Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

cerita anak

  • Kamis, 09 Februari 2012
  • rani nuralam
  • Label: ,


  • Alkisah turunlah para bidadari Negeri Angkasa ke Telaga Warna. Mereka muncul tatkala semburat pelangi dengan warna – warnanya yang indah telah terbentang.  Mereka akan ke Bumi dan berenang bersama sekumpulan ikan emas penghuni telaga itu.

    Kala itu di antara mereka ada seorang bidadari kecil. Sebetulnya ia belum cukup umur untuk meniti pada jembatan pelangi. Sebab titian itu sangat tinggi dan curam. Kalau belum terbiasa,  tubuh akan limbung dan bisa – bisa jatuh menghujam ke daratan tanpa kecuali.

    Namun, rengekkannya meluluhkan hati kakak bidadari sekalian.

    “Baiklah, kau boleh ikut! Dengan syarat, kau harus patuh dan jangan berbuat macam – macam,” syarat Dewi Sulung, bidadari tertua yang bertanggung jawab pada keselamatan bidadari.

    Bidadari kecil itu mengangguk. Ia sudah tidak sabar menanti waktunya tiba.  Ia sering mendengar perbincangan para bidadari tentang tempat itu. Malah ia selalu terkenang perkataan Dewi Sulung.

    “Aku senang bisa bebas bermain di sana. Airnya segar, udara pun sejuk. Lain di Negeri Angkasa, tidak ada air yang berlimpahan seperti itu.  Malah kadang polusi udara dari kota manusia menyesakkan napas.”

    “Begitu elok dan asyikkah telaga itu? Aiiih … tempat itu membuatku terus mengkhayal.” Bisik Dewi Bungsu, panggilan bidadari kecil.

    Tak lama kemudian.

    “Berpeganglah padaku Dewi Bungsu. Jangan dilepas.  Kalau terjatuh, kau harus menunggu titian pelangi berikutnya agar bisa pulang.” Perintah Dewi Sulung sambil menghentakkan selendangnya.

    “Aku paham. Takkan kulepas tanganmu sampai di tujuan.”

    Maka mereka melangkah turun laksana tengah melayang di antara awan putih dan halimun di daratan.

    Kendati begitu, Dewi Bungsu masih bisa melihat jelas pandangan di bawahnya. Wajah permukaan Bumi yang tadinya dilihat samar – samar dari kahyangan, kini tampak jelas.  Gunung, sawah, sungai, lautan, dan pantai adalah pemandangan yang menakjubkan.

    “Dewi Sulung, apakah itu tempat yang kita tuju?” Tanya bidadari kecil menunjuk pantai yang penuh dengan manusia.

    “Bukan! Kita menuju telaga, sedangkan itu adalah pantai.”

    “Mengapa kita tidak ke sana saja?” Dewi Bungsu masih penasaran.

    “Karena di sana tempat manusia. Mereka akan takut melihat kedatangan rombongan kita yang berbeda ini. Lihat! Sebentar lagi kita sampai, yuk!”

    Melonjak girang hati Dewi Bungsu. Tempat yang ia nantikan sudah di depan mata. Telaga warna sungguh tempat yang indah.  Lokasinya jauh di pelosok rimba raya. Tempat itu dikelilingi pepohonan rimbun dan gunung – gunung yang menjulang tinggi. Airnya pun sungguh bening.

    Akan tetapi, kolam itu tidak seramai pantai manusia., malah sunyi senyap. Sebentar saja Dewi Bungsu sudah bosan. Sementara para bidadari lain menikmati kegembiraan di dalam kolam, pikiran Dewi Bungsu berada di tempat lain.  Hatinya telah tertambat pada pantai manusia yang penuh keceriaan dan permainan yang tampak menyenangkan.

    “Waktunya sudah habis! Ayo bergegas semua! Titian pelangi segera hilang!” Seru Dewi Sulung mengingatkan.

    Beberapa bidadari tampak kecewa.  Menurut mereka, waktu berlalu terlalu cepat.  Namun, satu persatu mereka meninggalkan telaga dan sekali mengibaskan selendang yang membebat pinggang, mereka mengangkasa.

    Adapun Dewi Bungsu sengaja berlama – lama berdandan karena sedang cari cara untuk tetap berada di Bumi. Ia berpikir untuk mengunjungi pantai sendirian.  Ketika gilirannya mengangkasa, tahu – tahu ia meronta dan terlepas dari genggaman Dewi Sulung!

    Sayup – sayup bidadari kecil itu mendengar namanya dipanggil berulang – ulang oleh Dewi Sulung. Terlambat! Titian pelangi telah hilang dan ia sudah terdampar di pantai.

    Bidadari kecil itu sebentar saja jadi perhatian anak – anak yang tengah bertamasya. Anak – anak itu tertarik dengan penampilannya yang aneh. Terkadang mereka menertawakannya. Dewi Bungsu tidak marah karena ia tahu kawan – kawan barunya tidak bermaksud mengolok – oloknya.  Mereka tidak pernah bertemu gadis seperti dirinya.  Mereka mengiri Dewi Bungsu anak penduduk di sekitar pantai itu.

    Pertemanan mereka jadi akrab. Mereka berenang, membangun rumah pasir, mengumpulkan kerang, dan bercanda ria bersama.

    Sayang, begitu matahari mulai tenggelam, kawan – kawan barunya harus pulang. Kata mereka, di liburan sekolah yang akan dating mereka baru ke pantai lagi.  Dewi Bungsu menjadi duka. Pantai sudah sepi dan gelap.  Di sana sudah tidak ada siapa – siapa lagi. Hanya deburan ombak yang coba menghiburnya.

    Dewi Bungsu juga ingin pulang, tetapi bagaimana caranya? Dewi Sulung berkata, ia harus menunggu tititan pelangi muncul.

    “Duh! Kapan titian pelangi itu akan datang?”

    Tanpa disadari Dewi Bungsu mulai menangis.  Ia menyesal berbuat serampangan. Untuk kesenangan sesaat.  Ia rindu pada para bidadari lainnya.

    Tapi sekonyong – konyong tubuhnya terangkat secepat kilat. Ia melihat cahaya gemerlap dan istana awan menyembul dari balik cahaya.  Ia mengerjapkan mata, takut itu mimpi semata. Tetapi begitu senyum Dewi Sulung tersungging di depan mukanya, ia sadar sudah di rumah.

    “Ba – gai – ma – na?” gagap Dewi Bungsu. “Bukankah jalan pulang satu – satunya melalui titian pelangi?”

    “Betul! Kami kira juga cuma begitu. Kami tahu kau akan sedih di sana. Kami memeras otak supaya dapat menjemputmu kembali. Nah, kami coba cara menyatukan seluruh selendang ajaib para bidadari. Kami simpulkan selendang itu sampai terjulur panjang ke tempatmu. Secara ajaib ia menarikmu pulang,” jelas Dewi Sulung.

    Bidadari kecil itu tertunduk malu. Ia terharu dengan perhatian seluruh bidadari penghuni kahyangan. Dari mulut mungilnya ia berusaha meminta maaf dan janji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Ia juga sadar mendapat pelajaran atas polahnya.

    Kompas, 22 Agustus 2004
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint