Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Barus

  • Minggu, 10 Februari 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Raudal Tanjung Banua


    1.
    tak ada jalan lurus ke barus
    para pengelana telah lama menembus kabut
    mencari celah jalan
    ke bekas perigi sultan
    hendak mereka gali sumber
    mata air yang terlelap
    berabad-abad
    akan mereka nyalakan kandil
    dan lampu damar
    di rumah-rumah lampu cahaya
    yang tiada terkira ruhnya
    o, cahaya, demikian mereka yakin,
    engkau tak mungkin tinggal rangka
    engkau utuh sejak semula
    ibarat kapas lepas di udara
    lalu hinggap berbagi-bagi
    lesap berbagai-bagai
    jadi benang jadi kain
    jadi renda jadi perca
    di dalam tiap nama


    maka mereka dirikan bilik kecil
    tempat memuja
    cahaya maha cahaya
    agar jelas yang dipertuan
    di masa ini penuh derita


    2.
    kami, pengelana fana, separoh terang
    setengah buta, bertahun-tahun kemudian
    menyusul mereka menembus kabut
    pedalaman sumatera
    mencari secercah jejak yang ditinggalkan
    sejarah.

    kami ciumi getah pohon-pohon langka
    di sisa hutan bukit barisan
    buat mengenal bahasa sumatera
    dan batang hayat pohon silsilah

    kau sebutlah namanya: kamfer
    itulah pohon hayat leluhur kami
    lebih dari sekedar kapur dari barus,
    ia kapur dalam barus

    bahkan barus itu sendiri
    (serupa nafas bukan sekedar udara yang dihirup
    tapi hidup dalam hidup), maka disebut ia kapur barus
    sebagaimana cahaya yang tak mungkin tinggal rangka,
    wanginya pun tak pudar ditiup-hembus udara
    sekalipun kota runtuh penuh derita, kapal-kapal karam
    ke dasar samudera

    o, getah yang mengental dalam pokok batang
    adalah darah kami yang dibekukan
    kehendak zaman. wanginya hinggap
    di tiang perahu dan layar kapal
    membawanya pergi jauh
    ke lain pulau
    ke semenanjung
    ujung benua
    jadi rempah jadi perancah
    di tungku-tungku dapur istana
    pengawet ragi kain ibu ratu dan para selir
    pengharum ranjang peraduan para sultan
    dan kesudahannya merasuk ke kain
    para raja
    di persemanyam

    apalagi yang dicemaskan?
    pelabuhan besar, bandar berkembang
    kota tumbuh bersilang jalan
    gudang-gudang dan kongsi dagang
    menampung getah darah leluhur kami
    hingga siapa pun tahu,
    sejak itu, telah ditebang sekalian batang
    lebih dari hasrat berladang
    getahnya dibawa turun
    berbungkul-bungkul, berpikul-pikul
    di dalam karung dan kain sarung
    dari parliatan, pakkat, kolang, tara bintang,
    ona gonjang, parik sinamba, humbang hasandutan
    semua dipadatkan dalam lambung
    kapal-kapal segala bangsa
    dan lambung itu pun menelurkan
    keramik antik, barang pecah belah, mata uang dan senjata,
    mengeram perangai badai, topan gelombang
    penuh amarah
    hingga datanglah suatu masa
    kapal-kapal angkat jangkar
    (atau tak sempat angkat jangkar)
    kota hilang dalam semalam
    leluhur segala bangsa lenyap
    tak tahu rimba

    kami, pengelana fana,
    separoh terang setengah buta
    tak mengerti. misteri dan sejarah
    sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki
    meski kami dengar cerita tentu
    tentang serangan gergasi dari laut
    tapi tak tahu makhluk apa gerangan

    sebagian menyebut itu raksasa kiriman langit
    yang cemburu pada surga di bumi
    ada pula yang setuju itu bajak laut terkutuk
    menaklukkan kota dan raja, memutus urat nadinya
    dan sebagian paham dalam angguk
    itu bangsa kulit putih yang berdagang
    dengan senjata dan tahta suci

    tak ada yang tahu pasti
    hingga bertahun-tahun kemudian
    bumi berguncang gunung-gunung berguncang. laut mengelucak
    seperti tempayan diayak tangan yang terguncang
    lalu gelombang besar, lebih dari amarah topan, menghantam pantai
    dan kota-kota yang tidur selepas badai
    dan ketika terjaga, semua lenyap seketika
    manusia ibarat lalat, dengan satu tepukan,
    semua senyap terlepas
    beterbangan ke sorga

    kini di bekas pergi sultan yang belum rampung digali
    para pendahulu kami (bagi mereka doa puji), kami bermuka-muka
    tegak dan berkaca, tegak dan bersila
    kami basuh muka dengan cahaya tak bertara
    kami nafasi diri dengan wangi
    getah darah leluhur kami

    3.
    di pusat makam keramat
    papan tinggi seribu tangga
    kami pun meninggi
    mencari alamat
    yang disimpan semesta
    turun ke makam mahligai
    aksara-aksara gaib
    tak usai terbaca
    tapi segalanya terkaca
    sehening doa. rumput-rumput meninggi
    mencari matahari
    dalam diri


    nisa patah, nisan-nisan sebulat gada
    arab dan india menyatu di tanah sumatera
    batu alam kembang teratai
    menyila kami bersila, merasa sangsai,
    sia-sia, menghadap yang baqa

    lalu nisa tuan ibrahim dan tuan mukhudum
    di belakang rumah papan setengah bata
    dicumbu pucuk enau, dau rumbia
    bila malam tiba. tanpa lentera
    konon mereka mesra-memesra
    satu menggila atas lainnya

    “apa zikirnya wahai, tuan penjaga?”
    memohon kami pada juru kunci
    minta amalan perisai diri
    tapi ia pura-pura buta, pura-pura tuli
    kami pun pura-pura terus meminta
    pura-pura terus mencari

    “ah, apa pula kau kata,” katanya akhirnya
    bagai memungkas kitab larangan
    pelan-pelan ia sarungkan
    dekat ke dada

    4.
    di barus, hamzah fansuri jadi wisma
    (adakah bilik kecil tempat memuja)
    di antara padi menguning, terentang jalan
    ke pasar lengang, pelabuhan lama

    benteng hitam, gereja dan mesjid tua
    tinggal hening, sejak ditinggal hamzah, si anak dagang
    membawa api syair sepenuh badan
    andam dewi, lobu tua

    negeri percintaan pada pengelana
    tempat menggali perigi sultan yang tertidur berabad-abad
    tapi yang didapat: pecahan keramik, guci keramat, manik-manik
    dan bingkai kapal tak dikenal. lebih banyak lagi

    kapal-kapal ikan di masa kini
    dan jala nelayan teronggok lapuk di kolong rumah
    ah, tak kutahu setebal ini kabut perjalanan

    mencari silsilah dan api syair
    tapi kutahu: puisi adalah tindakan terakhir
    seorang penyair
    setelah kabut dan jalan-jalan

    Barus-Yogya, 2013-2014
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint