Kamis, 22 September 2011

Waktu Bahagia

adalah

waktu bersenang – senang di dapur tanpa harus mencuci piring


waktu nasi bakar, kaki naga, kuku macan, kapal selam, sarang semut, telur gabus, terang bulan, putri ayu, kembang goyang, pacar cina, sup biduk sungai musi, cuma perlu seiris, secuil, sepotong, semangkuk, atau sebuah

waktu seluruh racun mengalir deras melalui pori – pori kulit, menetes satu – satu dari kening dan akhirnya membasahi  tubuh dalam udara pagi yang sejuk, teduh, dan lengang

waktu meliuk dalam nada yang mengalun di udara

waktu intuisi atau firasat buruk ternyata salah sama sekali , dan akting berlaku untuk panggung yang sesungguhnya saja

waktu hati telah rapi dan hijau seperti lapangan tenis Wimbledon, namun berjuta kali lebih lapang sehingga tak ada lagi api yang berkobar karena telah padam


waktu hadiahNya turun sebagai anugrah batin yang tak terperikan


waktu kalimat - kalimat kauliyah dalam Al Quran cuma perlu dilantunkan pelan – pelan dan ekslusif


waktu rumah masih jadi tempat nyaman kedua setelah mesjid atau mushola; dan pantai demikian pula gunung 

waktu tangan kanan disembunyikan dari tangan kiri, dan mereka tersenyum

waktu tangan kami bersentuhan dan ia menggandeng lembut

waktu kulahirkan anak – anak kami, dan mereka jadi penyejuk hati kami dan orang di sekeliling mereka

Ah, seandainya jadwal waktu bahagia terpampang jelas di papan pengumuman jadi aku tahu pukul berapa mereka datang; jadi bisa kusambut dengan perayaan. Apa dayaku bila waktu bahagia yang telah direncanakan sendiri tahunya gagal? Mungkin tertunda. Tapi waktu itu selalu ada. Sampai takkan sanggup kususun daftar kenikmatanNya karena kemunculannya kadangkala cuma melalui bayi – bayi yang mungil itu, yang melompat ke pangkuan, datang mendekap, menciumku, sambil berkata, “Aku sayang padamu, Bibi.”

....

rani nuralam, 2011