Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Lorong

  • Senin, 17 Desember 2012
  • rani nuralam
  • Label: ,



  • Pernahkah kamu berangkat ke arah gelap?
    Tempat segala yang bernama lelah hinggap?

    Berdiri saja dengan tenang
    Aku akan mengajakmu menyentuhi lorong-lorong yang tak kaukenal, cuma dengan matamu
    Dengan hatimu. Dengan napasmu yang tenang dan kauatur tarikan dan hembusannya
    satu demi satu
    Dengan degup jantungmu yang ritmik, dan sedikit kaubesarkan suaranya
    Kaudengarkan suaranya
    Kaubesarkan suaranya
    Dan kaudengarkan suaranya

    Berdiri saja dengan tenang
    Pada sebuah hutan yang gelisah
    Bebauan daun-daunnya merambati wajahmu dengan jelas
    Menebarkan aroma sejuk yang mengaliri bagian dalam lehermu,
    paru-parumu,
    bahumu,
    kedua tangan dan telapak tanganmu,
    perutmu,
    menjalari betis hingga setiap sisi telapak kakimu
    dan sekujur tubuhmu yang tetap berdiri tenang
    dalam bayang-bayang

    Tak sedikit pun kau rela beranjak
    Karena kau semakin ingin memahaminya dengan menutup matamu rapat-rapat
    Sehingga keindahan ini semakin sedemikian jelas kaulihat
    dengan tarikan napasmu
    dan degup jantungmu

    Berdirilah dengan tenang, dan beri dunia yang kaukenal ini warna
    Beri ia suara, seperti desau angin atau bunyi-bunyi malam yang hening
    Semakin membuat kelopak matamu terkunci rapat, dan sedikit bergerak.
    (Biarkan saja dan tetap berdirilah di sana, dengan tenang)

    Lihatlah.
    Persis di depanmu ada lorong yang gelap,
    Lorong di antara bongkahan batu cadas yang keras
    Batu dengan lumut hutan perawan yang basah
    Di mana aku ingin mengajakmu ke sana

    Melangkahlah dengan pelan, masuki keheningannya dengan sabar.
    Dan sedikit demi sedikit kautinggalkan cahaya hutan yang remang.

    Pandanganmu mulai mengabur, sedikit masih seperti ada saputan putih yang pudar,
    lalu gelap dan sunyi.
    Sunyi dan gelap.
    Sesunyi desau dedaunan yang semakin jauh.

    Kamu hanya bisa melihat dengan kaki yang telanjang
    Merambati tanah dengan sedemikian hati-hati.
    Tanah yang lembut dan basah, pada lorong yang semakin jauh.
    Dan gelap semakin ada pada di antara dua kelopak matamu
    Lalu kedua kelopak matamu semakin berat menekan ke bawah,
    dan kau pun tenggelam dalam ketenangan

    Kini, aku ingin mengajakmu berjalan pada sepuluh langkah yang kaukenal.
    Dan pada langkah kesepuluh, kau akan menuju cahaya di sebuah mulut lorong.

    Langkah satu, berjalanlah dengan senyap.
    Langkah dua dan tiga, matamu mengenali warna lorong yang gelap.
    Kakimu menyentuhi detail tanah lembut yang basah

    Langkah empat, kau semakin jauh, dan matamu seribu kali lebih teduh
    Langkah lima, enam, tujuh, kau meneliti tarikan dan hembusan napasmu yang tenang
    Degup jantung pun ritmik terdengar dengan gerak yang teratur
    Langkah delapan kau mulai melihat satu titik cahaya di depan, dan napasmu semakin tenang
    Langkah sembilan, kau semakin mendekati cahaya yang kian membesar, membentuk spektrum yang memasuki lorong di mana kau berada.

    Matamu mulai mengenal dinding sekelilingnya. Kau memberi warna, kau memberi rasa, dan kau mulai memahami, bahwa saat ini kau semakin mendekati mulut lorong itu.

    Langkah sepuluh, kau kini persis berada di mulut lorong yang terang.
    Di luar, cahaya kabut hutan yang damai, menenggelamkanmu dalam kesempurnaan hidup.
    Kau hirup energinya, memasuki sel-sel tubuhmu, menebarkan kesehatan yang merambat dari kepala, wajah, leher, dada, tangan, perut, betis dan telapak kakimu.

    Dan bersamaan dengan itu, kamu memandang hidup dengan semangat kebahagiaan yang sempurna
    Hidup adalah cahaya kabut yang damai, adalah detak jantung yang sehat dan teratur, adalah tarikan napas yang segar dan lepas, adalah masa depan yang cerah
    adalah tubuh yang sehat
    adalah impian indah yang menjadi ada

    Hiruplah cahaya kabut itu, dan kau menghirup semangat hidup yang menjalari setiap jalur napasmu.
    Lalu diam. Dan nikmati saja ekstase diri, dalam senyap yang membuatmu malas untuk bergerak
    Malas bergerak, dalam sunyi dan senyap.
    Dalam tidur yang lelap

    (Lalu pada tiga puluh detak jantungmu sejak ini waktu, kau pun terjaga pelan.
    Pada tiga puluh detak jantungmu sejak ini waktu, kau terbangun dengan tenang.
    Maka berhitunglah hingga tiga puluh detak jantungmu, sejak ini waktu...)


    Asep Herna, 17 November 2011
    (c) Copyright 2010 lampu bunga. Blogger template by Bloggermint