Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Telur Bebek dan Leher

  • Minggu, 08 Desember 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Mardi Luhung



    Ada amsal tentang kenangan awal. Kenangan pada jajaran rumah yang berubin tebal dan bertembok tinggi. Serta patung kilin yang bersiaga di tempat ibadah. Patung kilin yang menyimpan wujud mustika di delapan-belas bagian tubuhnya. Juga tentang telur-telur bebek yang tergeletak di sepanjang got kering sebelah trotoar. Telur-telur bebek yang dipunguti oleh tangan si kanak. Tangan yang kini telah dewasa. Yang diam-diam juga ingin memetik matahari sebelum lingsir. Atau mewarnai kulit delima agar tetap merona. Semerona ibu yang telah jadi bidadari. Bidadari yang setiap bersedih, berziarah ke makam Tuan Maulana. Dengan air mata berlinang. Juga dengan kerudung yang berjuntai menawan.

    Dan ada amsal tentang kenangan berikutnya. Kenangan pada aroma yang memberat. seberat napas yang membau sengak. Yang mengingatkan bau asap yang mengepul dari sekian cerobong. Sekian cerobong, yang jika gerhana tiba, bergerak dan berjalan tegap. Seperti seregu sedadu yang berbaris-baris. Berderap. Berderap. Berderap. Dan sesekali memeragakan kerancakan jalan di tempat. Kerancakan yang membuat permukaan pantai jadi bergoyang. Sampai tiga ikan buntal yang berenang, pun seketika membuntalkan perutnya. Sebab menganggap, ada musuh yang akan menyergap. Musuh yang mungkin terang. Mungkin gelap. Atau malah mungkin samar. Tapi amat dekat. Sedekat urat leher.  (Gresik, 2016)





    Requiem After Rain

  • Minggu, 10 November 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Amien Kamiel


    Aku bukan lagi menjadi diriku yang dulu sejak tersambar petir. Mereka bilang ketika berpapasan denganku orang orang seringkali merasakan sengatan lebah di sekujur tubuhnya. Bahkan ada juga yang bilang setiap kali hujan deras memukul atap kota dan aku melintas di jalan raya, tubuhku tembus pandang bagai kaca serta mengeluarkan semburan uap asap perak melalui pori-pori.

    Aku bukan lagi menjadi diriku yang dulu sejak tersambar petir. Setelah kejadian itu, aku seringkali mengalami kejadian aneh, sedikit pelupa namun kadangkala terjadi ledakan di otakku yang menyebabkan muncul serpihan halaman kesedihan Einstein dan kerapuhan Stephen Hawking juga hadir menjelma dalam simpul syaraf simpatetik, lantas muncul percikan pijar magnet Thomas Alfa Edison, seketika menimbulkan gelombang elektromagnetik serta menjelma sihir listrik pijar bla bla bla dan yang pasti ….

    Pengabdian Cinta

  • Minggu, 13 Oktober 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Jibril jundallah ( Gatra Aksara)



    Redam malam berpaham rindu
    Magis terintis melapis kalbu
    Terjang usang gelombang waktu
    Nikmat memikat tersayat syahdu.

    Dalam nilam merajam restu.
    Manis miris bergamis madu.
    Halang hilang terlekang ramu
    Gurat ma'rifat berhayat satu.

    Hatiku,.
    Layu
    Samar memilu
    Ingin kembali kepada-mu.

    Cinta.
    Bercahaya.
    Mengurung nafsu dalam keranda.
    Berkilau warna azka, menerangi gulita rongga di jiwa.

    Asmara,.
    Memeluk pusara.
    Hadirkan dirimu selamanya.
    Hapus kisah derita

    Sunting duka menjadi permata.
    Kemanapun pandang retinaku kan melesat menerbitkan bayang-bayang orbit fajar kelopak mayang akan rahmat kasih sayang-mu, Niscaya tiada nampak antak-berantak khalayak noktah-noktah tumpul singgah berhias anggun di ranah cermin panorama alam semesta yang memburamkan wajah tulus kesucian cinta, Selama asma maha kuasa kan tetap kekal bertahta melekat kepada Dzat yang maha cinta, Maha rindu kepada hamba-hambanya.

    Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

  • Minggu, 08 September 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Taufik Ismail


    Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
    Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
    Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
    Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
    Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
    Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
    Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
    Whitefish Bay kampung asalnya
    Kagum dia pada revolusi Indonesia
    Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
    Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
    Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernyaDadaku busung jadi anak Indonesia
    Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
    Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
    Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
    Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
    Mengapa sering benar aku merunduk kini
    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
    Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia
    Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
    Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
    berterang-terang curang susah dicari tandingan,
    Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
    dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
    secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
    Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
    senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
    peuyeum dipotong birokrasi
    lebih separuh masuk kantung jas safari,
    Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
    anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
    menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
    agar orangtua mereka bersenang hati,
    Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
    sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
    penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
    Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
    sandiwara yang opininya bersilang tak habis
    dan tak utus dilarang-larang,
    Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
    supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
    Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
    ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
    sekarang saja sementara mereka kalah,
    kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
    oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
    Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
    dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
    kabarnya dengan sepotong SK
    suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
    Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
    lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
    Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
    fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
    Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
    jadi pertunjukan teror penonton antarkotacuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
    tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
    yang disetujui bersama,Di negeriku rupanya sudah diputuskan
    kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
    lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
    karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
    sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
    Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
    dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
    Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
    Nipah, Santa Cruz dan Irian,
    ada pula pembantahan terang-terangan
    yang merupakan dusta terang-terangan
    di bawah cahaya surya terang-terangan,
    dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
    saksi terang-terangan,
    Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
    tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
    menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
    Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia.1998

    Kotoran Luwak

  • Minggu, 18 Agustus 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Alpha Hambally


    Di permukaan lambungmu yang cekung, aku
    benamkan diri menerabas selaputnya untuk
    mencari kepingan tubuhku: kulitku yang
    berceceran di antara bakteri dan protein,
    dagingku yang menempel dari satu zat dan
    serabut urat serta hasrat yang tak pernah bisa
    mencapai puncak yang menghapus jalan
    kembali ke pangkalnya yang suram. (Tapi
    bagaimana pun, aku memang telah doyong
    kehabisan energi.) Kepingan itu pun tak
    kunjung bersatu meskipun sebongkah wahyu
    muncul membasuh bibirmu dan sisa noda
    pertempuran yang tertinggal di gigimu. Kau
    meremasku hingga pipih, melebihi daging
    seekor cacing pita yang kau besarkan dengan
    puting indukmu. Seluruh waktuku habis untuk
    menjalin hubungan rahasia dengan sebutir
    virus agar ia mengenalkanku pada arus air
    senimu yang ternyata hanya memutar arahku
    ke hulu hasratmu. Tapi aku tak pernah hanyut
    hanya karena terseret lautan madu yang
    umpah dari kelaminmu. Aku putus asa dan
    berdoa agar jantungmu dipompa oleh asap
    candu hingga paru-paru dan pencernaanmu
    bisa kuajak tertawa. Karena setelah itu
    taringmu akan masuk melalui pori-poriku,
    mengelupas kulitku sampai lapis terdalam.
    Kau kunyah dagingku dan memuntahkan
    ampasnya ke dalam bau. Kau paksa aku
    berjalan di sepanjang ususmu yang beringas
    tanpa sehelai baju. Kau dorong sisa tubuhku
    menuju lubang penghabisan bersama gas yang
    senantiasa bersamaku, setelah aku mampu
    bersemedi ketika ginjalmu bekerja untuk
    mendengar doa-doa yang selama ini tak pernah
    kau kabulkan, dan untuk mengirim pengakuan
    ini kepada biji-biji yang kelak bernasib serupa,
    meskipun tak ada gunanya.

    2018


    Lidah

  • Minggu, 14 Juli 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Gola Gong


    Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara
    kutata kalimat alif bata, walau tak peduli hati patah
    Betapa takjub aku pada lidah, tak bertulang pula
    Lidah kubasahi ludah, begitu jika bermain lidah
    Lidah bikin hati gundah, tubuhku jadi basah
    Tapi ada orang tak tahu diri pada lidah
    dipakainya lidah untuk sumpah serapah
    Padahal lidah tajam bagai pedang membelah
    Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara
    tak peduli pada siapa benar siapa salah

    kebon jeruk, Februari 1998

    Menunggu Ayah

  • Minggu, 09 Juni 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Hanna Francisca


    Kecipir tumbuh di pagar, belimbing manis
    di tangan gadis. Langit sore turun di dahan,
    pohon manggis memanggil angin.

    Ada capung bersayap emas, terbang serentak
    dari ujung rumputan. Ilalang berbisik meniupkan sunyi,
    pada telapak gadis yang kini menangis.

    “Pakailah sandalmu, sayang,
    sebelum ayahmu pulang.”

    Ia menatap ke kejauhan, sayap elang mengitari padang,
    menembus bukit di atas awan
    mencari mangsa yang kesepian.

    “Apakah elang jantan selalu terbang
    tak pernah pulang?”

    Langit sore kini temaram,
    gadis melangkah menuju malam.

    Ilalang berbisik bersama dahan,
    memandang gadis di ujung jalan.

    Singkawang, 2016

    Against Cheating

  • Kamis, 23 Mei 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,


  • There is a country name  Indonesia. It has many islands spread from Sabang to Merauke. It consists  aprroximetaly of 17.504 islands. The national flag’s name is The Red and White Saka.  The country celebrates  the  independency on Aught 17th, 1945.  You can see beautiful  scenery there.  You can see that above the sky there are the sun, moon, and star, and in the surface, it has the most magnificent amazing mountain, forest, river, lake, etc, and I live there.  

    But something happened. People change, brothers fight, friends become enemies, and some small part neighbors no longer greet. It seems every topic is a sensitive issue now. When the topic appears, each person maintains his or her own perspective. One opposes the other, and tolerance seems to be forgotten.

    *

    Since mid-2018, Indonesia has prepared a democratic party which was The 2019 Election. The event was held on April 17, 2019. Then the announcement of the winners was set on May 22, 2019. During the process people who have the right to vote make a fortress. Gradually, people divided into three groups: supporters no.1, supporters no.2, and undicided voters.

    I cannot talk to the supporters candidates no.1. They were being unfair, unsupportive, and unreasonable. All the data from the news were ignored. When they given a qualified argument, their eyes were close. I'm confused to see their bigotry of their candidates.

    Many awkward things happened. The climax appeared this week. The  election agenda has been set up, but it was not as easy as the design. Instead of carrying out the announcement according to the schedule, The Election Organizer (KPU) did different. Out of the blue, on May 21, 2019 they announced the results of the election! A day earlier! At 2:00 a.m.!

    I just woke up for sahur. It was 3 am. I watched Youtube and noticed that the Jokowi-Ma'ruf Amin have won the election by 55,50% to 45,50% (101%)!!!!! It was certainly shocked me. The Prabowo-Sandi  was cheated once more.


    *

    The presence of Prabowo-Sandi has made me believe, Indonesia will become a better country, a developed country that is respected by other countries in the world. Look at our candidates. Not only our main candidates, but anyone in the Prabowo-Sandi team appears stunning, brilliant, and polite. (see YouTube:  the presidential candidated debate and the success team debate on tv) Moreover, the emergence of young millennial candidates for future quality Indonesian leaders has united there. They show good examples for all of us.

    I cry down deep in my heart. This election has divided brotherhood. Master brain of this chaos let us lost respect, courtesy and hospitality to each other. With all do respect, the now Indonesia leader has failed to maintain unity.

    It is painfull seeing the authorities acting fraudulently to Prabowo-Sandi who had been constitutionally undergoing the presidential election process. Shocking, cunning and cruel ways appeared to tackle them. Not to mention, mystery of the death of 527 KPPS officers.  All the facts were negleted by the authority. No follow up of these matters. They just showing us the future of Indonesia. It is very terrifing.

    I am afraid the beautifulness of  Indonesia will gone and my people cannot enjoy every natural resource in it. I don't want this  to be happened.

    But, i am proud to the people who defend our homeland. I am proud of Mr.Prabowo Subianto and Mr.Sandiaga Salahudin Uno. Dont stop faith! May Allah guide and protect you both. And, justice stand up straight  and peace upon all.  Aameen.

    Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nasir

    Jejak Malam

  • Minggu, 12 Mei 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Edy A.Effendi


    Jejak malam. Malam berjejak. Aku luruh dalam auman lukamu. Auman cinta
    yang tak bertepi, tak berperi. Cinta yang kau tanam di gang sempit itu, tumbuh
    subur jadi hama hidupku. Aku dan kamu, hanyalah bingkai-bingkai kecil yang
    tak pernah tertata rapi. Tak pernah selesai dibangun oleh jiwamu dan jiwaku.


    Di gang sempit itu, kau membisu, beku dan kelu. Bibirmu terpasung
    kata. Sunyi adalah pilahan. Sunyi adalah pilihan. Pilahan dan pilihan itu,
    mengusung jarak batas antarkita. Batas jasadku dan jasadmu yang tak
    pernah berujung pada dipan panjang, tempat kita menabur benih cinta.


    Di sini, di gang sempit, aku merindu lenguhmu. Merindu keluhmu. Merindu
    desah napasmu ketika tubuhmu terbujur kaku tanpa busana di perjalanan
    malam. Aku tetap mengenangmu dari jauh, di antara kepingan puzzle,
    kepingan lego, yang tak pernah berhenti mencari batas kesempurnaan.

    Kegelisahan

  • Minggu, 14 April 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Pranita Dewi


    Dua mataku sipit dan jenaka, selalu terjaga pada pagi
    Dua tanganku mengepal penuh cengkeram,
    selalu murung menunggu mati.

    2013

    Idul Fitri

  • Minggu, 10 Maret 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Sutardji calzoum bachri


    Lihat
    Pedang tobat ini menebas-nebas hati
    dari masa lampau yang lalai dan sia
    Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
    telah kutegakkan shalat malam
    telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
    Telah kuhamparkan sajadah
    Yang tak hanya nuju Ka’bah
    tapi ikhlas mencapai hati dan darah
    Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
    Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
    Maka aku girang-girangkan hatiku

    Aku bilang:
    Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam
    Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
    Namun si bandel Tardji ini sekali merindu
    Takkan pernah melupa
    Takkan kulupa janji-Nya
    Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta
    Maka walau tak jumpa denganNya
    Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
    Semakin mendekatkan aku padaNya
    Dan semakin dekat
    semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

    O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
    ngebut
    di jalan lurus
    Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
    tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
    Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu
    di ujung sisa usia
    O usia lalai yang berkepanjangan
    Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
    Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir
    tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

    Maka pagi ini
    Kukenakan zirah la ilaha illAllah
    aku pakai sepatu sirathal mustaqim
    aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id
    Aku bawa masjid dalam diriku
    Kuhamparkan di lapangan
    Kutegakkan shalat
    Dan kurayakan kelahiran kembali
    di sana

    Barus

  • Minggu, 10 Februari 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Raudal Tanjung Banua


    1.
    tak ada jalan lurus ke barus
    para pengelana telah lama menembus kabut
    mencari celah jalan
    ke bekas perigi sultan
    hendak mereka gali sumber
    mata air yang terlelap
    berabad-abad
    akan mereka nyalakan kandil
    dan lampu damar
    di rumah-rumah lampu cahaya
    yang tiada terkira ruhnya
    o, cahaya, demikian mereka yakin,
    engkau tak mungkin tinggal rangka
    engkau utuh sejak semula
    ibarat kapas lepas di udara
    lalu hinggap berbagi-bagi
    lesap berbagai-bagai
    jadi benang jadi kain
    jadi renda jadi perca
    di dalam tiap nama


    maka mereka dirikan bilik kecil
    tempat memuja
    cahaya maha cahaya
    agar jelas yang dipertuan
    di masa ini penuh derita


    2.
    kami, pengelana fana, separoh terang
    setengah buta, bertahun-tahun kemudian
    menyusul mereka menembus kabut
    pedalaman sumatera
    mencari secercah jejak yang ditinggalkan
    sejarah.

    kami ciumi getah pohon-pohon langka
    di sisa hutan bukit barisan
    buat mengenal bahasa sumatera
    dan batang hayat pohon silsilah

    kau sebutlah namanya: kamfer
    itulah pohon hayat leluhur kami
    lebih dari sekedar kapur dari barus,
    ia kapur dalam barus

    bahkan barus itu sendiri
    (serupa nafas bukan sekedar udara yang dihirup
    tapi hidup dalam hidup), maka disebut ia kapur barus
    sebagaimana cahaya yang tak mungkin tinggal rangka,
    wanginya pun tak pudar ditiup-hembus udara
    sekalipun kota runtuh penuh derita, kapal-kapal karam
    ke dasar samudera

    o, getah yang mengental dalam pokok batang
    adalah darah kami yang dibekukan
    kehendak zaman. wanginya hinggap
    di tiang perahu dan layar kapal
    membawanya pergi jauh
    ke lain pulau
    ke semenanjung
    ujung benua
    jadi rempah jadi perancah
    di tungku-tungku dapur istana
    pengawet ragi kain ibu ratu dan para selir
    pengharum ranjang peraduan para sultan
    dan kesudahannya merasuk ke kain
    para raja
    di persemanyam

    apalagi yang dicemaskan?
    pelabuhan besar, bandar berkembang
    kota tumbuh bersilang jalan
    gudang-gudang dan kongsi dagang
    menampung getah darah leluhur kami
    hingga siapa pun tahu,
    sejak itu, telah ditebang sekalian batang
    lebih dari hasrat berladang
    getahnya dibawa turun
    berbungkul-bungkul, berpikul-pikul
    di dalam karung dan kain sarung
    dari parliatan, pakkat, kolang, tara bintang,
    ona gonjang, parik sinamba, humbang hasandutan
    semua dipadatkan dalam lambung
    kapal-kapal segala bangsa
    dan lambung itu pun menelurkan
    keramik antik, barang pecah belah, mata uang dan senjata,
    mengeram perangai badai, topan gelombang
    penuh amarah
    hingga datanglah suatu masa
    kapal-kapal angkat jangkar
    (atau tak sempat angkat jangkar)
    kota hilang dalam semalam
    leluhur segala bangsa lenyap
    tak tahu rimba

    kami, pengelana fana,
    separoh terang setengah buta
    tak mengerti. misteri dan sejarah
    sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki
    meski kami dengar cerita tentu
    tentang serangan gergasi dari laut
    tapi tak tahu makhluk apa gerangan

    sebagian menyebut itu raksasa kiriman langit
    yang cemburu pada surga di bumi
    ada pula yang setuju itu bajak laut terkutuk
    menaklukkan kota dan raja, memutus urat nadinya
    dan sebagian paham dalam angguk
    itu bangsa kulit putih yang berdagang
    dengan senjata dan tahta suci

    tak ada yang tahu pasti
    hingga bertahun-tahun kemudian
    bumi berguncang gunung-gunung berguncang. laut mengelucak
    seperti tempayan diayak tangan yang terguncang
    lalu gelombang besar, lebih dari amarah topan, menghantam pantai
    dan kota-kota yang tidur selepas badai
    dan ketika terjaga, semua lenyap seketika
    manusia ibarat lalat, dengan satu tepukan,
    semua senyap terlepas
    beterbangan ke sorga

    kini di bekas pergi sultan yang belum rampung digali
    para pendahulu kami (bagi mereka doa puji), kami bermuka-muka
    tegak dan berkaca, tegak dan bersila
    kami basuh muka dengan cahaya tak bertara
    kami nafasi diri dengan wangi
    getah darah leluhur kami

    3.
    di pusat makam keramat
    papan tinggi seribu tangga
    kami pun meninggi
    mencari alamat
    yang disimpan semesta
    turun ke makam mahligai
    aksara-aksara gaib
    tak usai terbaca
    tapi segalanya terkaca
    sehening doa. rumput-rumput meninggi
    mencari matahari
    dalam diri


    nisa patah, nisan-nisan sebulat gada
    arab dan india menyatu di tanah sumatera
    batu alam kembang teratai
    menyila kami bersila, merasa sangsai,
    sia-sia, menghadap yang baqa

    lalu nisa tuan ibrahim dan tuan mukhudum
    di belakang rumah papan setengah bata
    dicumbu pucuk enau, dau rumbia
    bila malam tiba. tanpa lentera
    konon mereka mesra-memesra
    satu menggila atas lainnya

    “apa zikirnya wahai, tuan penjaga?”
    memohon kami pada juru kunci
    minta amalan perisai diri
    tapi ia pura-pura buta, pura-pura tuli
    kami pun pura-pura terus meminta
    pura-pura terus mencari

    “ah, apa pula kau kata,” katanya akhirnya
    bagai memungkas kitab larangan
    pelan-pelan ia sarungkan
    dekat ke dada

    4.
    di barus, hamzah fansuri jadi wisma
    (adakah bilik kecil tempat memuja)
    di antara padi menguning, terentang jalan
    ke pasar lengang, pelabuhan lama

    benteng hitam, gereja dan mesjid tua
    tinggal hening, sejak ditinggal hamzah, si anak dagang
    membawa api syair sepenuh badan
    andam dewi, lobu tua

    negeri percintaan pada pengelana
    tempat menggali perigi sultan yang tertidur berabad-abad
    tapi yang didapat: pecahan keramik, guci keramat, manik-manik
    dan bingkai kapal tak dikenal. lebih banyak lagi

    kapal-kapal ikan di masa kini
    dan jala nelayan teronggok lapuk di kolong rumah
    ah, tak kutahu setebal ini kabut perjalanan

    mencari silsilah dan api syair
    tapi kutahu: puisi adalah tindakan terakhir
    seorang penyair
    setelah kabut dan jalan-jalan

    Barus-Yogya, 2013-2014

    Wali

  • Minggu, 13 Januari 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Irma Agryanti


    Karya
    Irma Agryanti


    tiga cabang
    tiga liang
    ke arah kiblat

    sebelum takbir
    takdir mengait
    yang patah dari yang pahit

    kisah pelingsir
    syeh gaus dengan dua pengiring
    tiba di mataram

    di tanjung
    dingin resap ke batang
    terserap urat-urat daun

    datuk laut berdiri
    menangkis kabut
    menyurut surut

    doa-doa terucap
    berdengung seperti surga
    dari dalam gua

    tak ada nabi setelah madinah
    anak yatim yang bersisian
    luput sebagai imam

    di makam di mana mula
    sebuah agama
    dan rekaat

    penebus-penebus yang diutus
    berkata tentang nubuat
    tentang apa-apa yang ingin kami ingkari



    2016
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint