27 April 2026.




Tidak ada komentar: