Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Beyond The Inspiration

  • Senin, 27 April 2015
  • rani nuralam
  • Label: ,


  • Pada zaman dahulu kala di suatu negeri bukan antah berantah memerintahlah seorang amir atau panglima perang. Belum lagi usianya menginjak 17 tahun, tujuh bahasa dikuasainya. Pada umur 19 tahun memimpin kota di Kesultanan Utsmani di Adrianopel. Pada saat itu pikirannya dipenuhi bisyarah Rasulullah saw yang berbunyi, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat – hebat amir (panglima perang) adalah amirnya dan sekuat – kuatnya adalah pasukannya.” (HR. Ahmad)

    Karena bisyarah itu maka ia pun membentuk pasukan elit yang diberi nama Janissaries. Sejumlah 40.000 orang yang loyal pada Allah dan Rasul – Nya berkumpul untuk penugasan itu. Taktik yang dijalankan adalah memutuskan urat nadi utama Konstatinopel, yaitu Selat Bosphorus. Supaya ia bisa memegang jalur utama perdagangan, transportasi, dan suplai logistik ke Konstatinopel maka dibangunlah Benteng Rumeli Hisari. Tinggi benteng ini 82 meter dengan 7 menara citadel. Dibangun oleh 5.000 pekerja dan selesai kurang dari 4 bulan.

    Tetapi, pertahananan Konstatinopel sangat kuat. Tembok Konstatinopel tebal dan tingginya 30 m. Temboknya terdiri dari 3, yaitu Tembok Dalam (Inner Wall), Tembok Luar (Outer Wall), serta parit. Tinggi tembok bervariasi. Tinggi tembok dalam 18 – 20 m, tinggi tembok luar 12 – 15 m dan dalamnya parit 10 dengan lebar 20 m. Ketebalan tembok adalah 5m dan tembok luarnya 2m.

    Sang Amir menyadari bahwa dengan cara konvensional mustahil menaklukkan Konstatinopel. Maka dipakailah teknologi persenjataan tercanggih, yakni meriam Orban. Selain itu, sebanyak 250.000 pasukan dipersiapkan untuk ke medan laga.

    Tetapi, dengan segala taktik itu kemenangan belum bisa diraih. Misalnya, ketika pasukan muslim hendak melewati Teluk Tanduk Emas, tentara Konstatinopel telah memasang rantai raksasa untuk menghalangi rantai raksasa di laut untuk menghalangi kapal – kapal perang kaum muslim. Lalu, di bagian Selatan, 400 kapal perang yang telah disiapkan sang Amir tidak bisa berbuat apa – apa. Karena dihadang kapal – kapal Konstatinopel yang besar dengan pasukan yang lebih berpengalaman. Banyak kapal kaum muslim karam dan hancur dalam serangan laut. Sementara itu di sebelah Barat, dengan gencar pasukan kaum muslim memborbardir tembok Konstatinopel tanpa henti, dentuman – dentuman yang memekakkan telinga dan menggetarkan bumi terus dilancarkan.

    Demikian pula dengan keampuhan meriam Orban diberdayakan seoptimal mungkin. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan 3 jam sekali. Hal itu jelas membuat pihak lawan punya waktu memperbaiki tembok.
    Dengan segala upaya yang telah dilakukan nyatanya tak mampu menaklukkan Konstatinopel. Alhasil korban dari pihak kaum muslimin berjatuhan. Nada – nada sumbang untuk melemahkan perjuangan merebak.

    Tetapi, sang Amir tetap mengobarkan semangat prajuritnya dengan bisyarah Rasulullah saw. Bisyarah itu adalah keyakinan kaum muslimin yang tidak diambil dari fakta yang ada di sekelilingnya, tetapi hanya dari ucapan Allah dan Rasulullah saw. They believe in something that can’t be seen by eyes.

    Setelah itu, sang Amir menitahkan pasukannya memindahkan kapal melewati Bukit Galata. Sebanyak 72 kapal pindah dari Selat Bosphorus menuju Teluk Tanduk Emas dalam waktu semalam. Pada pagi harinya, 22 April 1453 disertai takbir dan tahlil pasukan Konstatinopel diserbu dan dipukul kaum muslimin.

    Seorang sejarawan bernama Yilmaz Oztuna menggambarkan kejadian itu sebagai kejadian yang tidak pernah dilihat dan tidak pernah didengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal – kapalnya di puncak – puncak gunung sebagai pengganti gelombang – gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great. Benar! Sosok sang Amir adalah Muhammad II bin Murad II yang diberi gelar Al Fatih (sang penakluk), menurut para sejarawana tidak pernah menjadi masbuq dalam shalatnya; tidak pernah meninggalkan shalat rawatib yang secara tak langsung berarti tak pernah menunaikan shalat fardhunya. Teguh menegakkan shalat tahajud karena ia ingin mengikuti tabiat nabi.


    Ada sembilan bab dalam buku Beyond the Inspiration. Tetapi, bab “Beyond The Inspiration” adalah bab favorit saya. Ya itu yang sudah paparkan di atas. Menggetarkan hati. Mengagumkan. Sejarah mencatat dan saya membacanya sekarang. Kejayaan Islam dikibarkan oleh seorang pemuda istimewa. Pemuda yang menguasai Konstatinopel pada usia 21 tahun. Berperang dengan pasukan kafir dalam perang Salib pada usia 12 tahun. Delapan abad setelah kehadiran rasulullah sebagai utusan yang memperbaiki akhlak.

    Tulisan tentang Al Fatih termuat dalam beberapa buku lainnya, misalnya dalam Atlas Perang Salib dan Perang Salib. Konten kedua buku itu sangat berat. Kehadiran buku Beyond the Inspiration kehadiran menjadi istimewa karena buku ini mempermudah pemahaman saya tentang satu bagian kecil sejarah peradaban Islam, sejarah perang salib itu. Selain itu, juga karena saat saya tengah berada di kelas ketika tiba – tiba seorang pemuda menyodorkan buku Beyond the Inspiration. Dia meminjamkan buku ini padahal tak saya minta. Saya hampir tak pernah meenemukan anak – anak usia remaja menyelami buku macam ini. Apalagi dari seorang pemuda istimewa, seorang siswa SMP, bernama Fadel Arozaqi. Sangat tak terduga. Tapi di akhir bacaan saya senang dan puas membaca buku ini. Bab “Beyond the Inspiration” sangat mengesankan. (Q)

    Sumber : Siauw, Felix Y. 2011. Beyond the Inspiration. Jakarta : Khilafah Press.
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint