Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

NAPAK TILAS VIII

  • Sabtu, 23 Juni 2012
  • rani nuralam
  • Label: ,

  • Menyusuri Jejak Tarumanegara 
    Bersama Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya


    Pagi buta di hari Minggu biasanya saya sudah keluar rumah untuk bersepeda, tapi kali ini tujuan sama sekali berbeda. Sepagi itu saya hendak ke Selatan. Bertolak dari Stasiun Cawang Atas, pukul 06.30 WIB dengan KRL ekonomi, tujuannya Stasiun Bogor. Saya naik ke gerbong ketiga. Suasana dalam KRL tampak ramai, tapi tidak padat sebagaimana jam orang berangkat kerja pada hari produktif. Tanpa terasa satu jam pun telah berlalu dan kaki saya akhirnya menapak di kota hujan. Hari itu tanggal 10 Juni 2012.

    *

    Seorang teman mengajak saya ikut acara Napak Tilas Peninggalan Masa Lalu yang diselenggarakan Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya (http://www.facebook.com/group.php?gid=110546372300285). Komunitas ini bukan komunitas kemarin sore karena sesungguhnya acara semacam sudah terselenggara hingga tujuh kali, dan tujuan perjalanan ke delapan kali ini adalah menyusuri jejak Tarumanegara di Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Di sana terdapat Situs Kampung Muara dengan Prasasti Kebon Kopi I, Prasasti Pasir Muara, Prasasti Ciareteun, Situs Megalitik Kampung Muara dan Punden Pandu Dewanata yang akan kami lihat. Jarak antarlokasi sekitar 100 – 300 meter. Silih berganti kami menelisik perkampungan penduduk, melalui jalan setapak, jalan beraspal, dan menyisir tepian sungai Cianten dan Cisadane. Sungai itu lebar, coklat dan berdebur tenang sangat berbeda dengan kali Bekasi, dekat tempat tinggal saya, kecil, hitam dan bau. Dengan rute yang relatif ringan, bikin saya (dalam hati) bernyali adu stamina dengan anak – anak muda itu.

    Ada sekitar empat puluh orang yang terkumpul dan kami mendapat kehormatan dipandu Prof. Dr. Hasan Djafar, arkeolog dan pengajar senior dari Universitas Indonesia. Begitu beliau mulai memerikan sejarah para batu, saya sudah lupa tentang info bahwa bahasa Sunda dipergunakan sebagai bahasa pengantar dalam acara napak tilas yang diikuti teman saya sebelumnya. Karena secara sistematis dan antusias beliau menguraikan peninggalan prasejarah yang ada di hadapan kami dalam bahasa Indonesia.

    Mang Hasan


    (1)
    Prasasti Kebon Kopi I


    Titik pertemuan dan langkah pertama kami menuju situs – situs lain dimulai dari Lokasi Prasasti Kebon Kopi I atau yang disebut juga Prasasti Tapak Gajah. Prasasti ini ditemukan pertama kali oleh Jonathan Rigg, seorang tuan tanah berkebangsaan Inggris pada abad ke – 19. Tepatnya tahun 1860 ketika diadakan pembukaan hutan untuk perluasan perkebunan kopi. Pada prasasti ini terdapat sebaris tulisan yang diapit sepasang gambar telapak kaki gajah. Adapun tulisan hasil transliterasi menurut pembacaan J.Ph.Vogel, dengan ejaan yang telah disesuaikan berbunyi :

    jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

    kedua jejak telapak kaki ini adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata milik penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.


    Prasasti (prasasti) Kebon Kopi II ditemukan pada tahun 1918, di “Kebon Kopi”, di Pasir Muara, tidak jauh dari tempat penemuan Prasasti Kebon Kopi I (NBG 1918:91; Bosch, 1941:49). Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu dalam empat baris tulisan beraksara tipe 4 Palawa Akhir atau Pasca-Palawa (Later Pallava), dan berbahasa Malayu Kuna.  Isinya berkenaan dengan pemulihan kekuasaan Haji Sunda, dikeluarkan oleh Rakryan Juru Paŋambat pada tahun Śaka kawi haji pañca pasagi (= 854), yang bertepatan dengan tahun Masehi 932.

    Prasasti ini kini sudah tidak ada, bahkan ketika tahun 1941 F.D.K. Bosch menulis tentang prasasti ini, prasastinya sudah hilang. Satu-satunya dokumen yang masih ada adalah foto bernomor inventaris OD 6888 yang dibuat oleh Oudheidkundige Dienst, “Dinas Purbakala”, pada tahun 1923 (OV 1923, 1924:18). Selain F.D.K. Bosch, peneliti lain yang telah membicarakan prasasti ini di antaranya N.J. Krom (1931), Saleh Danasasmita (1984), dan Hasan Djafar (1991). Transliterasi Prasasti Kebon Kopi II ini sebagai berikut:

    Ini sabda kalanda rakryan juru panga
    mbat i kawihaji panca pasagi maesa
    ndeca barpulihkan haji sunda


    Ini batu peringatan yang dimaksudkan untuk
    memperingati perintah Rakryan, Juru
    Pangambat pada tahun Saka 854 untuk
    mengembalikan kekuasaan kepada raja Sunda.

    (2)
    Umpak Tiang


    Di halaman Prasasti Kebon Kopi I tergolek dua buah umpak batu berbentuk empat persegi, sisi-sisinya berukuran sekitar 40 cm. Umpak-umpak batu ini, pada bagian sisi atasnya terdapat lubang segi empat berukuran sekitar 30 x 30 cm dan dalamya sekitar 5 cm, bekas tempat berdirinya tiang kayu. Berdasarkan ukuran umpak batu dan lubang bekas tiang kayunya yang cukup besar, diduga bangunan berumpak itu berukuran cukup besar pula. Bahan batu kapur untuk pembuatan umpak tiang ini mungkin diambil dari perbukitan kapur (Gunung Cibodas) yang terletak sekitar 2,5 km di sebelah selatan situs Kampung Muara.


    (3)
    Menhir dan Batu Dakon


    Menhir dan batu dakon dari situs Kampung Muara terdapat dalam satu kumpulan, terdiri dari tiga buah menhir dan dua buah batu dakon. Kelima peninggalan tersebut terbuat dari bahan batu kali (batu andesit), bentuknya tidak beraturan. Masing-masing berukuran sebagai berikut:
    (1) Menhir I: tinggi dari permukaan tanah 80
         cm, ketebalan (lebar) antara 35-45 cm.
    (2) Menhir II: tinggi dari permukaan tanah 40
          cm, ketebalan sekitar 24 cm.
    (3) Menhir III, tinggi dari permukaan tanah 40
         cm, dan mempunyai ketebalan antara
         35-45 cm.
    (4) Batu Dakon I: tinggi dari permukaan tanah
         antara 10-15 cm, dan karena bentuknya
         hampir bundar garis tengah antara
         70-80 cm.
    (5) Batu Dakon II: tinggi dari permukaan tanah sekitar 10 cm, sedangkan panjang dan lebarnya sekitar 80-90 cm.


    (4)
    Prasasti Pasir Muara


    Dahulu Prasasti Muara Cianten ini dikenal sebagai Prasasti Pasir Muara. Terletak di tepi Cisadane, di Muara Cianten yang termasuk lingkungan Kampung Muara. Prasastinya dipahatkan pada sebuah batu besar yang hampir berbentuk segi empat berukuran 2,7 x 1,4 x 1,4 m. Ditulis dengan “aksara” ikal atau “aksara” śangkha, seperti yang dipergunakan pada Prasasti Ciaruteun B, dan Prasasti Pasir Awi di daerah Jonggol. Prasasti Muara Cianten sampai sekarang masih belum dapat dibaca. Sama halnya dengan prasasti Kebon Kopi I dan Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten pun untuk pertama kalinya dilaporkan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864, dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 1914. Pelaporan Hoepermans ini kemudian disusul oleh beberapa pembahasan yang dimukakan oleh para peneliti yang lain, di antaranya J.F.G. Brumund (1868), P.J. Veth (1878), R.D.M. Verbeek (1889, 1891), C.M. Pleyte (1905/1906), G.P. Rouffaer (1909), dan N.J. Krom (1915).


    (5)
    Punden Pandu Dewanata


    Arca megalitik dari situs Kampung Muara jumlahnya hanya tiga buah dan sudah tidak utuh lagi. Kini tersimpan di halaman belakang sebuah rumah penduduk, bersama kumpulan sejumlah batu kali yang terletak dekat sebuah kuburan tua. Arca-arca batu tersebut sudah tidak berkepala dan sudah sangat aus, sehingga tidak dapat dikenali 11 identitasnya. Arca pertama dalam sikap duduk berjongkok dengan lutut ke atas. Arca kedua dalam sikap duduk bersila dengan kedua tangan dilipat di depan (sidakĕp). Arca ketiga dalam sikap duduk bersila dengan badan membungkuk ke depan, kedua lengannya sudah hilang. Uraian mengenai ketiga arca tersebut pertama kali dikemukakan oleh Pendeta J.F.G. Brumund (1868). Dalam uraiannya itu Brumund menyebutkan ketiga arca tersebut bertipe Pajajaran, dan sudah tidak berkepala.



    (6)
    Prasasti Ciaruteun


    Prasasti Ciaruteun dipahatkan pada sebuah batu besar yang bentuknya hampir bulat, berukuran sekitar 2 x 1,5 x 1,5 m. Prasasti ini semula ditemukan di tepi Ciaruteun tidak jauh dari muaranya yang terletak di Cisadane. Penemuan prasasti ini pertama kali dilaporkan dalam rapat pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1863. Pada tahun 1893 karena terjadi banjir besar, batu prasasti tersebut hanyut beberapa meter ke hilir dan bagian yang bertulisan terletak di bawah. Baru pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan kembali ke tempatnya semula. Karena Prasasti Ciaruteun ini sering terendam dan dikawatirkan akan mengalami kerusakan oleh kikisan air sungai, pada bulan Juli 1981 batu prasasti ini dipindahkan ke atas, ke tempatnya yang sekarang di Kampung Muara. Usaha pemindahan ini dilakukan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

    Prasasti Ciaruteun sebenarnya terdiri dari dua buah prasasti, yaitu: Prasasti Ciaruteun A, dan Prasasti Ciaruteun B. Prasasti Ciaruteun A terdiri dari empat baris tulisan Palawa dan berbahasa Sanskerta, yang dituliskan dalam bentuk śloka dengan metrum anūsṭubh. Prasasti Ciaruteun B terdiri dari satu baris tulisan yang dipahatkan di bagian atas prasasti Ciaruteun A. Prasasti Ciaruteun B ini ditulis dengan aksara yang berbeda, yaitu huruf yang oleh sebagian peneliti disebut “aksara ikal” (krulletter) atau “aksara śangkha” (conch shell script). Selain kedua prasasti tersebut, pada batu Prasasti Ciaruteun ini terdapat pula pahatan sepasang gambar telapak kaki dan sepasang gambar yang menyerupai “laba-laba”. Berdasarkan bentuk aksara Palawa yang digunakan, Prasasti Ciaruteun ini diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5, sekitar tahun 450.

    Prasasti Ciaruteun A, berbunyi sebagai berikut:
    Vikkrantasyavanipat eh
    shrimatah purnnavarmmanah
    tarumanagararendrasya
    vishnoriva padadvayam

    kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini milik raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara, raja yang gagah berani di dunia.


    Penutup

    Urutan situs berdasarkan rute yang ditempuh. Lokasi Prasasti Ciaruteun menjadi akhir dari napak tilas kami. Selain Prasasti Ciaruteun, temuan batu – batu prasejarah yang kami tinjau merupakan in situ, berada di tempatnya semula. Pada dasarnya info tentang situs itu diambil dari karangan Prof. Dr. Hasan Djafar dalam "Peninggalan Situs Arkeologi Kampung Muara," dalam Grup Facebook Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya. Apa yang telah dituturkan Mang Hasan, panggilan akrab anggota komunitas untuk Prof. Dr. Hasan Djafar, di lapangan lebih dari sekedar pendeskripsian situs sebagaimana terperi di atas. Kami mendapat gambaran singkat tentang mitologi, keadaan sosial dan sistem religi pada masa prasejarah, termasuk sekilas tentang sejarah kerajaan baik Tarumanegara, Sriwijaya dan Pasundan. Sebagai orang awam saya turut prihatin mengetahui salah satu khazanah peninggalan masa lalu di Situs Kampung Muara lenyap (Prasasti Kebon Kopi 2).

    Terlepas dari acara yang mereka selenggarakan, sudah lama saya menyimpan visi atas ‘perjalanan ke’ dan ‘tujuan berada di' kota Bogor. Jalan – jalan hari itu jauh dari bayangan saya karena hasil dan manfaatnya untuk saya pribadi ternyata melebihi harapan. Kendati begitu, hari itu bukannya tanpa cela. Saya pulang dengan membawa oleh – oleh talas tua yang tidak gembur di mulut sehabis dikukus! Tapi tak mengapalah! Justru hal seperti itu yang membuat hari saya saat itu tetap menjadi lengkap, penuh berkah dan  pe – er – fect.

    Dan bila ada anggota komunitas yang terpancing hendak belajar epigraf gara – gara ikutan napak tilas ini, saya sendiri berkeinginan membaca buku – buku sejarah di Indonesia kembali. Buku sejarah Indonesia yang terakhir saya baca judulnya Perang Pasifik, karya P.K Ojong, tapi... ehem! itu sudah setahunan yang lalu; dan salah satu buku favorit saya, hanya  mengandung banyak kata ‘sejarah,’ tetapi tidak ada hubungannya dengan sejarah Indonesia. Buku itu berjudul The Historian, Elizabeth Kostova. Tapi tiap paragrafnya terasa bermakna, bahkan pada salah satu bagian yang patut direnungkan berbunyi, "... sejarah akan selalu ada apa adanya, dan kita tidak akan pernah mengubahnya. Namun, sejarah dapat dijadikan alat belajar, agar manusia bercermin dan tidak mengulangi pengalaman buruk di masa lalu untuk yang kedua kalinya." 




    "Yanuarita Puji Hastuti, Terima kasih sudah mengajak saya ikut napak tilas bareng Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya, Bogor.”



    Referensi :

    Djafar, Hasan, Dr. “Peninggalan Arkeologi Situs Kampung Muara,” dalam Grup Facebook Napak Tilas Peninggalan Budaya.

    Komunitas Napaktilas Peninggalan Budaya. “Brosur Menyusuri Jejak Tarumanegara.” 2012.


    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint