Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Kotoran Luwak

  • Minggu, 18 Agustus 2019
  • rani nuralam
  • Label: ,
  • Karya
    Alpha Hambally


    Di permukaan lambungmu yang cekung, aku
    benamkan diri menerabas selaputnya untuk
    mencari kepingan tubuhku: kulitku yang
    berceceran di antara bakteri dan protein,
    dagingku yang menempel dari satu zat dan
    serabut urat serta hasrat yang tak pernah bisa
    mencapai puncak yang menghapus jalan
    kembali ke pangkalnya yang suram. (Tapi
    bagaimana pun, aku memang telah doyong
    kehabisan energi.) Kepingan itu pun tak
    kunjung bersatu meskipun sebongkah wahyu
    muncul membasuh bibirmu dan sisa noda
    pertempuran yang tertinggal di gigimu. Kau
    meremasku hingga pipih, melebihi daging
    seekor cacing pita yang kau besarkan dengan
    puting indukmu. Seluruh waktuku habis untuk
    menjalin hubungan rahasia dengan sebutir
    virus agar ia mengenalkanku pada arus air
    senimu yang ternyata hanya memutar arahku
    ke hulu hasratmu. Tapi aku tak pernah hanyut
    hanya karena terseret lautan madu yang
    umpah dari kelaminmu. Aku putus asa dan
    berdoa agar jantungmu dipompa oleh asap
    candu hingga paru-paru dan pencernaanmu
    bisa kuajak tertawa. Karena setelah itu
    taringmu akan masuk melalui pori-poriku,
    mengelupas kulitku sampai lapis terdalam.
    Kau kunyah dagingku dan memuntahkan
    ampasnya ke dalam bau. Kau paksa aku
    berjalan di sepanjang ususmu yang beringas
    tanpa sehelai baju. Kau dorong sisa tubuhku
    menuju lubang penghabisan bersama gas yang
    senantiasa bersamaku, setelah aku mampu
    bersemedi ketika ginjalmu bekerja untuk
    mendengar doa-doa yang selama ini tak pernah
    kau kabulkan, dan untuk mengirim pengakuan
    ini kepada biji-biji yang kelak bernasib serupa,
    meskipun tak ada gunanya.

    2018


    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint