Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Epilog 2015

  • Senin, 28 Desember 2015
  • rani nuralam
  • Label: ,



  • Beberapa teman whatsapp saya sudah mengunggah tulisan penutup akhir tahun. Sebuah tulisan hasil perenungan yang sarat nasehat dan kearifan; tentang kehidupan seorang manusia sepanjang tahun 2015 yang bernas dalam beberapa paragraf, namun mampu diurai dengan runtut dan matang.

    Saya juga ingin menulis dengan suasana tenang guna meraih karya tulis mumpuni seperti itu. Tahun ini produksi sastra saya cuma segelintir. Celakanya, tulisan yang saya buat kebanyakan dihasilkan dari proses terburu – buru. Saya kesal bila baca tulisan cetek itu. Saya juga tahu  sebabnya. 

    Menulis itu berpasangan dengan membaca. Setelah Beyond the Inspiration belum ada buku unggulan lainnya yang saya temukan. Hasil pemahaman saya atas buku karya Ustad Felix Siaw itu saya sampaikan dalam pidato di depan sekolah pada saat upacara bendera di suatu hari Senin. Topik yang sama diulang oleh rekan guru dalam acara homestay di Ciwidey enam bulan kemudian. Setiap topik yang unik dan menarik berdampak besar buat orang lain. Dari sisi tersebut, saya merasa konten buku – buku bagus memang harus diupayakan untuk diangkat sebagai bagian dari pembelajaran kami. Konsekuensinya, saya sangat perlu membaca dengan tenang dan terorganisir, sebagaimana keinginan saya pada saat menulis.

    Baik secara harfiah maupun tersirat saya sudah sangat ingin memiliki buku bagus. Buku bagus yang saya baca sesudahnya, entahlah mengapa banyak yang tak saya sukai. Contohnya begini, komik Smurf itu menghibur, tapi begitu selesai tak terbetik keinginan untuk mengulang lagi. KKPK cocoknya buat anak – anak. Genre tulisan yang saya baca, saya perluas pilihannya untuk memahami anak – anak zaman sekarang. Di samping, buku – buku tebal lainnya. Tetapi, saya kadung jatuh cinta pada The Historian karya Elizabeth Kostova. Kualitas kertasnya bagus, jenis HVS unggulan. Walaupun desain kaver sederhana, kemasannya hard cover. Ah, bilakah saya temukan buku tebal dengan pembahasan tuntas dan mendalam, serta penggunaan bahasa Indonesia yang canggih seperti dalam The Historian? Saya harap segera.

    Buku bagus langka peredarannya, tetapi mereka ada dan dekat. Contoh terdekat adalah orang tua saya. Bapak saya ibarat buku bagus itu. Bapak merupakan metafora buku tebal dengan kaver sederhana. Kesederhanaannya adalah bagian yang terkadang membuat saya miris. Namun, kesederhanaan itu merupakan suri teladan buat kami. Di akhir pengabdiannya pada negara beliau telah mendapat penghargaan tertinggi yang selayaknya diterima sebagai seorang mantan pejabat. 

    Yang kini menjadi ganjalan saya sebagai anak tinggallah penyesalan. Saya masih dihantui penyesalan karena kurang melayani orang tua di penghujung hayatnya. Juli lalu bapak berpulang. Saya sudah merasakan kerinduan pada beliau dan menginsafi beliau tidak sedang tidur atau sedang berpelisir. Bapak tidak akan kembali ke rumah dan saya tidak punya kesempatan menyentuhnya lagi. Kini sebaik – baiknya pesan beliau Insya Allah akan saya wujudkan. Wasiatnya adalah  bagian dari tujuan hidup saya sekarang.

    Mengenang bapak tidak akan pernah habis. Sebagaimana kenangan terindah lainnya dari sosok yang mendirikan shalat di sebuah masjid RSPAD, sepasang sepatu mengkilap, dan celana panjang yang disetrika sampai licin. Saya tidak sedang menyusun sebuah cerita fiksi dari bagian – bagian tersebut. Tetapi sungguh hal itu fakta, bukan fiksi. Saya tidak ingin menggambarkan lebih lanjut sekarang. Saya tidak ingin buru – buru memerikan hal yang istimewa sehingga menjadi sesuatu yang dangkal.  Mudah- mudahan Allah berkehendak lain untuk mengggerakkan jari jemari saya untuk topik itu di atas papan ketik dalam waktu dekat. Wallahualam bisawab. Kun fayakun.

    Saya melewati perjalanan yang tak disangka – sangka tahun ini. Dari situ saya sadari, saya masih harus belajar tentang keiklasan dan kesabaran. Karena keiklasan itu di satu sisi membuat saya lelah, di sisi lain bahkan telah mengubah saya jadi jago berkelit. Begitulah dasar doa saya kemudian, agar situasi itu dipecahkan dengan pembagian kerja dan waktu yang sistematis; agar saya memperoleh ketenangan untuk menulis dan membaca.

    Bagian terbaik adalah berdoa. Kawan – kawan di whatsapp bilang, “Berdoalah dalam hati! Hanya pada Allah semata, tidak perlu orang lain tahu.”  Tidak ada penyangkalan tentang itu. Tetapi, penting buat saya menatah keinginan saya di sini. Di dalam benak, saya berharap merasakan keajaiban hidup yang telah Allah swt anugerahkan buat saya beberapa tahun belakangan ini.  Doa yang pernah saya tuliskan di media ini di tahun – tahun yang telah berlalu.

    Yaa Fattah, Yaa Waduud, Yaa Baasith, Yaa Rahman, Yaa Rahiim, Yaa Salam, Yaa Kariim, Sayangilah bapak dan ibu sebagaimana mereka menyayangi aku waktu kecil. Lapangkan kubur dan ampunilah dosa bapak. Berikanlah waktu tenang untuk melaksanakan wasiat bapak.Jadikan aku ibu buat anak – anak suamiku. Jadikan aku istri buat suami pilihanMu. Matikan aku dalam keadaan husnul khotimah. Hilangkan kecemasanku akan prestasi akademik anak – anak kelas 9 angkatan 2013. Jadikan anak – anak itu berakhlak Qurani. Jadikan Alvina, Gege, Jejes, Lila, dan Sarah anak – anak yang sholeh dan sholeha, serta terbangkan dan tempatkan aku di tempat yang Engkau berkahi. Allahuma aattina fiddunya hasanatan wafil akhirati hasanatan waqina adzabannar. Aamiin yaa rabbal ‘alamin.  (Q)
          
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint