Jumat, 10 Juli 2026

SETAHUN SETELAH IBU PERGI




BAGIAN  1

Pagi itu Kamis,10 Juli 2025 ibu merengek minta diantar ke instalasi gawat darurat (IGD), padahal besannya masih di rumah. Besannya adalah orang tua dari menantunya yang paling muda.  Mereka sebenarnya sudah siap berangkat pulang ke Bandung. Aku berusaha menahan niat ibuku karena atas nama kesopanan kupikir baiknya kami mengantar keberangkat mereka terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ke rumah sakit. Tetapi, situasinya tidak sesederhana itu. 

Aku lihat ibu mengemasi sendiri baju salinnya dan ia bersikukuh segera berangkat ke rumah sakit. Kulihat wajahnya sudah pucat. Sangat pucat. Ibuku selama ini tak pernah mengeluh. Ibu takkan pernah bersuara bila tubuhnya tak sesakit itu. Akhirnya aku turut mendesak adikku mengantar ibu. Si bungsu mengantar ibu ke rumah sakit, sementara besannya dengan legowo naik grabcar ke terminal. Mereka berangkat terpisah.

Usai shalat zuhur giliranku menjaga ibu. Begitu melihat ibu terbaring lunglai di ranjang IGD, kakiku lemas. Aku tak pernah lihat ibu tak berdaya seperti itu. Kurasakan pandanganku kabut akibat genangan air di mataku. IMau rasanya kunafikan penglihatanku itu! Mau rasanya kabur saja seolah - olah ibuku dalam keadaan aman terkendali. Tapi aku menguatkan diri dan berkata dalam hati bahwa ibu sakit. Ia perlu dukunganku.

Kusapa ibu nyaris berbisik. Kuucapkan salam. Kutanyakan keadaannya. Tapi ia tak bicara apapun. Ibu hanya diam, tapi aku tahu ibu tidak tidur.

Kusadari suhu terlalu dingin di ruangan itu. Ibu pasti kedinginan, batinku. Tapi tak ada selimut. Kakinya pun terasa dingin.  Aku hanya bisa menggosok-gosok lengan ibuku lembuat, dan kuhangatkan tubuhnya dengan jaket. Kukenakan kaos kaki yang tadi kubawa dari rumah.

Sesungguhnya ruang rawat inap buat ibu sudah siap. Tapi perawat IGD menunggu obat ibu dari farmasi dan hal itu menyita waktu cukup lama. Belum lagi pergantian jadwal tenaga kesehatan di situ pada pukul dua siang jadilah proses kepindahan ke ruang rawat inap bertambah lama. 

Selama menunggu ada saja drama pasien-dokter-perawat di luar bilik. Suara mereka terdengar jelas. Aku tak ambil pusing dan hanya fokus pada ibu. Sejak kedatangannya, ibu sudah melakukan beberapa tes seperti rontgent, urine, tes darah, dan EKG.  Wajah ibu terlihat tenang tanpa ekspresi kesakitan. Matanya masih terpejam. Sepertinya ia tidak terganggu dengan "huru-hara" barusan.

Aku bantu ibu mendirikan Shalat Dzuhur dan Shalat Asar dalam dua waktu terpisah. Meskipun dengan mata terpejam, ibu menurut. Kubimbing ibu bertayamum. Kubantu tubuhnya ke posisi terlentang pelan-pelan. Allah Maha Mengetahui semoga berkenan menerima shalatnya yang dalam situasi terbatas itu.  

Aku memperhatikan gerakan ibu memulai shalatnya. Dalam posisi berbaring tangannya mengayun ke samping telinga. Lanjut menyedekapkan tangannya. Lalu, mengayunkan lagi tangannya ke arah telinga dengan lemah. Setelah itu, meletakkan tangannya di samping tubuh. Aku mengawasinya dalam diam. Membiarkannya beribadah sedapatnya. Setelah beberapa saat, akhirnya ibu mengucapkan salam dengan lirih sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Tanda shalat telah rampung. 

Kemudian, muncullah Dokter IGD, seorang perempuan muda entah siapa namanya. Ia menanyakan data ibu, tapi ibu tidak menjawab. Eh! Dokter itu membentak ibuku! Astaghfirullah. Hatiku tersayat. Ada dorongan untuk melayangkan tinju ke muka dokter itu, tapi kubelenggu gemuruh emosiku dalam-dalam. Lantas, kujawab pertanyaan untuk ibu dengan suara tertahan dan mengatakan ibu tidak bisa menjawab. Ada keheningan sesaat setelah kukatakan itu. Selanjutnya dalam keremangan bilik IGD ibu itu, kudengar ia membaca hasil EKG. Ia menyeletuk dengan ketus, "Hasilnya jelek!" Dan sekali lagi dokter muda itu bertanya dengan nada keras, apakah ibuku merasa sesak napas atau nyeri di dada. Dengan lirih ibuku akhirnya bersuara. Ibu bilang tidak. Ibu tidak merasakan gejala itu. Respon dokter itu seperti bukan seorang dokter yang welas asih atau berperasaan seperti orang kebanyakan sekalipun. Ia bilang, "Ya sudah! ... ." Dadaku terajam. Drama yang sangat menyakitkan. Sebuah pertemuan singkat. Kurang dari 10 menit yang sangat melukai hati kami.

Mereka tidak melakukan apa-apa lagi pada ibuku. Kami hanya menunggu kode dari siapapun bahwa ibu siap masuk kamar rawat inap. Di antara penantian itu, kukabarkan kondisi ibu pada suamiku yang berada nun jauh di sana. Kami hanya bicara sebentar karena pada saat berteleponan aku terpaksa meninggalkan ibu sendiri dan bicara di luar IGD. Suamiku minta agar sering - sering diberi perkembangan ibu. Katanya ia akan mendoakan ibu dari sana. 

Aku telat melaksanakan shalat Ashar.  Sekitar pukul setengah lima suster jaga mengabarkan ibu akan diantar ke kamarnya. Obat dari Dokter spesialis penyakit dalam yang takkan visit karena sudah selesai praktik hari itu sudah di tangannya. Dengan nada berenergi tanpa kesan menghina, suster bertanya apakah ibu ingin menggunakan tempat tidur atau kursi roda ke kamar. Ibu bilang, "Kursi roda."

Begitu kursi rodanya tiba, ibu langsung melompat dari tempat tidur hendak menduduki kursinya. Aku terkejut. Ibu terlalu cekatan untuk orang yang sedang sakit. Ibu malah seolah-olah seperti orang sehat. "Pelan-pelan, Mbah!" ujarku telat. Ibu sudah duduk di kursinya! Buru-buru kupasangkan sandalnya. Setelah itu, ia pun segera didorong ke kamarnya. Kami keluar IGD, masuk lift menuju lantai tiga, dan masuk di ruang rawat inap kelas satu. 

Di ruang itu sudah ada pasien lain. Kami mengobrol sebentar-sebentar, lalu aku kembali mengurusi ibu. Aku mengatur bantalnya, melebarkan selimutnya, menanyakan apapun keinginannya yang akan menyamankannya. Ibu tidak berkomentar apapun. Yah, begitulah ibuku yang pendiam dan tak pernah mengeluh.  

*
Perawat, dokter ruangan dan sebaki penuh makanan datang silih berganti untuk ibu baik karena sudah SOP maupun ketika kupanggil via tombol pemanggil. Ibu sudah salin daster. Ibu berkenan makan yang disediakan katering rumah sakit. Tidak banyak. Paling tiga sendok makan orang normal. Selesai makan, ibu mengajak, "Yuk, turun!"  

Aku tergelitik. Ujarku, "Mbah uti di sini dulu ya, sampai sehat." Ibu langsung membalikkan tubuhnya membelakangiku seperti anak kecil setelah aku berkata demikian.

Aku tertawa kecil. Ibu lucu sekali seperti anak kecil merajuk. Aku menyelubungi tubuhnya dengan selimut. Ibu sepertinya hendak melanjutkan istirahatnya. Di rumah ibu kami panggil Mbah Uti.

Tapi, tiba - tiba ia pindah posisi. Ia bergerak menuju bagian kaki kasur, jadi posisi ia melenakan kepalanya. Demikian dilakukannya setidaknya tiga kali bolak-balik. Aku tak melarang, hanya mengingatkan selang infus akan copot bila tak sengaja tertarik ibu. Ibu kelihatan resah. Aku pikir ibu sedang menahan sakit jadi aku membiarkan hatinya menggerakan tubuhnya. Akhirnya ibu menempati posisi kasur yang benar.  Ibu memunggungiku. Aku kira ibu sudah tenang dan siap tidur. Aku setel murotal Al Matsurat Petang dari YouTube.

Akan tetapi sedetik kemudian ibu bilang hendak ke kamar mandi. Baiklah kuturuti dengan sabar. Kumatikan YouTube. Ibu buang air kecil dan minta diambilkan sikat gigi. Darah mulai bercampur di selang infus karena ia menggunakan tangan kanan di mana tertancap infus. Aku kesal ibu sembrono, tapi sekaligus khawatir. Aku pilih mendiamkan saja. Kurang dari tiga menit semua sudah tuntas. Aku tak mau ibu marah kalau aku mencerewetinya terus. Begitu kami keluar kamar mandi aku lihat suami pasien sebelah menengok ke kanan dan kiri tasyahud akhir pada shalat Maghrib.

Ibu pun kelihatan lebih baik setelah ambil air wudhu. Ia kembali ke kasurnya dan kembali memejamkan mata. Alih-alih mengingatkan ibu agar menunaikan shalat Maghrib, aku biarkan ia beristirahat Kembali. Kupikir usai kutunaikan kewajibanku, baru kusiapkan ibu shalat. Aku akan berwudhu dan menyegerakan shalat. Baru saja selangkah kutinggalkan ibu dengan alunan murotal Al Matsurat petang, tiba - tiba kudengar ibu mengorok keras. Kulihat tubuh ibuku menegang, dan tiba - tiba ibu terhenyak ke kasurnya lagi. 

"Ibu! Ibu! Astaghfirullah! La illaha illawlah!" teriakku.

Aku segera pencet tombol emergensi. Perawat yang bertugas datang. Ibu bertanya ada apa, dan bergegas lihat kondisi ibu, tapi tak jadi lakukan apapun. Ia meninggalkan kami. Semenit kemudian dokter jaga datang bersamanya. Dokter bertanya yang sama dan bertindak cepat. Ia melompat ke kasur.  Ia periksa tenggorokan ibu. Dikiranya ibu tersedak makanan. Ia panggil ibu berulang - ulang mencari responnya. Aku memegangi kaki ibu yang dingin. 

"Mbah... Mbah Uti ... Bangun Mbah ... " Tapi aku tak kuasa berlama - lama memanggil ibu. Tenggorokanku tercekat. Aku tahu ibu sudah tak bernyawa. 

Tapi suara, "Code Blue! Code Blue!" meraung keras di lorong. Entah siapa saja yang merangsek ke ruang ibu. Dokter dan perawat dari mana - mana berlarian masuk, dan seorang sekuriti menyuruhku menunggu di koridor sambil tetap asyik berteleponan dengan seseorang. 

Aku berjongkok. Gerd-ku kambuh. Aku tahu tiada guna usaha mereka menolong ibuku lagi. 

Aku merasa sendirian. Sambil terus menunggu, aku sudah mengabarkan kondisi ibu pada keluarga. Semuanya sangsi. Telepon berderingan. Di tengah kematian ibu, aku juga yang harus menjadi juru bicara. 

Dokter yang bertugas akhirnya menyampaikan pernyataan maaf dan melaporkan ibu sudah tidak dapat ditolong. Para tenaga kesehatan satu persatu meninggalkan kami.

Suamiku mengabarkan sudah membacakan surah Yassin buat ibu.

Setelah ibu diseka dan kami mengganti baju ibu dengan mukena, aku bacakan pula Surah Yassin buat ibu.

Tepat di akhir Surah Yassin, datanglah petugas siap membawa ibu pulang dengan ambulan.

Lalu, aku berkata, "Mbah Uti, kita turun yuk! Kita pulang sekarang."